Berita

Momen Pastor Patricio Alfredo Sanchez Molinari tertimpa salib besar saat sedang memimpin ibadah di gereja di Guayaquil, Ekuador (Foto: media sosial X)

Publika

Mengenal Pastor Sanchez yang Meninggal Tertimpa Kayu Salib saat Khotbah

SELASA, 20 OKTOBER 2026 | 04:16 WIB

ADA kematian membuat orang menangis. Ada pula kematian membuat orang terdiam karena ironinya begitu kejam. Pastor Patricio Alfredo Sánchez Molinari meninggal ketika sedang memimpin misa. 

Ia bukan sedang berperang, bukan sedang menyelamatkan orang dari kebakaran. Ia sedang menjalankan tugasnya sebagai imam. Namun, maut justru datang melalui sebuah salib kayu besar memuat patung Yesus.

Mari kita mengenal siapa sebenarnya Pastor Sánchez.


Ia lahir pada 1973 di Cuenca, Ekuador. Usianya sekitar 52–53 tahun ketika meninggal. Ia merupakan anggota Kongregasi Sang Penebus Mahakudus. 

Ia dikenal sebagai Redemptoris, sebuah kongregasi Katolik didirikan Santo Alfonsus Maria de Liguori di Italia pada 1732.

Sánchez telah menjalani kehidupan religius selama lebih dari dua dekade. Pada 16 Oktober 2026, ia memperingati 15 tahun tahbisan imamatnya. 

Nuan bayangkan, sehari sebelumnya orang-orang masih memberikan ucapan selamat atas perjalanan pengabdiannya. Sehari kemudian, ucapan itu berubah menjadi belasungkawa. Kehidupan memang penuh misteri.

Dalam perjalanan pelayanannya, Sánchez pernah menjadi pastor Paroki San Lorenzo di Vinces, Provinsi Los Ríos, selama beberapa tahun. 

Setelah itu, ia melayani umat di Paroki Nuestra Señora del Perpetuo Socorro, Guayaquil. Di sana, ia bukan sekadar berdiri di depan altar untuk memimpin misa. Kesaksian umat menyebutnya sebagai sosok peduli terhadap masyarakat. 

Ia ikut memperjuangkan agar rumah-rumah penampungan di seberang gereja tidak dibongkar.

Artinya, pengabdiannya bukan cuma urusan mimbar dan doa. Ia juga hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan nyata. 

Seorang pastor berusaha menjaga tempat berteduh orang lain, ternyata tak mampu menyelamatkan dirinya sendiri dari benda yang jatuh di gerejanya.

Tragedi itu terjadi pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Ketika Sánchez memimpin misa yang disiarkan langsung, salib kayu besar di dinding tiba-tiba terlepas. 

Tiang salib beserta patung Yesus jatuh dan menghantam bagian kepalanya. Kepanikan pecah. Terdengar teriakan, “¡Padre, padre... llamen una ambulancia!” Artinya, “Bapa, Bapa, panggil ambulans!”

Begitulah akhir pelayanan seorang imam telah mengabdikan 15 tahun hidupnya setelah tahbisan. Bukan dengan homili penutup, bukan dengan berkat terakhir, melainkan tragedi yang membuat umat terpukul.

Ironinya sulit diabaikan. Salib merupakan lambang pengorbanan dan keselamatan dalam iman Kristen. 

Namun, peristiwa ini juga mengingatkan, benda suci tetap membutuhkan pemasangan yang aman. Kesalehan tidak menggantikan baut, pemeriksaan konstruksi, atau pemeliharaan bangunan. Doa penting, tetapi keselamatan manusia juga harus dijaga.

Polisi setempat dilaporkan menilai kejadian tersebut sebagai kecelakaan dan belum membuka penyelidikan resmi. Karena itu, penyebab pasti terlepasnya salib dan tanggung jawab pemeliharaannya masih membutuhkan kejelasan.

Pada Minggu, 18 Oktober, umat dan para imam berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir. Peti jenazah diletakkan di depan altar. 

Uskup Auksilier John Kwamevi Cudjoe memimpin homili, sementara Uskup Auksilier Gerardo Nieves memimpin liturgi dan ritual pemakaman. Paroki menjadwalkan novena setiap pukul 19.00 mulai Senin, 19 Oktober.

Kini, Pastor Sánchez dikenang bukan hanya karena cara tragis ia meninggal, tetapi juga karena pelayanan dan kepeduliannya kepada umat.

Selamat jalan, Pastor Sánchez. Lima belas tahun pengabdianmu sebagai imam tak pantas diringkas hanya menjadi kisah tentang kayu jatuh. Di balik tragedi itu, ada manusia yang pernah menolong, melayani, dan menguatkan sesamanya.

Bagi kita masih hidup, ada satu pelajaran pahit, jangan sampai perhatian terhadap keselamatan baru muncul setelah lonceng duka berbunyi. 

Sebab, salib boleh menjadi lambang iman, tetapi keselamatan manusia tidak boleh digantungkan pada sepotong kayu semata.

Rosadi Jamani
Mantan wartawan

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Ketika Gerakan Sosial Baru Menggugat Tatanan Politik

Selasa, 20 Oktober 2026 | 00:15

Ada Demo Mahasiswa, Masyarakat Diimbau Hindari Kawasan Monas

Selasa, 20 Oktober 2026 | 00:00

Cegah Perpecahan, Bagusnya Gibran Mundur

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:38

Ada Indikasi Dendam Politik di Balik Wacana Pelengseran Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:24

Legislator PKB Serahkan Bantuan bagi Korban Kebakaran di Majalengka

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:01

Realisasi Investasi Hingga Kuartal III Sentuh Rp1.539 T

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:58

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Investasi Tembus Rp3.923 Triliun

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:58

Ferry Juliantono Terpilih Jadi Presiden Syarikat Islam

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:53

Masyarakat Adat Wanam Merauke Butuh Pelatihan Pertanian Berkelanjutan

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:45

BEM-KSI Gelar Silaturahmi ke PBNU dan Beri Apresiasi ke Gus Gudfan

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:29

Selengkapnya