Berita

Ilustrasi

Bursa

Harga Minyak Dunia Turun ke 104 Dolar AS

KAMIS, 15 OKTOBER 2026 | 10:33 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga minyak dunia kembali melemah meski ancaman terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz semakin meningkat. 

Pasar kini menghadapi dua arah yang berlawanan, yakni risiko gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah dan peluang bertambahnya pasokan setelah Amerika Serikat (AS) mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap sejumlah kapal pengangkut minyak.

Data Reuters pada Kamis, 15 Oktober menunjukkan harga minyak mentah Brent turun 1,39 Dolar AS atau 1,31 persen menjadi 104,67 Dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,02 Dolar AS atau 1,07 persen ke 94,07 Dolar AS per barel. Penurunan ini membalikkan kenaikan pada perdagangan sebelumnya.


Pada sesi sebelumnya, harga WTI sempat mencapai level tertinggi dalam tiga minggu. Kenaikan tersebut dipicu serangan kelompok Houthi terhadap kantor pusat perusahaan minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, serta pernyataan Iran yang akan menggunakan taktik baru untuk menyasar kapal-kapal di Selat Hormuz.

Ancaman terhadap pasokan semakin besar setelah sebuah kapal kontainer dan kapal pengangkut barang curah dilaporkan tenggelam di dekat Selat Hormuz dalam dua insiden terpisah pada Rabu. Kedua kapal tersebut terkena proyektil. Dalam 10 hari terakhir, serangan terhadap pelayaran di kawasan itu meningkat tajam, sementara biaya pengiriman melonjak hingga mencapai rekor tertinggi.

Di tengah situasi tersebut, pemerintahan Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap kapal-kapal yang dikenal sebagai shadow fleet atau armada bayangan. Kapal-kapal ini sebelumnya digunakan untuk mengangkut minyak dan produk petroleum dari negara-negara seperti Rusia, Iran, dan Venezuela.

Seorang pejabat AS mengatakan, pembahasan tersebut berfokus pada kemungkinan mengizinkan pengangkutan minyak yang dianggap legal menggunakan kapal-kapal yang sebelumnya terkena sanksi. Langkah ini diharapkan dapat memperlancar pengiriman dan menekan biaya transportasi minyak yang meningkat akibat perang Iran.

Dari sisi pasokan, produksi minyak mentah Rusia naik 65.000 barel per hari pada September menjadi 8,43 juta barel per hari. Namun, angka tersebut masih 870.000 barel per hari lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Badan Energi Internasional (IEA) juga mencatat ekspor minyak mentah dari produsen Teluk Timur Tengah meningkat 4,4 juta barel per hari pada September, mencapai sekitar 75 persen dari tingkat sebelum perang.

Sementara itu, data awal American Petroleum Institute menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 11,1 juta barel pada pekan yang berakhir 9 Oktober. Penurunan ini jauh lebih besar daripada perkiraan analis yang disurvei Reuters. Meski demikian, harga minyak tidak banyak bereaksi terhadap data tersebut.

Data resmi persediaan minyak AS dari Energy Information Administration (EIA) dijadwalkan dirilis pada Kamis waktu setempat, setelah mengalami penundaan satu hari akibat libur Columbus Day. Data ini akan menjadi salah satu perhatian pasar untuk menilai arah harga minyak selanjutnya.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Siapa di Balik Penyadapan Presiden Prabowo?

Kamis, 05 November 2026 | 06:29

Mengendus Pasal Makar

Kamis, 05 November 2026 | 06:14

DPRD Dukung Roadshow Pramono Anung ke 44 Kecamatan

Kamis, 05 November 2026 | 06:04

Mengenal Listyo Sigit, Eks Kapolri yang Jadi Raja Oknum

Kamis, 05 November 2026 | 05:57

Penyadapan Presiden Prabowo Bukan Kasus Biasa

Kamis, 05 November 2026 | 05:43

BPOM Buka Suara soal Vape Mengandung Obat Bius Etomidat dan Ketamin

Kamis, 05 November 2026 | 05:10

Intelektualisme Pemuda Kunci Memperkuat Persatuan Bangsa

Kamis, 05 November 2026 | 04:44

Kasus Listyo Sigit Imbas Sistem UUD 2002 yang Memproduksi Kegaduhan

Kamis, 05 November 2026 | 04:26

PAM Jaya Raih Penghargaan Pembayar Pajak Terbesar di Jakpus

Kamis, 05 November 2026 | 04:22

MUI: Penyadapan Presiden Kategori Tajassus dan Berdosa

Kamis, 05 November 2026 | 04:08

Selengkapnya