Wamenlu Anis Matta (Foto: Kemlu RI)
Wakil Menteri Luar Negeri Muhammad Anis Matta mendorong peningkatan nilai perdagangan Indonesia dan Bangladesh hingga mencapai dua digit dalam lima hingga 10 tahun ke depan.
Target tersebut dinilai realistis dengan mempertimbangkan besarnya potensi ekonomi serta jumlah penduduk kedua negara yang mencapai hampir 500 juta jiwa.
"Wamenlu berkeyakinan bahwa angka tersebut dapat ditingkatkan menjadi dua digit sebagai target pada 5 atau 10 tahun ke depan," ungkap Anis Matta dalam kunjungan kerja ke Dhaka, Bangladesh, pada 6-8 Oktober 2026, dikutip dari Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Jumat, 9 Oktober 2026.
Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Anis Matta bertemu dengan sejumlah pejabat tinggi Bangladesh untuk membahas penguatan kerja sama di bidang perdagangan, investasi, energi, pariwisata, dan hubungan antarmasyarakat.
Pada 2025, nilai perdagangan Indonesia-Bangladesh tercatat mencapai 4 miliar Dolar AS. Angka tersebut menempatkan Bangladesh sebagai mitra dagang terbesar keempat Indonesia di antara negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), setelah Malaysia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Anis Matta menilai capaian tersebut masih berpeluang ditingkatkan seiring terbukanya ruang pertumbuhan ekonomi kedua negara.
Salah satu langkah yang dibahas untuk mendorong peningkatan perdagangan adalah pengembangan perundingan Preferential Trade Agreement (PTA) menuju Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).
Kerangka kerja sama ini diharapkan dapat mengintegrasikan perdagangan, investasi, dan jasa sehingga membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi kedua negara dalam jangka menengah dan panjang.
Selain perluasan akses perdagangan, kedua negara turut membahas upaya menyeimbangkan neraca perdagangan.
Bangladesh menginginkan produk farmasi dan rami (jute) yang kompetitif dari negaranya memperoleh peluang lebih besar untuk memasuki pasar Indonesia.
Menanggapi hal tersebut, Anis Matta berpandangan bahwa keseimbangan perdagangan dapat diupayakan melalui pertukaran produk yang saling melengkapi kebutuhan kedua negara.
Di sektor energi, Indonesia dan Bangladesh juga mendorong kerja sama konkret, mulai dari perdagangan batu bara, gas alam cair (LNG), dan bahan bakar minyak (BBM), hingga pembangunan infrastruktur energi serta pengembangan energi baru dan terbarukan.
Pertamina dan PLN termasuk badan usaha milik negara yang telah menjajaki peluang proyek di Bangladesh melalui mekanisme tender maupun kerja sama antarpemerintah.
Peluang penguatan hubungan ekonomi juga ditopang oleh ekspansi investasi perusahaan Indonesia di Bangladesh.
Salah satunya, Alfamart yang telah mengoperasikan 11 gerai di sejumlah titik di Dhaka sejak pertama kali hadir pada 2025.
Selain itu, kemudahan akses visa dan pembukaan penerbangan langsung Indonesia-Bangladesh turut menjadi agenda yang didorong untuk mempererat hubungan antarmasyarakat sekaligus mendukung peningkatan perdagangan, investasi, dan pariwisata kedua negara.