Berita

Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (Foto: Istimewa)

Politik

Elektabilitas Prabowo Versi PPI dan SMRC Jomplang, Ini Penjelasan IPS

SENIN, 19 OKTOBER 2026 | 14:54 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Perbedaan tajam hasil survei Parameter Politik Indonesia (PPI) dan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) terkait elektabilitas Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan. 

Direktur Eksekutif Institute for Policy Studies (IPS), Tri Andika, menilai disparitas tersebut perlu dicermati dengan melihat perbedaan metodologi pengumpulan data yang digunakan masing-masing lembaga.

Dalam sepekan terakhir, PPI merilis hasil survei yang menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Prabowo mencapai 65,4 persen, dengan elektabilitas Presiden berada di angka 31,6 persen. 


Sementara itu, temuan SMRC justru menempatkan Dedi Mulyadi di posisi teratas dengan elektabilitas 35,5 persen, sedangkan Prabowo tercatat hanya 9,8 persen.

Tri Andika menilai tingginya kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo sebagaimana tergambar dalam survei PPI masih masuk akal. 

Terlebih, memasuki tahun kedua pemerintahan, sejumlah program yang menyentuh langsung masyarakat di daerah dinilai menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penilaian publik terhadap kinerja pemerintah.

"Di tengah gempuran opini publik, kepuasan terhadap kinerja Presiden Prabowo terbilang cukup tinggi dan masuk akal. Masyarakat di daerah merasakan langsung bantalan subsidi di tengah tekanan ekonomi global, mulai dari subsidi BBM Pertalite, Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, hingga program Sekolah Rakyat," kata Tri Andika dalam keterangan tertulisnya, Senin, 19 Oktober 2026.

Selain faktor program pemerintah, Tri menyoroti perbedaan teknik wawancara yang digunakan kedua lembaga survei. Menurutnya, survei dengan metode wawancara tatap muka seperti yang diterapkan PPI memiliki keunggulan dalam menggali jawaban responden secara langsung.

Sebaliknya, survei SMRC tercatat lebih banyak menggunakan wawancara melalui sambungan telepon, yakni terhadap 1.013 dari total 1.213 responden.

"Survei berbasis telepon memiliki karakter tersendiri, terutama terkait tingkat respons (response rate), profil demografi responden, hingga kedalaman jawaban. Karakter ini tentu tidak selalu sebanding dengan wawancara tatap muka secara langsung," paparnya.

Tri juga mempertanyakan klaim penurunan elektabilitas Prabowo yang cukup drastis dalam hasil survei SMRC. 

Berdasarkan data yang disorotnya, elektabilitas Presiden disebut merosot hampir 19 poin dalam kurun waktu sekitar empat bulan, dari 33,3 persen ke kisaran 14,5 persen. 

Menurut Tri, perubahan sebesar itu tidak lazim terjadi pada seorang presiden petahana tanpa adanya peristiwa luar biasa yang dapat menjelaskan pergeseran dukungan tersebut.

"Pergeseran elektoral sebesar itu membutuhkan penjelasan kausalitas yang kuat. Tidak cukup jika hanya diasosiasikan secara sederhana dengan fluktuasi kepuasan publik," kata dia.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

KPK Panggil VP PT Valbury Asia Futures di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:31

Karhutla Ancam Orangutan, Puluhan Satwa Dievakuasi

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:23

Kepala BPGMN hingga Menkopolkam Merapat ke Istana Jelang Ratas Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:22

Ancaman MSCI, Sudah Tepat OJK Sanksi Emiten Milik Prajogo Pangestu dan Franky Widjaja

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:20

Pemerintah Jangan Anggap Remeh Hasil Survei

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Kasus Dugaan Suap, KPK Panggil Pejabat Pemkab Lombok Barat dan Staf Hotel

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Roadmap IHT Dibutuhkan untuk Jamin Kepastian Usaha

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:05

Terancam Turun Kelas, BEI Temui MSCI Sore Ini

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:51

Kasus Suap Asuransi Perkapalan Pelni, KPK Panggil Petinggi Pialang Asuransi

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:45

Komisi III DPR Dukung Kapolri Dorong MUI Kaji Fatwa soal Vape

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:39

Selengkapnya