Ilustrasi (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube Fox News)
Serangan rudal dan drone kelompok Houthi mengguncang sektor penerbangan Arab Saudi. Sejumlah maskapai internasional membatalkan penerbangan, sementara Bandara Internasional Riyadh ditutup hingga Sabtu, 17 Oktober 2026.
Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi menyatakan Bandara Internasional King Khalid, bandara tersibuk kedua di negara itu setelah Jeddah, masih ditutup untuk memastikan keselamatan dan kesiapan operasional fasilitas.
Pemberitahuan penerbangan pada Senin, 12 Oktober 2026, waktu setempat, menyebutkan penutupan berlaku hingga Sabtu dini hari waktu Arab Saudi.
Sementara itu, pada Senin malam, kelompok Houthi mengklaim telah menyerang bandara Riyadh menggunakan rudal balistik. Sebelumnya, Arab Saudi menyatakan telah mencegat dan menghancurkan rudal yang ditembakkan ke arah ibu kota.
Houthi juga mengaku menargetkan pangkalan udara di Khamis Mushait, wilayah barat daya Arab Saudi, menggunakan drone. Namun, klaim serangan terhadap pangkalan udara tersebut belum mendapat konfirmasi langsung dari pemerintah Saudi.
Gangguan ini terjadi setelah serangan pada Sabtu yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Serangan lanjutan pada Minggu juga menewaskan satu orang dan menyebabkan hampir selusin lainnya terluka. Rentetan serangan tersebut menjadi salah satu gangguan terbesar terhadap penerbangan Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir. Menurut perusahaan analisis penerbangan Cirium, pembatalan penerbangan di seluruh bandara Saudi mencapai 46,4 persen.
Sejumlah maskapai dari Eropa, Asia, dan Timur Tengah turut mengubah jadwal penerbangan mereka.
Lufthansa membatalkan penerbangan ke Riyadh hingga 16 Oktober, sedangkan Air France-KLM memperpanjang penangguhan layanan dari dan menuju kota tersebut hingga akhir bulan. Etihad Airways membatalkan penerbangan yang menghubungkan Abu Dhabi dengan Riyadh, Jeddah, dan Dammam, sementara Qatar Airways menghentikan sementara layanan ke Riyadh dan Dammam. Delta Air Lines juga menunda penerbangan perdana Atlanta-Riyadh yang semula dijadwalkan pada 23 Oktober hingga Maret 2027.
Risiko keselamatan penerbangan turut menjadi perhatian otoritas internasional. Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) memperluas peringatan terkait wilayah udara Saudi menyusul serangan rudal dan drone. Sementara itu, kelompok pemantau keselamatan penerbangan OPSGROUP menyarankan maskapai menghindari jalur penerbangan di bagian selatan Timur Tengah dan mempertimbangkan rute melalui Asia Tengah. Perubahan jalur tersebut dapat memperpanjang perjalanan dan membatasi pilihan penerbangan menuju sejumlah pusat penerbangan regional.
Pendiri OPSGROUP, Mark Zee, menilai intensitas serangan terhadap penerbangan sipil menjadi perhatian serius.
"Tingkat serangan intensif dan berkelanjutan terhadap penerbangan sipil ini belum pernah terjadi sebelumnya," katanya, dikutip dari
Reuters, Selasa, 13 Oktober 2026.
Zee menegaskan, kondisi tersebut menuntut penilaian ulang terhadap risiko penerbangan dan kehati-hatian yang lebih besar.
Dampaknya juga berpotensi meluas ke perekonomian Arab Saudi. Gangguan penerbangan mengancam kelancaran perjalanan bisnis dan penyelenggaraan sejumlah agenda penting di Riyadh bulan ini, termasuk konferensi investasi utama kerajaan dan Kongres Energi WPC. Sejumlah eksekutif perusahaan minyak bahkan telah dihapus dari agenda acara tersebut.
Di tengah proyeksi kontraksi produk domestik bruto (PDB) riil Saudi sebesar 3,6 persen tahun ini, rangkaian serangan tersebut menambah tekanan terhadap prospek ekonomi negara itu, yang juga dibayangi melemahnya aktivitas minyak.