Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menerima kunjungan Deputi Pertama Perdana Menteri Rusia Denis Manturov di Bogor, Jumat 16 Oktober 2026 (Foto: Humas ekon)
Indonesia dan Rusia menjajaki perluasan perdagangan, investasi, serta kerja sama industri strategis. Kedua negara juga mendorong percepatan ratifikasi perjanjian perdagangan bebas Indonesia-Eurasian Economic Union (I-EAEU FTA) agar dapat berlaku sebelum akhir 2026.
Pembahasan tersebut mengemuka dalam pertemuan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan Deputi Pertama Perdana Menteri Rusia Denis Manturov di Bogor, Jumat 16 Oktober 2026.
Nilai perdagangan Indonesia-Rusia mencapai 4,84 miliar Dolar AS pada 2025, naik 21,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 3,98 miliar Dolar AS. Minyak kelapa sawit, kopi, kakao, produk pertanian, dan pupuk menjadi sejumlah komoditas penting dalam perdagangan kedua negara.
Airlangga mengatakan, potensi kerja sama kedua negara perlu diterjemahkan menjadi kemitraan bisnis dan investasi yang konkret. Penguatan hubungan ekonomi juga diarahkan pada peningkatan kapasitas industri nasional dan pengembangan teknologi.
“Indonesia dan Rusia memiliki potensi besar untuk terus memperkuat kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan. Kami berkomitmen untuk mendorong peningkatan perdagangan dan investasi, memperluas kemitraan antarpelaku usaha, serta memastikan berbagai peluang kerja sama dapat ditindaklanjuti menjadi langkah-langkah konkret yang memberikan manfaat bagi kedua negara,” ujar Airlangga.
Kedua pihak turut membahas peluang kolaborasi di sektor perkapalan dan kedirgantaraan, selain pertanian, teknologi, industri, dan pengembangan rantai pasok. Langkah tersebut diharapkan memperluas keterlibatan pelaku usaha sekaligus membuka peluang investasi baru.
Manturov menilai penguatan kontak bisnis menjadi kunci untuk meningkatkan hubungan perdagangan dan ekonomi. Delegasi perusahaan Rusia pun menghadiri Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 untuk menjajaki kemitraan dengan pelaku usaha Indonesia.
"Perusahaan-perusahaan kami menghadiri pertemuan business-to-business (B2B) dengan mitra potensial Indonesia, serta forum bisnis dengan sesi tematik mengenai perdagangan, investasi, dan kerja sama industri," ujar Manturov.
Kehadiran delegasi Rusia di TEI juga menjadi tindak lanjut partisipasi Indonesia sebagai negara mitra dalam pameran INNOPROM di Yekaterinburg, Rusia, pada Juli 2026.
Agenda penting lainnya adalah penyelesaian I-EAEU FTA. Perjanjian ini berpotensi memperluas akses pasar produk Indonesia, termasuk kelapa sawit, kopi, kakao, tekstil, dan furnitur, ke negara-negara anggota Uni Ekonomi Eurasia (EAEU).
Proses ratifikasi perjanjian tersebut disebut mendekati tahap akhir. Kedua negara berharap seluruh prosedur dapat dirampungkan sebelum akhir 2026 sehingga perjanjian bisa segera berlaku dan memberikan manfaat bagi dunia usaha.
Pertemuan Airlangga dan Manturov merupakan tindak lanjut pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok pada September 2026 serta hasil Sidang Komisi Bersama ke-14 Indonesia-Rusia di Kazan pada Mei 2026.
Kedua negara sepakat melanjutkan pembahasan kerja sama di berbagai sektor strategis. Tantangan berikutnya adalah memastikan peningkatan hubungan diplomatik dan kesepakatan perdagangan menghasilkan transaksi bisnis, investasi, serta akses pasar yang lebih luas bagi kedua negara.