Berita

Juru Bicara Presiden ke-4 RI Adhie M Massardi. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Hukum

Belajar dari Jerman soal Etika Pejabat Publik dan HAM

SELASA, 06 OKTOBER 2026 | 17:31 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pengalaman Jerman dalam membangun negara setelah melewati sejarah kelam dinilai memberikan pelajaran penting bagi Indonesia, khususnya terkait perlindungan HAM dan etika pejabat publik.

Tenaga Ahli Kementerian Hak Asasi Manusia (KemenHAM), Adhie M Massardi, mengatakan ada dua pelajaran moral utama dari Jerman, yakni menempatkan martabat manusia sebagai fondasi konstitusi dan menjaga kepercayaan publik dalam kepemimpinan.

Menurut Adhie, prinsip tersebut tercermin dalam Grundgesetz atau Hukum Dasar Jerman yang menempatkan martabat manusia sebagai prinsip tertinggi.


"Negara ada untuk mengabdi pada manusia, bukan sebaliknya," kata Adhie kepada wartawan, Selasa, 6 Oktober 2026.

Ia juga menyoroti Ewigkeitsklausel atau Klausul Keabadian yang memberikan perlindungan terhadap prinsip-prinsip fundamental konstitusi. Menurutnya, pembangunan dan stabilitas politik tidak boleh menjadi alasan untuk mengorbankan HAM dan martabat warga negara.

Dalam hal etika pejabat publik, Adhie mencontohkan pengunduran diri Presiden Federal Jerman Christian Wulff pada 2012 di tengah isu gratifikasi dan krisis kepercayaan publik. Meski kemudian dibebaskan dari tuduhan korupsi pada 2014, kasus tersebut dinilai menunjukkan bahwa standar pejabat publik tidak berhenti pada pembuktian hukum.

"Hukum adalah batas minimum, tetapi etika berada jauh di atas hukum," ujar Juru Bicara Presiden ke-4 RI ini.

Adhie menilai pejabat publik tidak cukup hanya bersih secara hukum, tetapi juga harus menjaga kepercayaan masyarakat dan kehormatan institusi negara.

Ia mengingatkan budaya politik Indonesia masih kerap berlindung di balik argumen bahwa suatu tindakan belum terbukti melanggar hukum.

"Kebiasaan bersembunyi di balik argumen 'belum terbukti melanggar hukum' menunjukkan bahwa budaya politik kita masih terjebak pada legalisme sempit dan belum sepenuhnya menyerap esensi etika publik," jelasnya.

"Dari Jerman kita belajar dua hal mendasar: bahwa martabat rakyat adalah mahkota tertinggi konstitusi, dan kepercayaan rakyat adalah nyawa utama dari kepemimpinan publik," demikian Adhie.


Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

DPR Minta Pemerintah Perkuat Insfrastruktur Kesehatan

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:28

Obligasi Global Perdana Danantara Laris

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:13

Legislator PDIP Ini Janji Perjuangkan Alsintan

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:57

Pengurangan Angka Pelanggaran Jadi Indikator Keberhasilan Operasi Patuh Jaya 2026

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:44

KNMP Potensi Menjawab Kebutuhan Nelayan Kecil

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:30

Sinopsis dan Kisah Kelam Clayface, Musuh Ikonik Batman

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:19

Pemakzulan Gibran Harus Lewat Jalur Konstitusi, Bukan cuma Tekanan Politik

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:15

Jelang Pemilu, Oposisi Israel Klaim Netanyahu Tak Layak Pimpin Negara

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:58

Pemerintah Siapkan Skema Baru Pengadaan Energi, Negara Bakal Deal Langsung dengan Pemasok

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:57

KPU Perlu Fokus Benahi Pemilu 2029

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:53

Selengkapnya