Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)
Bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali mendapat tenaga setelah tekanan dari harga minyak dan imbal hasil obligasi mulai mereda.
Kondisi ini membuat perhatian investor beralih ke musim laporan keuangan kuartal III yang akan dimulai pekan depan.
Pada penutupan perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026, indeks Dow Jones Industrial Average naik 253,14 poin atau 0,49 persen menjadi 51.521,04. Sementara S&P 500 bertambah 45 poin atau 0,58 persen ke 7.818,95 dan Nasdaq Composite menguat 122,48 poin atau 0,45 persen menjadi 27.599,79. Kenaikan tersebut membawa S&P 500 dan Nasdaq mencatat rekor penutupan tertinggi sepanjang masa.
Dari 11 sektor utama S&P 500, sebanyak 10 sektor berakhir di zona hijau. Sektor utilitas memimpin kenaikan, sedangkan sektor kesehatan menjadi satu-satunya sektor yang melemah.
Saham-saham perusahaan teknologi raksasa juga ikut menopang penguatan pasar. Enam dari tujuh saham yang masuk kelompok Magnificent Seven mencatat kenaikan, meski saham-saham berkapitalisasi kecil masih tertinggal dibandingkan perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar.
Sejumlah saham terkait kecerdasan buatan (AI) mencatat penguatan signifikan. Marvell Technology melonjak 5,8 persen setelah menaikkan proyeksi pendapatan 2028 karena kuatnya permintaan chip untuk pusat data. AMD juga naik 2,8 persen setelah CEO Lisa Su mengatakan perusahaan berencana meningkatkan pasokan chip secara signifikan pada 2027 untuk memenuhi lonjakan permintaan AI.
Constellation Energy menjadi salah satu saham dengan kenaikan terbesar, melonjak 12,3 persen setelah Alphabet, perusahaan induk Google, menyepakati kerja sama penyediaan listrik berkapasitas 3.590 megawatt. Sementara saham Option Care Health melesat 32,7 persen setelah McKesson dan perusahaan ekuitas swasta Clayton Dubilier & Rice sepakat mengakuisisi perusahaan tersebut dalam transaksi senilai sekitar 5,8 miliar Dolar AS termasuk utang.
Penguatan bursa juga ditopang stabilnya harga minyak mentah dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Meredanya harga minyak mengurangi kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi yang dipicu energi, sehingga memberikan ruang bagi saham untuk bergerak lebih tinggi.
Di tengah optimisme tersebut, pasar masih mencermati arah kebijakan Federal Reserve. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga kedua secara beruntun pada pertemuan bulan ini semakin menurun. Data FedWatch CME menunjukkan probabilitasnya turun menjadi 19,4 persen dari 50,9 persen sepekan sebelumnya.