Berita

Ketua Bidang Kehutanan dan Lingkungan Hidup DPP PDIP, Eriko Sotarduga (Foto: Dokumen PDIP)

Sosial

PDIP Gelar Pekan Peduli Sampah Nasional 9-14 November

SABTU, 17 OKTOBER 2026 | 14:43 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) akan menggelar Pekan Peduli Sampah Nasional pada 9-14 November 2026. 

Gerakan ini akan melibatkan kader partai di seluruh Indonesia hingga tingkat desa, dengan fokus pengolahan sampah organik rumah tangga dan pelestarian lingkungan.

Ketua Bidang Kehutanan dan Lingkungan Hidup DPP PDIP, Eriko Sotarduga, menyampaikan rencana tersebut saat berada di kawasan Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna, Malang Selatan, Sabtu, 17 Oktober 2026.


“Nanti kami sebagai Ketua DPP Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan, tanggal 9 sampai 14 November akan mengadakan Pekan Peduli Sampah Nasional," ungkap Eriko.

Ia mengatakan, rangkaian kegiatan tersebut juga ditargetkan mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) pada 14 November.

“Kita akan memecahkan rekor MURI nanti tanggal 14 November," imbuhnya.

Eriko menjelaskan, gerakan tersebut akan mendorong masyarakat mengolah sampah organik menjadi pupuk sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.

“Bapak-bapak tahu tidak apa efek samping dari pupuk kimia? Tanah menjadi keras," ujarnya.

Ia mendorong penggunaan bio-decomposer untuk mempercepat penguraian sampah organik, seperti sisa makanan dan dedaunan, sekaligus menekan timbulnya bau selama proses pengolahan.

“Kita tumpuk sampah organik di sana, bekas sisa makanan, daun-daunan dan lain-lain, tapi nanti harus diberikan namanya bio-decomposer untuk apa? Agar tidak bau dan proses itu menjadi lebih cepat," kata Eriko.

Eriko juga mengaitkan gerakan tersebut dengan peringatan Hari Pahlawan pada 10 November. Ia berharap masyarakat mengambil peran dalam menjaga lingkungan mulai dari wilayah tempat tinggal masing-masing.

“Kita bisa menjadi pahlawan di lingkungan kita masing-masing," ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDIP, Hasto Kristiyanto, menjelaskan puncak kegiatan pada 14 November akan diisi aksi pembersihan dan pemilahan sampah di ibu kota provinsi serta kabupaten. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari gerakan Merawat Pertiwi.

Hasto juga mendorong pengolahan sampah organik di tingkat rukun tetangga (RT) melalui program TEBA. Program ini diarahkan untuk mengolah sampah rumah tangga dengan dukungan bio-decomposer agar tidak menimbulkan bau.

"Kita olah, kami akan membuat TEBA. TEBA itu sampah organik dimasukkan di situ. Bagi yang ikut webinar nanti yang perlu nanti kami berikan datanya. Termasuk diberikan biodekomposer agar sampahnya tidak berbau, sampah organik rumah tangga itu agar tidak berbau," ujar Hasto.

Hasto turut menekankan pentingnya kebijakan tata ruang dan perlindungan hutan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan serta ketahanan pangan. Ia mengingatkan agar lahan pertanian tidak dialihfungsikan untuk kepentingan lain.

“Maka politik tata ruang, moratorium hutan-hutan kita harus dilakukan. Tidak boleh ada konversi lahan pertanian untuk kepentingan lain karena itu menyangkut masa depan anak cucu kita. Kita harus berdaulat di bidang pangan," katanya.

Menurut Hasto, Pekan Peduli Sampah Nasional juga akan menjadi ajang berbagi pengalaman para kepala daerah PDIP dalam mengelola sampah dan lingkungan, membangun taman kota, menata ruang, hingga memanfaatkan teknologi.

"Termasuk Bu Risma di dalam mengelola sampah, mengelola lingkungan, membuat taman-taman kota, politik tata ruang, kemudian penggunaan teknologi," ujar Hasto.

Dalam kesempatan yang sama, penggerak lingkungan M. Zamroni membagikan pengalamannya mengampanyekan pengelolaan sampah sejak 1999 melalui Tunas Hijau. Ia mengaku mulai menyadari pentingnya persoalan sampah setelah mengikuti program pertukaran pemuda ke Australia.

"90 persen masyarakat di Jawa Timur waktu itu masih buang sampah di sekitarnya, sembarangan. Kalau di sana susah, bahkan 99 persen buang sampah pada tempatnya," katanya.

Sepulang dari Australia, Zamroni bersama tim mulai mengajak masyarakat membuang sampah pada tempatnya. Mereka juga mendorong kebiasaan menggunakan saku sebagai tempat sampah sementara dan mengurangi penggunaan air mineral dalam kemasan sekali pakai.

Sejak 2002, ia memperluas gerakan tersebut dengan melibatkan anak-anak dan remaja melalui Akademi Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup.

Zamroni mencontohkan, pengolahan sampah organik dapat dimulai dari rumah tangga dengan melibatkan anak-anak. Ia menyebut seorang anak bersama keluarganya mampu mengolah hingga 125 kilogram sampah organik dalam sehari.

"Ada yang sejak pandemi bahkan 2020 itu satu anak dengan keluarganya itu mengolah sampah organik 125 kilogram dalam sehari. Di rumah," ujarnya.

Ia juga menyebut seorang siswa sekolah dasar mampu mengolah 110 kilogram sampah organik per hari atau setara 3,3 ton dalam sebulan.


Populer

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Pernah Puji LSP Kapolri Terbaik, Habiburokhman Ungkap Istilah ‘Perkalian Nol’

Minggu, 08 November 2026 | 04:30

Penahanan LSP Jadi Pukulan Berat bagi Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 04:18

Pengamat Puji Ketenangan Jokowi saat Tunjukkan Ijazah di Persidangan

Minggu, 08 November 2026 | 04:00

Ziarah ke Makam Bung Karno, Sekjen PDIP: Kekuasaan itu untuk Rakyat

Minggu, 08 November 2026 | 03:32

Penyadapan Prabowo Mustahil Bukan untuk Tujuan Makar

Minggu, 08 November 2026 | 03:19

Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Sarana Tinju di Kampung Melayu

Minggu, 08 November 2026 | 03:00

Wapres Gibran Tidak Lagi Memiliki Legitimasi sebagai Pemimpin

Minggu, 08 November 2026 | 02:32

Ada Aroma Kuat Makar di Balik Penyadapan terhadap Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 02:22

Kasus Ijazah Jokowi Mirip Pembunuhan Brigadir Yosua

Minggu, 08 November 2026 | 02:04

Wapres Gibran Wajib Menghormati Putusan MA

Minggu, 08 November 2026 | 01:43

Selengkapnya