Berita

Wakil Panglima IRGC Bidang Politik, Brigadir Jenderal Yadollah Javani (Foto: Press TV)

Global

IRGC: AS Keliru Mengira Kematian Khamenei Bakal Runtuhkan Iran

RABU, 14 OKTOBER 2026 | 14:53 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menilai Amerika Serikat (AS) melakukan kesalahan perhitungan strategis dalam perang melawan Iran. 

Washington disebut keliru menganggap pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, akan memicu keruntuhan pemerintahan Republik Islam Iran.

Wakil Panglima IRGC Bidang Politik, Brigadir Jenderal Yadollah Javani, mengatakan AS dan Israel juga salah memperhitungkan dampak serangan terhadap struktur politik dan keamanan Iran, termasuk upaya memicu kekacauan di jalanan. 


“Musuh membayangkan bahwa dengan gugurnya Pemimpin Revolusi, penyerangan terhadap struktur politik dan keamanan, serta penciptaan kekacauan di jalanan, mereka dapat menghancurkan sistem, tetapi perhitungan ini tidak sesuai dengan realitas masyarakat Iran," kata Javani, dikutip dari media Iran, Rabu, 14 Oktober 2026.

Javani turut menyoroti perhitungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang dinilainya menganggap Iran berada dalam posisi lemah. 

Dikatakan bahwa serangan terhadap pusat-pusat politik dan keamanan Iran diharapkan dapat membuka jalan bagi runtuhnya sistem pemerintahan, tetapi kenyataan di lapangan tidak sesuai dengan perkiraan tersebut.

Ia menambahkan, Washington telah berupaya menempatkan Iran di bawah tekanan maksimum sejak sebelum Donald Trump menjabat sebagai presiden hingga saat ini. 

Namun, upaya itu disebut tidak berhasil menghadapi keteguhan rakyat Iran dan respons tegas pemerintahannya.

Javani menegaskan, budaya pengorbanan dan kesyahidan merupakan bagian mendasar dari identitas bangsa Iran. 

“Bangsa Iran dibentuk atas ajaran mati syahid, dan karena alasan ini, ancaman dan tekanan dari musuh tidak dapat dengan mudah menggoyahkan tekadnya,” tegasnya.

Perang AS-Israel terhadap Iran sendiri dimulai pada 28 Februari 2026, menewaskan Khamenei, sejumlah komandan militer senior, dan warga sipil. 

Gencatan senjata yang dimediasi Pakistan mulai berlaku pada April, disusul nota kesepahaman 14 poin pada Juni. Namun, Teheran menuding Washington berulang kali melanggar kesepakatan tersebut, termasuk terkait pelayaran di Selat Hormuz.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Golkar: Putusan MK soal Gibran jadi Pukulan Telak

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 12:00

UPDATE

Wajib Halal Oktober 2026, Kesiapan UMKM dan Literasi Konsumen Jadi Tantangan

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:19

BBCA Pimpin Transaksi Saham, Nilainya Tembus Rp353 Miliar saat IHSG Menguat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:06

Tiru LPDP, Pemprov DKI Siapkan Beasiswa Luar Negeri

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:01

SBY Bercanda soal Batuk Prabowo dan Nasib Rupiah

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:54

CUAN Ramai Diperdagangkan, Nilai Transaksi Tembus Rp196 Miliar

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:47

Ketika Pelaku Tidak Ditemukan, Bagaimana Nasib Barang Bukti yang Disita?

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:42

IPC TPK Buka Direct Call Penghubung RI-Tiongkok-Thailand

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:41

Saat Karhutla Membara, Mereka Malah Korupsi

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:25

56 Tahun INACA dan Misi Historis Penerbangan Indonesia

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:15

BNPB: Penanggulangan Bencana Tak Terpengaruh OTT KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:15

Selengkapnya