Berita

Gubernur BI Destry Damayanti (Foto: RMOL/Hani Fatunnisa)

Pemerintahan

BI Waspadai Inflasi Pangan Tembus 5 Persen

SENIN, 19 OKTOBER 2026 | 21:39 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Bank Indonesia (BI) mewaspadai tekanan inflasi pangan yang menembus 5 persen pada September 2026.

Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan hal tersebut usai menghadiri rapat terbatas bidang ekonomi yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 19 Oktober 2026.

Destry menjelaskan, inflasi inti yang mencerminkan perkembangan tekanan harga dalam perekonomian masih terkendali di level 2,8 persen pada September 2026. 


Namun, inflasi pangan yang mencapai 5 persen menjadi perhatian yang perlu segera diantisipasi.

“Memang kami juga laporkan yang memang perlu menjadi perhatian adalah inflasi di pangan volatile food inflation, yang memang mencapai 5 persen,” ujar Destry.

Untuk meredam tekanan harga tersebut, BI akan memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pertanian agar inflasi pangan kembali berada dalam rentang sasaran yang telah ditetapkan.

“Nah ini tadi kami laporkan dan juga koordinasi nanti dengan Kementerian Pertanian bagaimana kita bisa menjaga untuk volatile food inflation agar masuk di dalam koridor BI 2,5 persen plus minus 1 persen,” jelasnya.

Selain menjaga stabilitas harga, BI juga terus mencermati pergerakan nilai tukar rupiah di tengah volatilitas pasar keuangan global. 

Kondisi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama (higher for longer) serta inflasi yang masih jauh di atas target di sejumlah negara turut menjadi tantangan bagi stabilitas rupiah.

“Intinya, Bank Indonesia akan selalu tetap berjaga di pasar. Kami juga diminta oleh Bapak Presiden untuk terus melihat upayakan kebijakan kebijakan yang kami miliki, apakah itu bentuknya intervensi, di spot, NDF, ataupun juga dalam bentuk insentif biaya (hedging) yang juga sudah kami berikan sejak akhir Juni yang lalu,” tegasnya.

BI juga melaporkan bahwa insentif biaya lindung nilai (hedging) yang diberikan sejak akhir Juni telah mendorong arus masuk dana sekitar 8 miliar hingga 9 miliar dolar AS melalui instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). 

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi BI untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

KPK Panggil VP PT Valbury Asia Futures di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:31

Karhutla Ancam Orangutan, Puluhan Satwa Dievakuasi

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:23

Kepala BPGMN hingga Menkopolkam Merapat ke Istana Jelang Ratas Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:22

Ancaman MSCI, Sudah Tepat OJK Sanksi Emiten Milik Prajogo Pangestu dan Franky Widjaja

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:20

Pemerintah Jangan Anggap Remeh Hasil Survei

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Kasus Dugaan Suap, KPK Panggil Pejabat Pemkab Lombok Barat dan Staf Hotel

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Roadmap IHT Dibutuhkan untuk Jamin Kepastian Usaha

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:05

Terancam Turun Kelas, BEI Temui MSCI Sore Ini

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:51

Kasus Suap Asuransi Perkapalan Pelni, KPK Panggil Petinggi Pialang Asuransi

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:45

Komisi III DPR Dukung Kapolri Dorong MUI Kaji Fatwa soal Vape

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:39

Selengkapnya