Kenaikan harga bensin kembali menekan biaya hidup warga Amerika Serikat (AS) dan memperbesar ketidakpastian arah suku bunga menjelang pemilihan paruh waktu pada 3 November 2026.
Inflasi yang meningkat di tengah gejolak energi global kini menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi keputusan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), pada akhir bulan ini.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan inflasi tahunan mencapai 3,7 persen pada September 2026, naik dari 3,4 persen pada Agustus. Secara bulanan, Indeks Harga Konsumen (CPI) meningkat 0,6 persen, dengan harga bensin menjadil pendorong utama kenaikan tersebut.
Harga bensin melonjak 9,1 persen sepanjang September dan menyumbang lebih dari separuh kenaikan inflasi bulanan. Kenaikan ini terjadi di tengah ketegangan antara AS dan Iran serta konflik Rusia-Ukraina yang menekan pasokan energi global.
“Perang tanpa arah di Iran terus mengganggu rantai pasokan global, mendorong kenaikan harga pangan dan bahan bakar," kata Kyle Moore, kepala ekonom The Century Foundation kepada Al-Jazeera, dikutip Jumat 16 Oktober 2026.
Tekanan harga juga terlihat pada biaya tempat tinggal yang naik 0,4 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, harga makanan secara keseluruhan tidak berubah karena kenaikan sejumlah bahan pangan diimbangi penurunan harga lainnya.
Di toko kelontong, harga unggas naik 0,7 persen, buah dan sayuran meningkat 0,5 persen, sedangkan jus naik 1,1 persen. Sebaliknya, harga susu turun 2,1 persen dan daging sapi turun 0,9 persen.
Di sektor teknologi, harga perangkat lunak dan aksesori komputer melonjak 28 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, seiring besarnya investasi pada infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Kenaikan berbagai komponen biaya ini menunjukkan tekanan inflasi tidak hanya berasal dari energi, tetapi juga merambah sejumlah kebutuhan dan produk lainnya.
Data inflasi terbaru membuat keputusan The Fed semakin sulit diperkirakan. Pada September lalu, bank sentral AS menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75-4 persen. Berdasarkan data CME FedWatch, peluang suku bunga dipertahankan pada kisaran tersebut mencapai 52,9 persen, sedangkan kemungkinan kenaikan 25 basis poin lagi berada di 47,1 persen.
Kenaikan harga juga menjadi isu politik menjelang pemilihan paruh waktu AS. Jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan sekitar 78 persen warga Amerika menyalahkan kebijakan Presiden Donald Trump atas kenaikan harga.