Berita

Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Industri

Didik Rachbini: Industri Harus Jadi Lokomotif Pertumbuhan

SELASA, 20 OKTOBER 2026 | 16:11 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menegaskan bahwa industrialisasi harus kembali menjadi strategi utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang bertahan di kisaran 5 persen belum memadai untuk membawa Indonesia mencapai sasaran pertumbuhan 7 hingga 8 persen.

Didik menyoroti perlunya penguatan sektor industri melalui investasi produktif, ekspor manufaktur, peningkatan nilai tambah, dan penguasaan teknologi.


Ia mencatat, perekonomian Indonesia pada triwulan II-2026 tumbuh 5,29 persen. Meski angka tersebut patut disyukuri, pertumbuhan itu dinilai belum cukup untuk mencapai target yang lebih tinggi.

“Perekonomian Indonesia masih menghadapi tantangan untuk keluar dari pertumbuhan yang bertahan di sekitar 5 persen. Pada triwulan II-2026 ekonomi tumbuh 5,29 persen. Angka ini patut disyukuri, tetapi belum cukup untuk membawa kita menuju sasaran 7-8 persen,” ujar Didik dalam keterangannya, Selasa 20 Oktober 2026.

Didik mengingatkan pengalaman deregulasi dan debirokratisasi pada era 1980-an, menunjukkan pentingnya pengurangan hambatan usaha, pembukaan ruang investasi, peningkatan ekspor, serta penguatan sektor industri.

Dia memandang, kebijakan ekonomi tidak bisa dijalankan seperti biasa jika Indonesia ingin meningkatkan laju pertumbuhan. Sektor industri harus tumbuh lebih kuat dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional.

“Karena itu, kebijakan ekonomi tidak dapat berjalan secara business as usual. Industrialisasi harus kembali ditempatkan sebagai strategi utama melalui investasi produktif, ekspor manufaktur, peningkatan nilai tambah, penguasaan teknologi, dan keterhubungan dengan rantai produksi global,” tegasnya.

Didik juga menekankan pentingnya kualitas investasi. Menurutnya, investasi yang dibutuhkan bukan sekadar berjumlah besar, melainkan mampu memperkuat basis industri, menciptakan pekerjaan produktif, mendorong transfer teknologi, dan meningkatkan kapasitas ekspor nasional.

“Investasi yang kita butuhkan bukan semata-mata investasi dalam jumlah besar, melainkan investasi berkualitas: yang memperkuat basis industri, menciptakan pekerjaan produktif, mendorong transfer teknologi, dan meningkatkan kemampuan ekspor nasional," tuturnya.

Ia menilai, penguatan industrialisasi perlu disertai reformasi struktural agar dunia usaha memiliki ruang yang lebih besar untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing di pasar global.

"Penghapusan hambatan usaha menjadi prasyarat agar industri dapat kembali berfungsi sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi Indonesia," demikian pendiri INDEF ini menambahkan.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Dilema Kelas Menengah dan Bawah di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:31

Lewat Surat Terbuka, Forum Guru Besar Indonesia Desak Gibran Mundur dari Wapres!

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:20

Prabowo Berbelasungkawa atas Wafatnya Jenderal TNI Purn Subagyo

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:17

Harga Emas Antam Ambruk, Termurah Dijual Rp1,33 Juta

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:13

Sempat Dirumorkan Meninggal, Kim Jong-un Muncul di Pameran Mode Korut

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:03

Muslim Arbi Apresiasi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Swasembada Beras Jadi Prestasi

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:59

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Rupiah Bergerak ke Rp18.023 per Dolar AS

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:49

Komisi II DPR Desak HGU Perusahaan Pembakar Hutan Dicabut

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:44

BEI Pastikan Saham HSC Tetap Diperdagangkan, Hanya Dicoret dari Hitungan IHSG

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:40

IHSG Dibuka Merah, Dua Menit Perdagangan Langsung Lompat 1,8 Persen

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:22

Selengkapnya