Berita

Ketua DPR RI Puan Maharani (Tangkapan layar dari TV Parlemen)

Parlemen

RUU Perampasan Aset Resmi Jadi Usul DPR

SELASA, 06 OKTOBER 2026 | 13:56 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perampasan Aset terkait Tindak Pidana resmi menjadi usul DPR setelah disetujui dalam Rapat Paripurna ke-9 DPR Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026–2027, Selasa, 6 Oktober 2026. 

Persetujuan ini diambil setelah perwakilan fraksi-fraksi partai politik menyampaikan pendapat secara tertulis.

Ketua DPR Puan Maharani kemudian meminta persetujuan peserta rapat paripurna yang dihadiri oleh 326 anggota dewan.


“Kami menanyakan kepada sidang dewan yang terhormat, apakah RUU usul inisiatif Komisi III DPR tentang Perampasan Aset terkait Tindak Pidana dapat disetujui menjadi RUU usul DPR?” tanya Puan.

“Setuju,” jawab peserta rapat paripurna.

Selanjutnya, RUU tersebut akan dibahas oleh Komisi III DPR bersama pemerintah. Pembahasan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) dijadwalkan dimulai pada masa sidang berikutnya, yaitu 10 November 2026.

Ketua Komisi III DPR Habiburokhman menegaskan bahwa pihaknya menargetkan pembentukan Undang-Undang Perampasan Aset rampung paling lambat pada 15 Desember 2026.

“Kami bisa kembali tegaskan dan pastikan bahwa kita akan memiliki Undang-Undang Perampasan Aset paling lambat 15 Desember 2026,” ujarnya dalam keterangan tertulis beberapa saat sebelum rapat paripurna.

Habiburokhman mengatakan, sejak September 2025, Komisi III telah menyusun draf dan naskah akademik RUU tersebut dengan melibatkan partisipasi publik secara luas. Proses penyusunan ini mencakup sedikitnya 62 rapat dengar pendapat umum, delapan kunjungan kerja, puluhan kunjungan daerah pemilihan, serta ratusan aspirasi tertulis yang telah dihimpun.

Menurut Habiburokhman, mayoritas masyarakat memberikan dukungan terhadap pengesahan RUU Perampasan Aset. Kendati demikian, publik juga menitipkan pesan agar aturan tersebut tidak disalahgunakan sebagai instrumen kekuasaan.

“Dari rangkaian kegiatan tersebut, kami mendapat gambaran bahwa sebagian besar masyarakat mendukung pengesahan RUU Perampasan Aset dan meminta agar undang-undang ini tidak menjadi alat kekuasaan terhadap lawan politik ataupun alat aparat penegak hukum untuk melakukan pemerasan,” pungkasnya.


Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

DPR Minta Pemerintah Perkuat Insfrastruktur Kesehatan

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:28

Obligasi Global Perdana Danantara Laris

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:13

Legislator PDIP Ini Janji Perjuangkan Alsintan

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:57

Pengurangan Angka Pelanggaran Jadi Indikator Keberhasilan Operasi Patuh Jaya 2026

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:44

KNMP Potensi Menjawab Kebutuhan Nelayan Kecil

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:30

Sinopsis dan Kisah Kelam Clayface, Musuh Ikonik Batman

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:19

Pemakzulan Gibran Harus Lewat Jalur Konstitusi, Bukan cuma Tekanan Politik

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:15

Jelang Pemilu, Oposisi Israel Klaim Netanyahu Tak Layak Pimpin Negara

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:58

Pemerintah Siapkan Skema Baru Pengadaan Energi, Negara Bakal Deal Langsung dengan Pemasok

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:57

KPU Perlu Fokus Benahi Pemilu 2029

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:53

Selengkapnya