Berita

Lambang partai Golkar. (Foto:RMOLNetwork)

Politik

Golkar Serba Salah Hadapi Polemik Pendidikan Gibran

KAMIS, 15 OKTOBER 2026 | 09:23 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Sikap Partai Golkar dalam polemik syarat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dinilai masih setengah hati. Golkar terlihat berhati-hati dalam menentukan sikap di tengah tarik-menarik kepentingan politik Presiden Prabowo Subianto dan mantan Presiden Joko Widodo.

Pengamat politik Nurul Fatta menilai, perbedaan pernyataan sejumlah kader Golkar menunjukkan belum solidnya sikap partai berlambang pohon beringin itu dalam menyikapi polemik pendidikan Gibran.

Misalnya, Anggota DPR RI dari Fraksi Golkar Zulfikar Arse Sadikin yang menyatakan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tidak dapat dijadikan dasar pemakzulan karena amar putusannya berbunyi permohonan tidak diterima. Namun, pernyataan tersebut disebut sebagai pandangan pribadi.


Di sisi lain, anggota Komisi II DPR dari Golkar, Doli Kurnia, justru menyoroti Pasal 18 ayat 3 PKPU Nomor 19 Tahun 2023 yang disebutnya sebagai pasal selundupan.

Menurut Fatta, pasal tersebut mengatur pengecualian bukti kelulusan SMA bagi pasangan calon yang tidak memiliki bukti kelulusan dari sekolah di luar negeri.

“Artinya ini kan pasal yang dibuat seolah-olah untuk meloloskan Gibran,” kata Nurul Fatta kepada RMOL, Kamis, 15 Oktober 2026.

Ia menilai, kondisi tersebut memperlihatkan Golkar masih gamang dalam menentukan keberpihakan. Di satu sisi, Golkar merupakan bagian dari koalisi pemerintahan Prabowo. Namun, di sisi lain, partai itu dinilai masih memiliki kedekatan politik dengan Jokowi.

“Mau membela Mas Gibran tidak enak sama Pak Prabowo karena bagian dari partai koalisi. Mau terang-terangan membiarkan Mas Gibran, sepertinya gak enak sama Pak Jokowi,” ujarnya.

Fatta menambahkan, Golkar juga memiliki pertimbangan historis terkait perolehan suara pada Pemilu 2024. Menurutnya, capaian elektoral Golkar saat itu tidak terlepas dari sosok Jokowi.

Karena itu, ia menilai Golkar masih memiliki beban politik untuk menjaga hubungan dengan Jokowi, yang dianggap turut memberikan keuntungan elektoral bagi partai tersebut.

"Tentu utang budi atas keuntungan elektoral yang mereka dapatkan pada Pemilu 2024 membuat mereka segan sama Pak Jokowi," pungkasnya.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Kemitraan PLN Perkuat KDKMP jadi Penggerak Ekonomi Desa

Jumat, 16 Oktober 2026 | 06:16

Pemerintah Serap Masukan Akademisi hingga Peneliti untuk Perkuat Ekonomi Biru

Jumat, 16 Oktober 2026 | 05:53

Tak Hanya Tunjuk Kepala Baru, Pemerintah Diminta Serius Benahi BNPB

Jumat, 16 Oktober 2026 | 05:23

BUK dan Bukti Kegagalan SKK Migas

Jumat, 16 Oktober 2026 | 04:59

Korupsi Dana Bencana Bentuk Pengkhianatan terhadap Amanah Kemanusiaan

Jumat, 16 Oktober 2026 | 04:29

Wajah Muda Kemiskinan yang Berubah

Jumat, 16 Oktober 2026 | 03:58

Maruli Berjabat Tangan dengan Gibran

Jumat, 16 Oktober 2026 | 03:29

Lokasi Ledakan di Pasar Cimanggis-Ciputat Bukan SPPG

Jumat, 16 Oktober 2026 | 03:00

Selain Bupati Klaten, KPK Juga Tangkap Kepala Perwakilan BPK Jateng Ahmad Luthfi

Jumat, 16 Oktober 2026 | 02:45

Perpaduan Kekuatan Laut dan Udara Warnai Demo Pendaratan Amfibi di Pantai Banongan

Jumat, 16 Oktober 2026 | 02:08

Selengkapnya