Presiden AS Donald Trump (Foto: White House)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka kemungkinan negaranya ikut melancarkan serangan terhadap kelompok Houthi di Yaman.
Pertimbangan Trump menyusul serangan rudal Houthi yang kembali diluncurkan ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi pada Sabtu waktu setempat, 10 Oktober 2026.
Serangan tersebut menambah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan operasi militer besar terhadap Houthi sepekan sebelumnya.
Seorang pejabat regional mengatakan, rudal menghantam kompleks yang menampung Terminal 3 dan 4 untuk penerbangan domestik, menyebabkan sejumlah orang terluka.
Menanggapi serangan terbaru itu, Trump menyatakan pemerintahannya tengah mengevaluasi kemungkinan bergabung dengan operasi militer Arab Saudi untuk menghadapi kelompok Houthi yang didukung Iran.
Dia menegaskan keputusan akan diambil setelah mempertimbangkan perkembangan terbaru.
“Kami mungkin akan melakukannya. Kami akan mempertimbangkannya. Kami baru saja mengetahui serangan terbaru tersebut. Jadi, kami akan mengambil keputusan. Kami bergerak sangat cepat,” ujarnya, seperti dikutip dari
Associated Press (AP), Minggu, 11 Oktober 2026.
Otoritas penerbangan sipil Saudi menghentikan operasional bandara untuk sementara waktu sembari menilai dampak serangan.
Sejumlah penerbangan dialihkan ke bandara lain, sementara Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Australia, dan Kanada memperingatkan warga negaranya agar menghindari lokasi tersebut.
Situs pelacakan penerbangan FlightAware mencatat sedikitnya 291 penerbangan di Bandara Riyadh dibatalkan dalam 24 jam terakhir.
Di tengah meningkatnya ancaman, Arab Saudi juga dilaporkan menghadapi penurunan persediaan rudal pencegat.
Pejabat regional mengatakan kepada
AP bulan lalu bahwa Riyadh telah meminta Prancis, Inggris, Pakistan, dan Mesir memberikan dukungan pertahanan udara.
Sementara itu, bantuan AS dalam operasi terbaru meliputi pertukaran intelijen, identifikasi target, dan perencanaan serangan terhadap Houthi.
Di sisi lain, Arab Saudi dan Oman menegaskan pentingnya penyelesaian diplomatik untuk meredakan ketegangan regional.