Gedung Bursa Efek Indonesia (Foto: RMOL/Reni Erina)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan penguatan pada awal perdagangan. Setelah sempat menyentuh level 6.214, IHSG berbalik melemah dan menutup sesi I perdagangan 7 Oktober 2026 di level 6.158,782.
IHSG turun 34,145 poin atau 0,55 persen pada perdagangan sesi I. Sepanjang sesi, indeks bergerak dalam rentang 6.146,02 hingga 6.214,76 setelah dibuka di level 6.210,42.
Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan jual mulai menguat setelah IHSG sempat melanjutkan momentum positif dari perdagangan sebelumnya. Tak lama setelah pembukaan, indeks sempat naik ke level 6.214,76 sebelum berbalik arah dan masuk ke zona merah.
IHSG kemudian beberapa kali mencoba bangkit ke area 6.200, tetapi kembali menghadapi tekanan jual. Menjelang perdagangan siang, indeks bergerak relatif sideways di kisaran 6.150–6.170 dan akhirnya bertahan di dekat level terendah sesi.
Tekanan tersebut tercermin dari komposisi saham yang diperdagangkan. Sebanyak 345 saham melemah, sementara 261 saham menguat dan sisanya bergerak stagnan.
Dari sebelas indeks sektoral, hanya sektor keuangan yang berhasil bertahan di zona hijau dengan kenaikan 0,21 persen. Sebaliknya, sektor energi menjadi salah satu penekan utama setelah turun 1,38 persen.
Tekanan juga datang dari sektor industri yang melemah 1,33 persen, properti dan real estat turun 0,92 persen, infrastruktur terkoreksi 0,91 persen, serta barang baku turun 0,79 persen.
Sektor teknologi turun 0,34 persen, barang konsumer nonprimer melemah 0,40 persen, kesehatan turun 0,65 persen, barang konsumer primer terkoreksi 0,07 persen, dan transportasi serta logistik turun 0,42 persen.
Di pasar saham berkapitalisasi besar, Indeks LQ45 turun 0,16 persen ke level 607,201. Indeks IDX30 juga melemah 0,15 persen menjadi 336,621, sedangkan Jakarta Islamic Index (JII) turun 0,49 persen ke 367,901. Indeks MNC36 terkoreksi 0,10 persen ke level 266,561.
Dari sisi saham, PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), PT United Tractors Tbk (UNTR), dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi sejumlah saham yang membebani pergerakan IHSG.
Di sisi lain, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), serta PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA) masih memberikan dukungan terhadap indeks.
Aktivitas transaksi hingga penutupan sesi I mencapai 212,49 juta lot dengan nilai transaksi Rp4.772,24 miliar atau sekitar Rp4,77 triliun. BBCA, GOTO, dan TLKM tercatat sebagai tiga saham dengan nilai transaksi terbesar.
Pergerakan pasar pada perdagangan 7 Oktober 2026 juga masih dipengaruhi oleh sentimen global dan ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter. Dari dalam negeri, investor mencermati rilis data cadangan devisa Indonesia untuk melihat kondisi eksternal serta ruang stabilisasi Rupiah.
Perhatian pasar global selanjutnya tertuju pada risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan terbit pada dini hari 8 Oktober 2026 pukul 01.00 WIB. Risalah tersebut akan menjadi bahan bagi investor untuk membaca arah kebijakan moneter The Fed dan dampaknya terhadap Dolar AS, pasar obligasi, serta bursa saham.
Dengan berbaliknya IHSG dari zona hijau ke merah pada sesi I, investor kini akan mencermati apakah tekanan jual berlanjut pada sesi II atau indeks mampu kembali mengurangi pelemahannya.