Berita

Anggota Wantimpres Rocky Gerung (Foto: RMOL/Hani Fatunnisa)

Opini Pakar

Biarkan Rocky Gerung Berkomunikasi dengan Caranya Sendiri di Istana

KAMIS, 08 OKTOBER 2026 | 21:33 WIB

ADA sesuatu yang menarik ketika seorang pengkritik berada cukup dekat dengan pusat kekuasaan. Ia bisa kehilangan suara, tetapi ia juga bisa menemukan ruang baru untuk menyampaikan kritik. Karena itu, jika Rocky Gerung benar-benar diberi ruang untuk berkomunikasi dengan Istana, tidak perlu buru-buru melihatnya sebagai bentuk penjinakan politik. Justru sebaliknya, biarkan Rocky Gerung berkomunikasi dengan caranya sendiri.

Rocky selama ini dikenal bukan karena bahasa yang halus. Ia membangun reputasinya melalui kritik yang tajam, argumentasi yang provokatif, dan keberanian mempertanyakan hampir semua hal yang dianggap mapan. Ia sering berada di luar lingkar kekuasaan dan berbicara sebagai intelektual yang mengambil posisi kritis terhadap pemerintah.

Maka, ketika muncul gagasan atau kemungkinan Rocky berada lebih dekat dengan Istana, pertanyaan publik menjadi wajar, apakah Rocky masih akan menjadi Rocky?


Pertanyaan itu penting, tetapi mungkin bukan pertanyaan yang paling tepat.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang terjadi ketika suara kritis justru diberi akses masuk ke dalam ruang kekuasaan?

Demokrasi tidak hanya membutuhkan orang yang pandai memuji pemerintah. Demokrasi juga membutuhkan orang yang bersedia mengatakan bahwa kebijakan tertentu keliru, komunikasi pemerintah buruk, atau keputusan politik memiliki konsekuensi yang tidak diperhitungkan.

Dalam konteks tersebut, keberadaan figur kritis di lingkungan kekuasaan sebenarnya dapat menjadi aset. Kritik dari luar sering kali hanya berhenti sebagai suara publik. Kritik dari dalam mempunyai peluang untuk menjadi masukan langsung sebelum sebuah keputusan diambil.

Di sinilah Rocky menarik.

Ia mempunyai gaya komunikasi yang berbeda. Tidak semua orang menyukai caranya berbicara. Bahkan sebagian orang mungkin menganggap gaya retorikanya terlalu tajam atau terlalu provokatif. Tetapi justru karakter itulah yang membuatnya berbeda dari komunikator politik konvensional.

Karena itu, saat ini ia berada di lingkungan Istana, jangan berharap Rocky tiba-tiba berubah menjadi juru bicara pemerintah.

Biarkan ia tetap menjadi Rocky.

Biarkan ia bertanya dengan caranya. Biarkan ia mengkritik dengan bahasanya. Biarkan ia mempertanyakan asumsi yang dianggap sudah benar. Dan, yang paling penting, biarkan ia menjadi semacam "pengganggu intelektual" di tengah sistem yang secara alamiah cenderung mencari kenyamanan dari orang-orang yang selalu mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

Kekuasaan memiliki kecenderungan psikologis untuk membangun ruang gema. Di dalam ruang tersebut, pemimpin sering kali mendengar informasi yang telah disaring, laporan yang telah dirapikan, dan pandangan yang sudah disesuaikan dengan ekspektasi atasan.

Kehadiran orang yang berbeda pandangan dapat memecah ruang gema tersebut.

Namun, ada syaratnya.

Rocky juga harus memahami bahwa berada dekat dengan kekuasaan membawa tanggung jawab yang berbeda dibandingkan menjadi pengamat dari luar. Kritik tidak cukup hanya tajam. Kritik harus memiliki basis data, argumentasi dan konsekuensi yang jelas.

Di luar pemerintahan, seseorang bisa mengatakan apa saja dengan risiko politik yang relatif lebih kecil. Di dalam pemerintahan, setiap pernyataan dapat memiliki konsekuensi terhadap pasar, birokrasi, hubungan politik, bahkan persepsi masyarakat terhadap negara.

