Berita

lustrasi Geothermal. (Foto: Infopublik)

Bisnis

RI Punya Harta Karun Panas Bumi, Kenapa Belum Dimanfaatkan dengan Optimal?

MINGGU, 18 OKTOBER 2026 | 10:10 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Potensi energi panas bumi atau geothermal Indonesia yang sangat besar karena berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, dinilai belum dimanfaatkan secara maksimal.

Pakar hidrogeologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Lambok M. Hutasoit, mengatakan pemanfaatan geothermal  masih perlu ditingkatkan, seiring dengan pentingnya edukasi masyarakat mengenai keamanan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP).

"Banyak sekali. Potensi panas bumi Indonesia itu sangat besar. Di Indonesia, salah satu wilayah dengan potensi panas bumi paling besar adalah Jawa Barat. Provinsi-provinsi lain juga memiliki potensi panas bumi. Jadi, memang masih sangat banyak yang bisa dikembangkan,” ujar Lambok dalam keterangan tertulis, dikutip Minggu, 18 Oktober 2026.


Menurut Lambok, kekhawatiran bahwa aktivitas PLTP dapat menyebabkan berkurangnya air tanah masyarakat perlu dilihat berdasarkan kondisi geologi masing-masing wilayah.

Sebab, air yang ada di dalam bumi atau reservoir panas bumi yang dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik umumnya berada pada lapisan batuan berbeda dengan akuifer dangkal yang menjadi sumber air rumah tangga.

"Reservoir panas bumi dengan akuifer air tanah itu kebanyakan tidak berhubungan secara langsung. Jadi, tidak bisa begitu saja dikatakan bahwa ketika reservoir panas bumi dimanfaatkan, air tanah di atasnya otomatis akan ikut tersedot," urainya.

Ia menerangkan, lapisan batuan di bawah permukaan bumi memiliki karakteristik berbeda. Sebagian dapat meloloskan air, sementara lainnya menghambat pergerakan fluida. Meski demikian, hubungan antara reservoir panas bumi dan akuifer tetap perlu diteliti karena dalam kondisi tertentu kedua sistem tersebut dapat saling terhubung.

Selain persoalan air tanah, Lambok menjelaskan bahwa pengeboran panas bumi hingga kedalaman sekitar 2.000 meter masih berlangsung di lapisan kerak bumi. Kedalaman tersebut sangat jauh dari inti bumi yang berada ribuan kilometer di bawah permukaan.

"Kalau dibandingkan dengan struktur bumi secara keseluruhan, kedalaman 2.000 meter itu tidak ada apa-apanya. Kalau kita berbicara mengenai kedalaman sampai ke inti bumi, itu jaraknya ribuan kilometer," katanya.

Lambok turut mencontohkan PLTP Kamojang di Jawa Barat yang telah beroperasi secara komersial sejak 1983. Kawasan ini juga sempat dikunjungi Staf Khusus Wakil Presiden sekaligus Komisaris Pertamina Patra Niaga, Tina Talisa, untuk melihat langsung proses produksi listrik panas bumi, termasuk pengelolaan air dan sistem pengeborannya.

Melalui akun Instagram pribadinya, Tina menjelaskan bahwa Kamojang merupakan PLTP pertama di Indonesia yang kini memiliki lima unit pembangkit dengan total kapasitas terpasang 235 megawatt (MW). Ia menilai pengalaman panjang Kamojang menunjukkan pentingnya pengembangan energi yang memperhatikan masyarakat dan lingkungan sekitar.

"Kamojang bukan hanya cerita tentang pembangkit listrik. Selama puluhan tahun, pengembangan panas bumi di sini tumbuh berdampingan dengan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya," tulis Tina melalui akun Instagram @tina_talisa.

Sementara itu, Lambok menjelaskan bahwa keberlanjutan produksi panas bumi turut didukung mekanisme reinjeksi, yakni pengembalian fluida sisa produksi ke reservoir untuk membantu menjaga tekanannya. 

Ia juga menekankan pentingnya melindungi kawasan resapan air, sebagaimana hasil penelitiannya di Wayang Windu, Jawa Barat, yang mengidentifikasi daerah resapan melalui analisis isotop air.

"Metode itu sangat membantu. Justru itu memang disarankan dan harus dilakukan oleh perusahaan-perusahaan pengembang panas bumi. Tujuannya untuk menjaga tekanan reservoir. Istilahnya pressure maintenance," ucap Lambok.

Di sisi lain, Lambok mengingatkan bahwa Indonesia masih memiliki potensi panas bumi yang sangat besar untuk dikembangkan. Ia memperkirakan pemanfaatannya baru berada di kisaran 10 persen dari keseluruhan potensi nasional, dengan Jawa Barat menjadi salah satu wilayah yang memiliki sumber daya panas bumi melimpah. 

Dia memperkirakan, besarnya potensi tersebut perlu diimbangi dengan edukasi publik agar masyarakat memahami manfaat, karakteristik, serta pengelolaan risiko energi panas bumi.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi energi panas bumi yang dimiliki Indonesia mencapai 23,2 gigawatt (GW). Namun, kapasitas yang baru dimanfaatkan untuk pembangkit listrik baru sekitar 2,78 GW. 

"Pemerintah dan perusahaan pengembang juga harus menjelaskan kondisi tersebut dengan baik kepada masyarakat. Bagaimana sistem panas buminya, bagaimana susunan lapisan batuannya, dan lapisan mana yang dimanfaatkan. Hal-hal seperti itu harus dijelaskan supaya masyarakat memahami kondisi yang sebenarnya," tutup Lambok.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Ini Pemicu Perubahan Sikap Jokowi ke Prabowo

Minggu, 18 Oktober 2026 | 08:15

Prancis Membara, Demonstran Bakar Gedung Pemerintah hingga Jarah Toko

Minggu, 18 Oktober 2026 | 07:57

OMC di Sumsel Turunkan Polusi Asap dari Kategori Berbahaya

Minggu, 18 Oktober 2026 | 07:40

Kopdes Buka Peluang Kerja dan Usaha bagi Generasi Muda

Minggu, 18 Oktober 2026 | 07:32

Gerindra Pilih Redam Polemik Gibran

Minggu, 18 Oktober 2026 | 07:21

Dua Tahun Rezim Prabowo-Gibran: Double-Track Menuju Swasembada Energi

Minggu, 18 Oktober 2026 | 06:55

Ketum BPP HIPMI Ajak Pelaku Usaha Tetap Optimistis di Tengah Gejolak Pasar

Minggu, 18 Oktober 2026 | 06:23

Seorang Peserta ITB Ultra Marathon 2026 Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 05:47

Desa dalam Otonomi Terpasung

Minggu, 18 Oktober 2026 | 05:21

Operasi Badai Kasuari Sukses Rampas Kembali Persenjataan OPM

Minggu, 18 Oktober 2026 | 04:59

Selengkapnya