Menkeu Suahasil Nazara (Foto: RMOL/Hani Fatunnisa)
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan kondisi perekonomian Indonesia masih kokoh di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Hal tersebut disampaikan Suahasil kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas yang membahas perekonomian di Istana Negara, Senin malam, 19 Oktober 2026.
Dia mengingatkan bahwa dinamika global masih perlu diwaspadai, terutama karena sejumlah kekuatan ekonomi utama dunia tengah menghadapi tekanan.
Suahasil mencontohkan inflasi Amerika Serikat (AS) yang mencapai 3,7 persen secara tahunan pada September 2026, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 3,4 persen.
Sementara itu, perekonomian kawasan Eropa juga masih menghadapi gejolak yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global.
Meski demikian, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi pada semester I 2026 yang mencapai 5,5 persen serta inflasi September 2026 yang terkendali di level 3,28 persen secara tahunan.
"Kami melaporkan kepada Bapak Presiden kondisi ekonomi makro masih sangat resilient, kondisi transaksi di masyarakat juga masih sangat resilient. Jadi, kita akan terus menjaga stabilitas ke depan dan tetap mendorong pertumbuhan,” ujar Suahasil.
Untuk mempertahankan kinerja tersebut, pemerintah akan mengoptimalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai instrumen untuk mendorong pertumbuhan sekaligus melindungi masyarakat dari dampak gejolak eksternal.
Pada kuartal IV 2026, belanja pemerintah diperkirakan mencapai sekitar Rp1.300 triliun, naik dari Rp1.200 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Anggaran tersebut diarahkan untuk menggerakkan aktivitas ekonomi dan memperkuat perlindungan sosial, termasuk melalui kelanjutan bantuan pangan.
"Dengan belanja pemerintah yang lebih tinggi berarti dorongan dari belanja pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi juga akan ada efek positif. Ini yang kita cari sehingga APBN itu tidak hanya menumbuhkan ekonomi, tetapi juga melindungi masyarakat yang dilaksanakan dengan cara yang efisien sehingga tetap kredibel," jelasnya.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyatakan perekonomian Indonesia masih stabil, tercermin dari inflasi inti September 2026 yang sebesar 2,84 persen secara tahunan.
Namun, tekanan eksternal berupa inflasi tinggi dan prospek suku bunga global yang bertahan tinggi lebih lama (higher for longer) masih menjadi tantangan bagi stabilitas rupiah.
“Intinya, Bank Indonesia akan selalu tetap berjaga di pasar. Kami diminta juga oleh Bapak Presiden untuk terus melihat dan mengupayakan kebijakan-kebijakan yang kami miliki, apakah itu bentuknya intervensi di spot, DNDF dan NDF ataupun juga dalam bentuk insentif biaya hedging,” tegasnya.