Raja Maroko Mohammed VI (Foto: Istimewa)
Raja Maroko Mohammed VI menyoroti politisasi isu migrasi di tengah krisis yang terus berulang dan menghambat pengelolaan migrasi secara manusiawi serta efektif.
Dalam pidato di hadapan Parlemen pada pembukaan tahun pertama masa sidang legislatif ke-12, Raja menyampaikan bahwa Maroko telah memperkuat posisinya sebagai mitra internasional yang dapat diandalkan dan bertanggung jawab dalam memenuhi komitmen.
Namun, ia juga mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diselesaikan, terutama dalam kerja sama migrasi dengan negara-negara Eropa.
Menurut uraian pidato tersebut, krisis yang berulang, pemanfaatan isu migrasi untuk kepentingan politik dan media, serta mandeknya penyelesaian sejumlah persoalan telah menghambat penanganan migrasi.
Persoalan itu mencakup pemulangan anak-anak di bawah umur tanpa pendamping dan individu yang secara keliru mengklaim status pengungsi, serta keberadaan jaringan kriminal yang mempersulit pengelolaan migrasi.
Menanggapi kondisi tersebut, Maroko tidak hanya mengidentifikasi persoalan, tetapi juga menyiapkan dokumen visi strategis yang konkret untuk ditawarkan kepada mitra-mitranya, khususnya negara-negara Eropa.
"Maroko sedang mempersiapkan untuk menyampaikan dokumen visi strategis yang jelas dan praktis kepada para mitranya, khususnya mitra Eropa yang berpusat pada pembangunan bersama, daya saing ekonomi, dan stabilitas regional," ungkap laporan resmi, dikutip Selasa, 13 Oktober 2026.
Rencana tersebut berfokus pada pembangunan bersama, daya saing ekonomi, dan stabilitas regional sebagai landasan pembaruan kerja sama migrasi.
Mohammed VI juga menegaskan bahwa kemitraan Maroko dengan Spanyol merupakan pilihan berdaulat dan komitmen sukarela.
Meski kerja sama kedua negara menunjukkan kemajuan, termasuk dalam penanganan migrasi ilegal, hubungan tersebut masih menghadapi tantangan akibat pernyataan tidak bertanggung jawab dari sejumlah kalangan politik dan media serta eksploitasi situasi untuk kepentingan tertentu.
Pesan utama pidato tersebut menekankan bahwa kemitraan Maroko-Spanyol tidak seharusnya tunduk pada tekanan, ancaman, atau pemerasan. Sebaliknya, hubungan kedua negara perlu dibangun melalui komitmen proaktif, sikap saling menghormati, dan dialog konstruktif.
Maroko, melalui Raja Mohammed VI, menegaskan pentingnya tanggung jawab bersama dalam mengatasi persoalan migrasi tanpa terjebak dalam kontroversi politik yang tidak produktif.
Melalui pendekatan tersebut, Maroko berupaya mendorong pola kemitraan yang lebih setara dengan Eropa.
Pidato Mohammed VI sekaligus menegaskan arah diplomasi Maroko yang tidak berhenti pada kritik terhadap model kerja sama yang dinilai tidak lagi memadai, tetapi juga menawarkan visi strategis untuk mendorong pembangunan bersama dan stabilitas kawasan.