Berita

Presiden Prancis (Foto: Istana Kepresidenan Prancis)

Nusantara

Langkah Tegas Macron Redam Kericuhan Demo Biaya Hidup di Prancis

SENIN, 19 OKTOBER 2026 | 08:50 WIB | OLEH: ANANDA GABRIEL

Gelombang demonstrasi memprotes kenaikan biaya hidup di Prancis mendadak berubah menjadi situasi pelik setelah aksi unjuk rasa berujung pada kericuhan massal, perusakan fasilitas umum, hingga penjarahan di berbagai wilayah.

Menanggapi kekacauan yang digambarkan belum pernah terjadi sebelumnya dan tak terkendali ini, Presiden Prancis Emmanuel Macron langsung turun tangan memberikan arahan tegas.

Dalam pidatonya kepada bangsa di Istana Kepresidenan Elysee, Paris, Macron mengekspresikan keprihatinan mendalam atas peristiwa yang melanda negeri tersebut. Ia menegaskan bahwa tidak ada alasan apa pun yang dapat membenarkan aksi kekerasan maupun perusakan.


"Malam ini, kita semua merasakan kemarahan dan rasa malu," ujar presiden berusia 48 tahun itu. Ia juga menambahkan, "Melihat jalan-jalan di kota kita dijarah dan dirusak seperti ini sungguh tidak dapat diterima."

Guna meredam situasi dan mencegah kerusakan lebih luas, pemerintah mengambil langkah taktis dengan menggandeng para kepala daerah. "(Saya) mengambil keputusan dengan berkoordinasi bersama para wali kota untuk melindungi kota-kota, bangunan publik, dan tempat usaha kita," kata Macron. 

Pemerintah memastikan tidak ada ruang kompromi bagi para pelaku kerusuhan. "Mereka yang telah melakukan perusakan harus bertanggung jawab," tegasnya.

Akar Permasalahan dan Meluasnya Gerakan

Krisis sosial ini sejatinya bermula dari aksi protes pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) di Creteil, sebelah tenggara Paris, pada September 2026.

Para siswa memblokade akses sekolah untuk memprotes fasilitas yang rusak parah, minimnya tenaga pengajar, hingga kondisi ruang kelas yang tidak layak akibat gelombang panas maupun musim dingin.

Protes tersebut dengan cepat meluas dan menyedot perhatian berbagai elemen masyarakat—mulai dari mahasiswa, aktivis iklim, petani, hingga kelompok yang terinspirasi oleh gerakan rompi kuning (gilets jaunes)—yang turut menyuarakan kemarahan atas melonjaknya harga bahan pokok serta memburuknya sistem kesejahteraan sosial.

Dampak Kericuhan dan Evaluasi Aparat

Eskalasi unjuk rasa yang berujung amuk massa ini menimbulkan dampak yang luar biasa besar. Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat hampir 2.400 orang ditangkap di seluruh penjuru negeri.

Tak hanya itu, sekitar 1.000 petugas kepolisian dan gendarmerie mengalami luka-luka dalam bentrokan di jalanan, dengan tujuh di antaranya dilaporkan dalam kondisi serius.

Di tengah sorotan publik terhadap kesiapan aparat keamanan, Macron berjanji akan melakukan evaluasi secara transparan dan menuntut jawaban yang jelas dari Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez guna memperbaiki strategi intelijen serta langkah antisipasi ke depan.

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya