Berita

Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)

Bursa

Wall Street Bangkit Ditopang Sektor Kesehatan

JUMAT, 16 OKTOBER 2026 | 07:54 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Wall Street menemukan tenaga baru ketika investor mulai mengalihkan perhatian dari saham berbasis kecerdasan buatan (AI) ke sektor yang dinilai lebih tahan terhadap tekanan ekonomi.

Kekhawatiran terhadap inflasi dan potensi kenaikan suku bunga membuat saham-saham teknologi kehilangan daya tarik, sementara sektor kesehatan menjadi salah satu penopang penguatan bursa AS.

Pada penutupan perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026, waktu setempat, indeks S&P 500 naik 0,33 persen ke level 7.744,06. Nasdaq menguat tipis 0,08 persen ke 26.713,03, sedangkan Dow Jones Industrial Average melonjak 1,08 persen ke 52.177,69.


Saham perusahaan kesehatan menjadi pendorong utama penguatan pasar. Saham Eli Lilly dan UnitedHealth masing-masing naik lebih dari 3 persen, sementara saham Walmart menguat 1,4 persen setelah Deutsche Bank menaikkan rekomendasinya. Indeks sektor kesehatan S&P 500 memimpin kenaikan dengan penguatan 1,84 persen, disusul sektor material yang naik 1,71 persen.

Sebaliknya, sejumlah saham teknologi dan perusahaan yang terkait dengan AI masih berada di bawah tekanan. Saham Nvidia turun 1,8 persen setelah Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) menyampaikan prospek yang lebih berhati-hati untuk 2027, meskipun mencatat laba kuartalan rekor untuk keenam kalinya secara beruntun. Saham Dell Technologies merosot 6,9 persen, sedangkan Hewlett Packard Enterprise anjlok 7,1 persen.

Tekanan juga terlihat pada sektor semikonduktor. Indeks Philadelphia Semiconductor turun 0,9 persen, memperpanjang pelemahan untuk hari ketujuh berturut-turut. Investor turut mencermati risiko perusahaan-perusahaan yang memiliki beban utang besar, terutama ketika biaya pinjaman berpotensi meningkat seiring ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi.

Kekhawatiran tersebut menguat setelah data menunjukkan harga produsen AS naik pada September dengan laju terbesar dalam 4,5 tahun. Sehari sebelumnya, data inflasi konsumen yang lebih tinggi dari perkiraan juga mendorong pasar memperhitungkan kemungkinan Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

UPDATE

Pernah Puji LSP Kapolri Terbaik, Habiburokhman Ungkap Istilah ‘Perkalian Nol’

Minggu, 08 November 2026 | 04:30

Penahanan LSP Jadi Pukulan Berat bagi Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 04:18

Pengamat Puji Ketenangan Jokowi saat Tunjukkan Ijazah di Persidangan

Minggu, 08 November 2026 | 04:00

Ziarah ke Makam Bung Karno, Sekjen PDIP: Kekuasaan itu untuk Rakyat

Minggu, 08 November 2026 | 03:32

Penyadapan Prabowo Mustahil Bukan untuk Tujuan Makar

Minggu, 08 November 2026 | 03:19

Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Sarana Tinju di Kampung Melayu

Minggu, 08 November 2026 | 03:00

Wapres Gibran Tidak Lagi Memiliki Legitimasi sebagai Pemimpin

Minggu, 08 November 2026 | 02:32

Ada Aroma Kuat Makar di Balik Penyadapan terhadap Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 02:22

Kasus Ijazah Jokowi Mirip Pembunuhan Brigadir Yosua

Minggu, 08 November 2026 | 02:04

Wapres Gibran Wajib Menghormati Putusan MA

Minggu, 08 November 2026 | 01:43

Selengkapnya