Berita

Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. (Foto: Istimewa)

Opini Pakar

Dua Tahun Prabowo-Gibran:

Ekonomi RI Mulai Bergerak dengan Arah Lebih Berdaulat

RABU, 21 OKTOBER 2026 | 06:40 WIB

DUA tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tidak hanya berusaha tumbuh, tetapi mulai menata ulang sumber pertumbuhannya. 

Di tengah perlambatan ekonomi global, ketegangan geopolitik, serta tekanan perdagangan internasional, Indonesia tetap menjaga stabilitas sekaligus memperkuat fondasi menuju kemandirian ekonomi.

Ukuran paling dasar dari keberhasilan itu terlihat pada pertumbuhan ekonomi. Tahun 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen, lebih tinggi dibanding pertumbuhan 2024 sebesar 5,03 persen. 


Memasuki 2026, momentumnya berlanjut: pertumbuhan mencapai 5,61 persen pada triwulan I dan 5,29 persen pada triwulan II. Angka ini menunjukkan bahwa konsumsi domestik, investasi, dan belanja pemerintah tetap bekerja sebagai mesin ekonomi nasional. (bps.go.id, bps.go.id, bps.go.id )

Capaian tersebut penting karena pertumbuhan ekonomi bukan sekadar angka statistik. Pertumbuhan berarti aktivitas usaha bergerak, lapangan kerja tercipta, daya beli terjaga, dan kepercayaan terhadap masa depan ekonomi tetap hidup. 

Pemerintahan Prabowo-Gibran menghadapi tuntutan besar: menjaga ekonomi tetap tumbuh tanpa mengorbankan stabilitas harga, disiplin fiskal, dan ketahanan eksternal. Sejauh ini, arah kebijakannya menunjukkan keseimbangan yang cukup baik.

Di bidang investasi, pemerintah berhasil menjaga Indonesia tetap menjadi tujuan yang menarik. Pada semester pertama 2026, realisasi investasi mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, serta menyerap sekitar 1,45 juta tenaga kerja langsung. 

Angka ini telah memenuhi 49,5 persen target investasi nasional tahun 2026. Ini adalah sinyal penting bahwa dunia usaha masih percaya pada prospek Indonesia. (bkpm.go.id)

Yang lebih penting, investasi mulai diarahkan bukan hanya untuk mengejar nilai nominal, melainkan untuk memperkuat struktur ekonomi melalui hilirisasi. 

Investasi hilirisasi pada semester pertama 2026 mencapai Rp300,1 triliun, atau hampir 30 persen dari total investasi nasional. Hilirisasi mineral -- mulai dari nikel, bauksit, tembaga, hingga besi baja -- membuka jalan agar Indonesia tidak terus-menerus menjadi eksportir bahan mentah. (bkpm.go.id)

Inilah perubahan cara pandang yang patut diapresiasi. Negara yang kaya sumber daya tidak boleh puas hanya menjual isi perut buminya. 

Nilai tambah harus tinggal di dalam negeri, industri harus tumbuh, teknologi harus masuk, dan tenaga kerja Indonesia harus memperoleh manfaat yang lebih besar. Hilirisasi bukan kebijakan jangka pendek; ia adalah jalan panjang untuk membangun kedaulatan ekonomi.

Di sisi perdagangan, kinerja ekspor juga tetap positif. Nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 193,64 miliar dolar AS, meningkat 4,74 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. 

Di tengah dinamika pasar global yang tidak mudah, capaian ini mencerminkan daya tahan sektor produksi nasional dan kemampuan pelaku usaha Indonesia mencari ruang di pasar internasional. (bps.go.id)

Stabilitas harga pun masih terjaga. Inflasi September 2026 tercatat 3,28 persen secara tahunan, masih berada dalam sasaran inflasi nasional 2,5±1 persen. Pengendalian inflasi memang tidak boleh membuat pemerintah berpuas diri, terutama terkait harga pangan dan biaya hidup masyarakat. 

Namun, stabilitas ini menunjukkan koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Bank Indonesia tetap bekerja di tengah tekanan eksternal. (bps.go.id, bi.go.id)

Dua tahun pertama pemerintahan Prabowo-Gibran pada akhirnya harus dibaca sebagai fase peletakan fondasi. Belum semua persoalan selesai. Produktivitas, kualitas pekerjaan, pemerataan investasi, biaya logistik, kepastian hukum, serta penguatan UMKM masih membutuhkan perhatian serius. 

Tetapi arah besarnya telah terlihat: pertumbuhan harus lebih berkualitas, investasi harus menciptakan pekerjaan, sumber daya alam harus memberi nilai tambah, dan negara harus hadir menjaga kepastian bagi pelaku usaha.

Ekonomi yang kuat bukan ekonomi yang hanya tumbuh di laporan. Ekonomi yang kuat adalah ekonomi yang memberi rasa aman kepada rakyat, kepastian kepada pengusaha, pekerjaan kepada generasi muda, dan kepercayaan kepada dunia bahwa Indonesia tidak sekadar pasar besar, tetapi kekuatan besar.

Dua tahun pertama telah memberi modal yang cukup. Tiga tahun berikutnya harus digunakan untuk memastikan bahwa fondasi itu benar-benar menjelma menjadi kemakmuran yang dirasakan lebih luas oleh seluruh rakyat Indonesia.

Bambang Soesatyo
Anggota Wantimpres RI/Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia/Anggota DPR

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Buya Anwar: Kasus Korupsi Bisa Picu Krisis Kepercayaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 06:18

Direktur Keuangan dan Strategi Bank Jakarta Basaria Martha Raih Penghargaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 06:02

Ini Jadwal Lengkap Rencana Perjalanan Haji 2027

Rabu, 21 Oktober 2026 | 05:45

Seragam Tak Mengubah Hukum

Rabu, 21 Oktober 2026 | 05:34

Cek Kesehatan Gratis Kini Lebih Mudah Diakses

Rabu, 21 Oktober 2026 | 05:19

Polda Banten: KMP Batumandi Angkut 420 Penumpang dan 89 Kendaraan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 04:59

Pembangunan KNMP Sima-Wabu Libatkan Warga Lokal

Rabu, 21 Oktober 2026 | 04:46

Korban Indosurya Berjuang Mencari Keadilan sejak 2020

Rabu, 21 Oktober 2026 | 04:13

Pramono Dorong Film Nasional Tembus Pasar ASEAN

Rabu, 21 Oktober 2026 | 04:02

Galeri 24 Sabet Top 2 Kategori Retail dan Top 28 BUMN

Rabu, 21 Oktober 2026 | 03:32

Selengkapnya