Mata uang Dolar AS menutup perdagangan akhir pekan di zona merah. Greenback bersiap mencatatkan penurunan mingguan pertamanya dalam lebih dari sebulan terhadap sejumlah mata uang utama seperti Euro dan Yen.
Pelemahan ini terjadi seiring meredupnya ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan dari bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) serta kekhawatiran pasar terhadap gelombang aksi jual di sektor kecerdasan buatan (AI).
Sepanjang pekan ini, pasar keuangan sempat diguncang oleh data inflasi konsumen dan produsen yang melampaui estimasi. Kendati demikian, pernyataan para pejabat The Fed yang menilai belum ada urgensi mendesak untuk memperketat kebijakan moneter secara agresif berhasil menstabilkan imbal hasil obligasi Treasury AS, sekaligus meredam daya tarik Dolar.
Tekanan jual yang melanda saham-saham sektor AI turut merembet ke pasar kredit global. Investor mulai dilanda kecemasan bahwa operator pusat data tidak mampu meraup keuntungan secara cepat untuk melunasi kewajiban utang mereka.
Fenomena pergerakan Dolar kali ini dinilai cukup tidak biasa oleh para pengamat pasar. Biasanya, saat saham teknologi mengalami koreksi tajam, Dolar AS dicari sebagai aset aman (safe haven). Namun, yang terjadi justru sebaliknya; kendati obligasi mencatat kenaikan permintaan, Dolar AS justru melandai.
Laporan Reuters menyebutkan, indeks Dolar (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terkoreksi sebesar 0,17 persen ke level 101,87 pada penutupan perdagangan Jumat 16 Oktober 2026.
Secara akumulatif sepanjang pekan ini, indeks tersebut mencatatkan pelemahan sebesar 0,35 persen.
Di sisi lain, posisi Pound Sterling dan Franc Swiss menguat paling mencolok terhadap Dolar AS sepanjang pekan berjalan.
Euro turut menguat tipis 0,08 persen ke level 1,1227 Dolar AS setelah sempat melonjak 0,56 persen.
Di sisi lain, Dolar AS melemah 0,08 persen terhadap Yen Jepang menjadi 158,11, membuat Yen berbalik menguat 0,13 persen dalam sepekan setelah tertekan selama empat pekan berturut-turut.
Dalam forum tahunan IMF-Bank Dunia di Bangkok, Ketua The Fed Kevin Warsh memilih bungkam terkait arah kebijakan suku bunga terdekat dan menyatakan enggan mendahului keputusan komite. John Velis, ahli strategi makro Amerika di BNY, New York, menilai kecil kemungkinan adanya kenaikan suku bunga pada bulan Oktober, meski ruang untuk bulan Desember masih terbuka lebar.
Selain faktor domestik AS, pasar juga mengawasi dinamika fiskal di Prancis serta pernyataan Gubernur Bank Sentral Jepang (BOJ) Kazuo Ueda yang menegaskan bahwa risiko inflasi mendasar di Jepang masih melampaui target bank sentral sebesar 2 persen.