Berita

Ketua Badan Anggaran DPR, Said Abdullah (Foto: Istimewa)

Bursa

Said Abdullah Pertanyakan Sikap MSCI yang Bikin IHSG Ambruk

MINGGU, 18 OKTOBER 2026 | 15:05 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Ketua Badan Anggaran DPR, Said Abdullah, mempertanyakan sikap Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dinilai memicu gejolak di pasar modal Indonesia. 

Menurutnya, evaluasi terhadap tata kelola Bursa Efek Indonesia (BEI) memang diperlukan, tetapi kebijakan MSCI semestinya turut mempertimbangkan berbagai upaya perbaikan yang telah dilakukan otoritas pasar modal.

Kritik tersebut disampaikan menyusul anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 11,57 persen pada perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026. Sejumlah saham berkapitalisasi besar (big cap) dan saham unggulan (blue chip) ikut tertekan hingga 14 persen, bahkan mendekati 15 persen.


Kondisi ini terjadi setelah MSCI menempatkan pasar saham Indonesia dalam kategori standalone.

“Yang pasti MSCI bukan kelembagaan agama, tempat kebenaran esensial melekat, dan para pengurus MSCI bukan nabi, yang memiliki otoritas tunggal, dan paling sempurna. Karena itu, kita juga boleh kritis terhadap mereka,” kata Said dalam keterangannya, Minggu, 18 Oktober 2026.

Menurut Said, otoritas pasar modal Indonesia telah menjalankan sejumlah rekomendasi perbaikan secara bertahap. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah meningkatkan ketentuan free float secara berjenjang berdasarkan kapitalisasi pasar menjadi 15, 20, dan 25 persen, serta menjatuhkan ratusan sanksi kepada pelaku pasar. 

BEI, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan OJK juga disebut aktif membangun komunikasi dengan MSCI. Meski mengakui masih terdapat persoalan transparansi kepemilikan saham dan praktik pengaturan harga, Said menyayangkan langkah pembenahan tersebut seolah tidak mendapat apresiasi dari MSCI.

Said kemudian membandingkan sikap MSCI dengan FTSE Russell yang mempertahankan Indonesia dalam kelompok Secondary Emerging Market bersama 13 negara lain, termasuk Tiongkok, India, Filipina, Vietnam, dan Arab Saudi. 

Keputusan itu, menurutnya mempertimbangkan perbaikan klasifikasi investor, penambahan free float, serta penguatan pengawasan pasar. Said juga menyinggung kemungkinan adanya kepentingan yang lebih luas di balik kebijakan MSCI.

“Semoga pula MSCI tidak sedang menjalani perannya sebagai proxy dari sang adikuasa,” tegasnya.

Said juga menyoroti transaksi investor asing yang disebut membukukan pembelian saham hingga Rp9,18 triliun ketika IHSG terpuruk pada 16 Oktober 2026. 

Dia menegaskan tidak menuduh MSCI sengaja menjatuhkan harga saham untuk menguntungkan pihak tertentu, tetapi menilai dampak kebijakannya patut dipertanyakan. 

“Kalau niat baik MSCI pada akhirnya menimbulkan kejatuhan harga, dan kejadiannya berulang, bukankah sudah wajarnya jika kita bertanya tanya, MSCI sedang membantu BEI memperbaiki diri atau kendaraan hedge fund ambil untung?” ungkapnya.

Said berharap evaluasi MSCI benar-benar diarahkan untuk memperbaiki tata kelola pasar modal, bukan justru memicu gejolak berulang yang merugikan investor. 

Ia mengingatkan bahwa proses pembenahan harus dilakukan tanpa mengabaikan kemajuan yang telah dicapai. 

“Mari kita temukan jarumnya, tetapi padi yang menguning tidak rusak karena terinjak injak saat mencari jarum,” pungkasnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

UPDATE

Fokusmaker Sentil Azis Narang: Jangan Jual SOKSI untuk Kepentingan Politik Pribadi

Sabtu, 07 November 2026 | 18:26

Airlangga Akui Kasus Penyadapan pada Presiden Ganggu Sentimen Investor

Sabtu, 07 November 2026 | 18:17

Bantah Terlibat Penyadapan Ilegal, Bahlil: Ini Ulah Abuleke

Sabtu, 07 November 2026 | 17:48

ARBI Bakal Gelar Aksi Akbar di Al-Azhar, Ini Lima Tuntutannya

Sabtu, 07 November 2026 | 17:40

HUT ke-73 KPU Dirayakan Sederhana, Refleksi Integritas Bareng Para Mantan

Sabtu, 07 November 2026 | 16:45

Ketum Peradi Profesional: Advokat Bukan Pelengkap Peradilan

Sabtu, 07 November 2026 | 16:08

Menimbang Perpres 107/2026 dan Dampaknya pada Kelancaran Pengadaan Energi

Sabtu, 07 November 2026 | 15:48

Tekanan Jual Mereda, Harga Bitcoin Menguat ke 75.928 Dolar AS

Sabtu, 07 November 2026 | 15:40

Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang Tayang Jelang Imlek

Sabtu, 07 November 2026 | 15:18

Pangdam XXII/Tambun Bungai Pimpin Pemulangan Jenazah Sertu Anumerta Heri Prasetyo ke Kediri

Sabtu, 07 November 2026 | 15:14

Selengkapnya