Berita

Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Politik

PDIP Sebut Dua Tahun Rezim Prabowo-Gibran Banyak yang Harus Dievaluasi

SENIN, 19 OKTOBER 2026 | 15:56 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

DPP PDIP menilai banyak hal yang perlu dievaluasi setelah dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. 

Mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga persoalan korupsi.

Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat mengatakan, evaluasi terhadap pemerintahan tidak boleh sekadar menyenangkan penguasa, tetapi harus didasarkan pada persoalan nyata yang terjadi di tengah masyarakat.


“Ya, tepat di hari esok itu dua tahun ya sejak dilantiknya Pak Prabowo-Gibran ya, tentu dalam dua tahun ini ada banyak hal yang perlu kita evaluasi. Banyak banget ya,” kata Djarot kepada wartawan di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Senin, 19 Oktober 2026.

Djarot pun menyoroti karhutla yang semakin meluas dan menimbulkan penderitaan bagi makhluk hidup di sejumlah wilayah, termasuk Sumatra, Kalimantan, hingga Papua.

Menurutnya, pemerintah masih terjebak pada penanganan kebakaran hutan tanpa mampu melakukan antisipasi secara optimal. Padahal, ancaman fenomena El Nino yang dahsyat telah diperkirakan sebelumnya.

“Jadi, hal yang sangat dasar bahwa kita selalu terjebak dan bukan mampu mengantisipasi ya persoalan kebakaran hutan padahal banyak kita mengatakan bahwa kita memasuki masa El Nino yang dahsyat,” ujarnya.

Selain karhutla, Djarot mengkritik tata kelola program MBG. Ia menilai pemberian makanan bergizi kepada masyarakat merupakan langkah positif dan sejalan dengan konstitusi. Namun, pelaksanaannya perlu dievaluasi secara mendasar.

“Kalau kita memberikan gizi kepada masyarakat kita, itu bagus dan itu sejalan dengan konstitusi,” ucapnya.

“Tetapi tata kelolanya ini yang perlu dievaluasi secara mendasar karena terkesan bahwa MBG ini tidak melalui kajian yang mendalam sehingga terjadi banyak penyimpangan dan sebagainya, dan terbukti kepala BPG itu kena kasus,” sambung Djarot.

Persoalan berikutnya yang disoroti adalah program Koperasi Desa Merah Putih. Djarot mempertanyakan kejelasan konsep dan unit usaha koperasi tersebut, terutama ketika diarahkan untuk menjalankan berbagai kegiatan yang dinilai tidak memiliki perencanaan matang.

Ia mencontohkan rencana menjadikan Koperasi Merah Putih sebagai toko serba ada, toko kelontong, hingga penyalur gaji aparatur sipil negara (ASN).

“Misalnya mendorong Koperasi Merah Putih sebagai toko serba ada, toko kelontong, sampai dengan menyalurkan gaji ASN. Hal seperti ini kan sebenarnya cari-cari proyek, artinya konsep tidak jelas padahal menghabiskan dana sampai triliunnya, ya,” tegasnya.

Djarot menilai program dengan anggaran besar seharusnya memiliki konsep yang jelas, terukur, dan sesuai kebutuhan masyarakat. Karena itu, ia meminta pemerintah melakukan evaluasi mendasar terhadap pelaksanaan Koperasi Merah Putih.

Di sisi lain, ia turut menyoroti persoalan pengangguran yang dinilai masih membutuhkan penanganan serius. Ia juga mengkritik maraknya kasus korupsi yang menyeret berbagai institusi.

“Termasuk satu lagi, tindak pidana korupsi. Hampir semua institusi terkena korupsi,” jelasnya.

Djarot menegaskan, berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa kondisi Indonesia belum sepenuhnya baik-baik saja setelah dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.

Lebih jauh, mantan Gubernur DKI Jakarta ini juga menyinggung gejolak pasar keuangan, termasuk anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang disebutnya telah melemah hingga menembus Rp18.000 per Dolar AS.

“Oleh sebab itu, menurut hemat saya, dua tahun ini kondisi kita sedang tidak baik-baik saja,” pungkasnya.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

KPK Panggil VP PT Valbury Asia Futures di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:31

Karhutla Ancam Orangutan, Puluhan Satwa Dievakuasi

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:23

Kepala BPGMN hingga Menkopolkam Merapat ke Istana Jelang Ratas Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:22

Ancaman MSCI, Sudah Tepat OJK Sanksi Emiten Milik Prajogo Pangestu dan Franky Widjaja

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:20

Pemerintah Jangan Anggap Remeh Hasil Survei

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Kasus Dugaan Suap, KPK Panggil Pejabat Pemkab Lombok Barat dan Staf Hotel

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Roadmap IHT Dibutuhkan untuk Jamin Kepastian Usaha

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:05

Terancam Turun Kelas, BEI Temui MSCI Sore Ini

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:51

Kasus Suap Asuransi Perkapalan Pelni, KPK Panggil Petinggi Pialang Asuransi

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:45

Komisi III DPR Dukung Kapolri Dorong MUI Kaji Fatwa soal Vape

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:39

Selengkapnya