Berita

Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka. (Foto: Istimewa)

Politik

Koalisi Gemuk Prabowo-Gibran Berpotensi Retak Jelang 2029

SENIN, 19 OKTOBER 2026 | 10:18 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi ujian bagi konsolidasi politik di tengah besarnya koalisi pendukung pemerintah. 

Dukungan lintas partai dan masuknya sejumlah figur dari kubu sebelumnya dinilai memperkuat jalannya pemerintahan, sekaligus menghadirkan tantangan dalam menyatukan beragam kepentingan politik.

Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, menilai penataan kekuatan politik masih menjadi agenda utama pemerintahan Prabowo-Gibran. Sebab, agenda keberlanjutan yang diusung sejak Pilpres 2024 tidak serta-merta membentuk kekuatan politik yang mandiri.


“Prabowo membawa agenda keberlanjutan. Namun dalam praktik politik, keberlanjutan juga berarti merawat hubungan dengan kekuatan-kekuatan yang berperan pada periode sebelumnya. 

Dukungan Presiden ke-7 Joko Widodo dan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono memang menopang pemerintahan, tetapi tidak menghapus kebutuhan Prabowo untuk membangun kekuatan politik yang lebih solid dan mandiri, termasuk dengan membuka ruang komunikasi bersama Megawati maupun faksi-faksi lain dari Pilpres 2024,” ujar Arifki kepada wartawan di Jakarta, Senin 19 Oktober 2026.

Menurut Arifki, masuknya sejumlah figur dari kubu oposisi merupakan strategi akomodasi untuk meredam gejolak dan menjaga stabilitas. Namun, semakin besar koalisi yang dibangun, semakin kompleks pula kepentingan yang harus dikelola.

“Akomodasi adalah instrumen menjaga stabilitas. Namun, semakin gemuk koalisi yang dibangun, semakin besar pula tantangan untuk menyelaraskan kepentingan yang berbeda-beda,” ujarnya.

Arifki juga menyoroti keberadaan empat poros kekuatan politik di balik koalisi pemerintah, yakni Cikeas, Solo, Teuku Umar, dan Kartanegara. Keempat poros tersebut memiliki jaringan pengaruh dan orientasi politik yang tidak selalu sejalan.

Oleh karena itu, penyatuan kepentingan dinilai tidak cukup hanya melalui komunikasi rutin dan pembagian jabatan di pemerintahan. Koalisi besar tersebut harus mampu menjaga kesamaan arah kebijakan agar tidak sekadar tampak solid secara formal, sementara masing-masing kekuatan mulai menghitung peluang menuju Pilpres 2029.

“Secara formal, berbagai kekuatan bisa berada dalam satu pemerintahan. Namun, berada dalam satu koalisi tidak otomatis menyatukan seluruh kepentingan. Ada kepentingan jangka pendek dalam pemerintahan, tetapi ada juga kalkulasi jangka panjang terkait kepemimpinan nasional pada 2029,” jelas Arifki.

Ia memperkirakan perbedaan kepentingan akan semakin terlihat ketika pembicaraan mengenai Pemilu 2029 mulai mengemuka. Koalisi yang saat ini tampak kompak berpotensi menghadapi ujian ketika kalkulasi elektoral masing-masing partai dan kelompok politik semakin menguat.

“Pada akhirnya, posisi calon wakil presiden hanya tersedia untuk satu orang dalam satu pasangan calon. Di situlah kepentingan politik bisa saling berhadapan. Mereka yang hari ini bekerja sama belum tentu memiliki pilihan yang sama ketika menentukan konfigurasi kekuasaan berikutnya,” tegasnya.

Dua tahun pertama pemerintahan Prabowo-Gibran, lanjut Arifki, akan menjadi pembuktian apakah akomodasi politik mampu berkembang menjadi soliditas jangka panjang atau sekadar menjadi gencatan senjata yang menyimpan persaingan di bawah permukaan.

“Tantangan Prabowo adalah memastikan akomodasi tidak berhenti pada pembagian ruang kekuasaan, melainkan menghasilkan dukungan konsisten terhadap agenda pemerintahan. Keberhasilan konsolidasi yang sesungguhnya baru akan terlihat ketika kepentingan politik mulai berbeda arah menuju 2029,” pungkas Arifki.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Jokowi Dalangi Operasi Politik Pertahankan Wapres Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:14

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Pejabat BNPB juga Korupsi Pengadaan HT Penanganan Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:37

Status MSCI Bukan Tanda Kiamat

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:21

Penguatan Ekosistem Dagang RI Didorong Tembus 5 Besar Ekonomi Dunia

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:06

Mengenal Ahmad Luthfi Auditor BPK yang Minta Jatah Rp600 Juta

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:37

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia, Polri Sampaikan Duka Cita

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:17

MSCI Pertanyakan Pasar RI, BEI Harus Buktikan Pengawasan Bekerja

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:06

Fahira: Mimpi dan Cita-cita Tak Boleh Dibatasi Kondisi Ekonomi

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:35

Polisi Tembak Polisi di Markas Ditpolairud Pondok Cabe, Pelaku Ditahan

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:15

Selengkapnya