Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube CNBC International)
Tekanan inflasi Amerika Serikat (AS) dinilai semakin meluas dan berisiko bertahan lebih lama. Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, mendesak bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) menerapkan kebijakan moneter restriktif lebih cepat untuk mengembalikan inflasi ke target 2 persen.
Dalam pidato pada konferensi National Association for Business Economics (NABE) di Cleveland baru-baru ini, Hammack menilai penyesuaian kebijakan dalam skala kecil tetapi dilakukan lebih cepat akan lebih baik dibandingkan menunda langkah hingga membutuhkan koreksi yang lebih besar.
“Jika memungkinkan, saya secara umum berpandangan bahwa lebih baik melakukan penyesuaian yang lebih kecil dan relatif cepat daripada menunggu hingga berisiko membutuhkan koreksi yang lebih besar,” kata Hammack, dikutip dari pernyataan resmi Federal Reserve Bank of Cleveland.
Hammack menilai tekanan inflasi tidak lagi terkonsentrasi pada satu sektor. Kenaikan harga energi masih menjadi perhatian, tetapi ia juga melihat perusahaan mulai menunjukkan kecenderungan menaikkan harga jual lebih cepat daripada kenaikan biaya produksi.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko inflasi bertahan di atas target The Fed. Jika tekanan harga terus berlangsung, ekspektasi inflasi yang tinggi dikhawatirkan semakin mengakar dalam keputusan bisnis dan perilaku konsumen.
Selain energi, meningkatnya permintaan terhadap teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut mendorong kenaikan harga komponen komputer, elektronik, dan teknologi tinggi. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh industri teknologi dan pembangunan pusat data, tetapi juga proyek penerbangan, pembangkit listrik, serta konstruksi yang membutuhkan komponen serupa.
Hammack memperkirakan inflasi inti masih berada di kisaran 2,5–3 persen. Menurutnya, pengembalian inflasi ke target 2 persen membutuhkan waktu, bahkan jika kebijakan moneter yang tepat telah diterapkan.
Ia juga menilai perekonomian AS masih cukup kuat untuk menanggung kebijakan moneter yang lebih ketat. Dengan demikian, pengetatan dinilai masih dapat dilakukan untuk menekan permintaan dan meredam tekanan harga.
Meski demikian, Hammack berharap pengendalian inflasi tidak harus dibayar dengan pelemahan pasar tenaga kerja secara berlebihan. Ia menyoroti kuatnya investasi perusahaan dan kenaikan kekayaan yang menopang konsumsi sebagai faktor yang turut menjaga permintaan tetap tinggi.
Pandangan tersebut muncul setelah The Fed menaikkan suku bunga acuannya pada September 2026 ke kisaran 3,75 hingga 4 persen. Keputusan berikutnya akan dibahas dalam pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 27-28 Oktober 2026.
Namun, pasar belum sepenuhnya sejalan dengan pandangan Hammack. Per 13 Oktober, pelaku pasar cenderung memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober sembari menunggu perkembangan inflasi dan kondisi ekonomi terbaru. Sejumlah pejabat bank sentral juga mengisyaratkan perlunya kehati-hatian sebelum memutuskan pengetatan tambahan.
Hammack dikenal memiliki pandangan relatif hawkish atau cenderung mendukung kebijakan moneter ketat. Ia menilai komunikasi yang transparan mengenai cara bank sentral merespons perubahan ekonomi penting agar masyarakat dan pelaku pasar dapat memahami dasar pengambilan keputusan.
“Saya memiliki tanggung jawab kepada publik untuk menjelaskan mengapa saya mengambil keputusan yang saya buat. Transparansi memungkinkan konsumen, pelaku usaha, dan pasar keuangan membuat keputusan yang lebih tepat,” ujarnya.
Menurut Hammack, penjelasan mengenai bagaimana kebijakan akan merespons perubahan data bukan berarti The Fed harus menjanjikan keputusan tertentu di masa depan. Kebijakan tetap perlu menyesuaikan perkembangan inflasi, kondisi keuangan, proyeksi ekonomi, serta risiko yang dihadapi.