Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bursa

Kilau Emas Kembali Bersinar Didorong Koreksi Obligasi AS

RABU, 07 OKTOBER 2026 | 07:50 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga emas dunia kembali mencatatkan penguatan, didorong oleh jeda kenaikan imbal hasil US Treasury serta pelemahan nilai tukar Dolar AS. 

Pasar saat ini tengah menanti risalah pertemuan Federal Reserve (The Fed) guna mencari arah kepastian kebijakan moneter ke depan.

Berdasarkan laporan Reuters, emas spot ditutup naik sebesar 0,7 persen ke level 4.168,33 Dolar AS per ons pada perdagangan Selasa 6 Oktober 2026. Kenaikan serupa juga terjadi pada kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Desember yang melompat 0,7 persen menjadi 4.187,10 Dolar AS per ons.


Koreksi imbal hasil dan Dolar menjadi salah satu pemicu utama. Imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun mereda setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Bersamaan dengan itu, Dolar AS melemah dari puncak tertingginya dalam satu tahun, membuat harga emas menjadi jauh lebih menarik bagi pemegang mata uang lain.

Sementara itu, pergerakan di pasar logam mulia lainnya menunjukkan hasil yang bervariasi. Harga perak terpantau menguat 0,8 persen menjadi 61,56 Dolar AS per ons, platinum terkoreksi 1 persen ke posisi 1.704,85 Dolar AS per ons, sedangkan paladium stabil tanpa perubahan di level 1.172,80 Dolar AS per ons.

Sentimen Eropa dan utang global turut membayangi pasar yang dihantui kekhawatiran atas melebarnya defisit anggaran serta lonjakan utang di kawasan euro, khususnya Prancis. Ketidakpastian fiskal ini memicu lonjakan yield obligasi pemerintah dan memperkuat status emas sebagai pelindung aset.

Selain itu, perhatian investor kini menantikan rilis risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September untuk mengukur peluang kelanjutan kenaikan suku bunga tahun ini, menyusul data pertumbuhan lapangan kerja AS yang melambat pada September lalu. 

Berdasarkan data FedWatch Tool CME Group, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober kini berada di angka 22 persen, sementara proyeksi untuk bulan Desember masih bertahan tinggi di kisaran 84 persen. 

Meskipun dinamika pasokan energi global sempat menekan komoditas lain, seperti harga minyak yang merosot akibat kuatnya ekspor Timur Tengah dan pelepasan cadangan darurat G7, prospek jangka panjang emas tetap diyakini solid.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Bos Danantara Ungkap Proses Pangkas BUMN Tak Mudah

Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:11

Hingga Siang Nusron Belum Hadir, KPK Masih Menunggu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:53

PJBS Direvisi, Porsi Saham Bayan Resources yang Dibeli Haji Isam Bertambah Jadi 10,08 Miliar

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:44

Nasib Gibran Kini Tergantung Prabowo

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:37

Empat WNI Pulang ke Tanah Air usai Enam Bulan Disandera Bajak Laut Somalia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

PDIP: Kebohongan Gibran Lulus SMA Sederajat Tercatat dalam Putusan Negara!

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

Putusan MK soal Gibran Buka Perdebatan Demokrasi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:21

DPR Minta Pemerintah Percepat Huntara bagi Korban Gempa Flores

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:19

Rita Widyasari Kembali Diperiksa KPK

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:17

Badai Dekati Amerika, Harga Minyak Naik Lagi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:01

Selengkapnya