Berita

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)

Pemerintahan

Airlangga Ungkap Alasan Ekonomi RI Kalah Ngebut dari Vietnam

SELASA, 06 OKTOBER 2026 | 18:12 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkap sejumlah faktor yang membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tertinggal dibandingkan Vietnam.

Menurut Airlangga, pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata masih berada di kisaran 5 persen, sementara Vietnam mampu melaju hingga sekitar 9 persen. Ia menuturkan, salah satu penyebabnya adalah Vietnam yang lebih cepat melakukan transformasi menuju industri berbasis teknologi tinggi.

"Kita rata-rata 5 persen, kalau kita mau mengejar Vietnam yang bisa mencapai 9 persen, maka kita harus lari juga ke digitalisasi, semikonduktor, AI. Jadi itu seluruhnya leverage yang Vietnam sudah lakukan lebih dulu dari Indonesia," kata Airlangga dalam acara BIG Downstream Insight di Jakarta, Selasa, 6 Oktober 2026.


Airlangga menjelaskan, Indonesia saat ini masih berada pada tahap industri menengah dan belum sepenuhnya naik ke sektor jasa modern serta ekonomi digital.

Ia mengibaratkan proses transformasi ekonomi tersebut seperti menaiki eskalator. Setelah bergerak dari sektor pertanian menuju industri, Indonesia perlu melanjutkan langkah ke digitalisasi dan jasa modern.

"Kalau kita melihat ekonomi dalam bentuk eskalator, jadi dari agriculture kita naik eskalatornya ke industri, dari industri ini harus dinaikkan lagi ke digitalisasi, services, dan lain-lain. Vietnam sudah ke sana, India juga sudah di sana, maka kita yang belum naik dari level 2 ke level 3. Kalau itu kita bisa lakukan, maka pertumbuhan 8 persen itu bisa dicapai," jelasnya.

Selain transformasi industri, Airlangga menyoroti skala Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang menurutnya menjadi salah satu keunggulan Vietnam dalam menarik investasi.

Ia menyebut luas KEK Indonesia saat ini baru sekitar 24.000 hektare. Sementara Vietnam memiliki kawasan ekonomi lebih dari 2 juta hektare.

"Jadi dia lebih masif dari kita, lebih berani, dan sebetulnya dari segi kepastian usaha mereka juga memberikan pelayanan yang baik kepada para investor," tutur Airlangga.

Tak hanya investasi, keunggulan Vietnam juga terlihat dari agresivitasnya mengamankan akses perdagangan ke pasar global. Vietnam disebut lebih dahulu menyelesaikan kerja sama perdagangan dengan Uni Eropa maupun mendapatkan perlakuan tarif dan non-tarif yang lebih baik dari Amerika Serikat.

"Kita tentu ada persaingan dengan Vietnam, dan satu hal yang mereka mendahului kita adalah mereka sudah menandatangani kerja sama dengan Eropa lebih dulu dari kita, CEPA. Kemudian dengan Amerika Serikat juga mereka mendapatkan treatment daripada tarif dan non-tarif yang lebih baik dari Indonesia," jelasnya lagi.

Menurut Airlangga, kondisi tersebut turut mendorong ekspor Vietnam tumbuh lebih cepat dibandingkan Indonesia. Namun, model pertumbuhan Vietnam juga memiliki keterbatasan karena tidak ditopang pasar domestik sebesar Indonesia.

"Jadi inilah yang mendorong Vietnam ekspornya lebih cepat dari kita, namun mereka tidak punya domestic market. Jadi mereka yang menanam investasi di Vietnam itu harus mendorong untuk menuju ekspor," pungkasnya.


Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

DPR Minta Pemerintah Perkuat Insfrastruktur Kesehatan

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:28

Obligasi Global Perdana Danantara Laris

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:13

Legislator PDIP Ini Janji Perjuangkan Alsintan

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:57

Pengurangan Angka Pelanggaran Jadi Indikator Keberhasilan Operasi Patuh Jaya 2026

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:44

KNMP Potensi Menjawab Kebutuhan Nelayan Kecil

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:30

Sinopsis dan Kisah Kelam Clayface, Musuh Ikonik Batman

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:19

Pemakzulan Gibran Harus Lewat Jalur Konstitusi, Bukan cuma Tekanan Politik

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:15

Jelang Pemilu, Oposisi Israel Klaim Netanyahu Tak Layak Pimpin Negara

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:58

Pemerintah Siapkan Skema Baru Pengadaan Energi, Negara Bakal Deal Langsung dengan Pemasok

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:57

KPU Perlu Fokus Benahi Pemilu 2029

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:53

Selengkapnya