Karena itu, komunikasi Rocky di Istana seharusnya tidak diarahkan untuk membungkam karakter kritisnya, tetapi untuk meningkatkan kualitas argumentasinya.

Jika Rocky memberikan kritik, pemerintah tidak perlu tersinggung. Jika Rocky mempertanyakan kebijakan, pemerintah tidak perlu merasa kehilangan wibawa. Dan jika Rocky berbeda pendapat, perbedaan tersebut tidak harus diperlakukan sebagai pembangkangan.

Justru di situlah demokrasi bekerja.

Istana yang kuat bukan Istana yang hanya dikelilingi oleh orang-orang yang sepemikiran. Istana yang kuat adalah Istana yang cukup percaya diri untuk mendengarkan orang yang berbeda pandangan.

Karena itu, publik juga perlu menghindari jebakan sederhana, menganggap setiap intelektual yang masuk ke lingkar kekuasaan otomatis telah "dibeli" kekuasaan.

Tidak selalu demikian.

Ada orang yang masuk ke dalam sistem untuk mencari jabatan. Ada pula yang masuk untuk memengaruhi sistem dari dalam. Perbedaannya baru dapat dinilai dari waktu ke waktu, apakah ia masih mampu mengatakan "tidak", apakah ia masih mampu mengkritik keputusan yang keliru, dan apakah ia masih memiliki independensi intelektual ketika berhadapan dengan kekuasaan.

Rocky akan diuji bukan ketika ia mengkritik pemerintah dari luar.

Ia akan diuji ketika kritik itu harus disampaikan kepada orang yang memiliki kewenangan mengambil keputusan. Di situlah nilai seorang intelektual terlihat.

Jika akhirnya Rocky hanya menjadi pelengkap citra Istana, maka publik berhak kecewa. Tetapi jika ia mampu membawa tradisi berpikir kritis masuk ke dalam ruang kekuasaan tanpa kehilangan independensinya, kehadirannya justru dapat menjadi eksperimen demokrasi yang menarik.

Maka, biarkan Rocky Gerung berkomunikasi dengan caranya sendiri di Istana. Tidak perlu memintanya menjadi jinak. Tidak perlu pula memintanya menjadi oposisi dari dalam. Yang diperlukan adalah ruang bagi perbedaan pikiran.

Sebab kekuasaan yang hanya mendengar pujian akan mudah kehilangan arah. Sebaliknya, kekuasaan yang bersedia mendengar kritik memiliki kesempatan lebih besar untuk mengoreksi dirinya sendiri.

Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah Rocky Gerung berada di luar atau di dalam Istana.

Persoalan sesungguhnya adalah apakah ketika berada dekat dengan kekuasaan, ia masih memiliki keberanian untuk mengatakan apa yang menurutnya benar dan apakah Istana masih memiliki keberanian untuk mendengarnya.

Jika dua hal itu bertemu, kehadiran Rocky bukan ancaman bagi Istana. Justru bisa menjadi cermin.

Safriady 
Pemerhati Isu Strategis

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Ketua KNPI Merauke Ajak Generasi Muda Berkontribusi bagi Kemajuan Daerah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 04:19

Kedaulatan Teknologi Faktor Penting Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia

Kamis, 29 Oktober 2026 | 03:55

PKS Desak Pemerintah Bersikap Proporsional Terkait MSCI

Kamis, 29 Oktober 2026 | 03:25

Solusi Kasus Business Judgement Rule Sektor Perumahan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:57

Waka BRIN Pimpin Delegasi RI Perjuangkan Space Economic di Konferensi PBB

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:32

Pertamina Didorong Ambil Alih Proyek Migas Mangkrak Demi Genjot Produktivitas

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:12

KPK Endus Ada Kickback Vendor kepada Pejabat BNPB

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:59

Presiden PKS Wanti-wanti Bahaya AI sebagai Senjata Fitnah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:34

Masih Atur Waktu, KPK Bantah Ada Kendala dalam Pemanggilan Nusron

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:04

Polri Utamakan Pendekatan Humanis dan Edukatif Selama Operasi Patuh 2026

Kamis, 29 Oktober 2026 | 00:42

Selengkapnya