Berita

Ojahan Erikson Pakpahan (kanan). (Foto: Istimewa)

Hukum

Pimpinan Sinode GKPI Kecam Advokat Ojahan Pakpahan, Pembelaannya Lampaui Batas

SENIN, 05 OKTOBER 2026 | 16:38 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Sidang etik lanjutan atas dugaan pelanggaran Kode Etik Advokat yang dilakukan oleh Advokat Ojahan Erikson Pakpahan, terus bergulir. 

Pada sidang Jumat, 2 Oktober 2026, pengacara dari mantan narapidana KDRT Alpriado Osmond kembali dihadapkan pada tahap pembuktian.

Pdt. Henri Marpaung, selaku Korwil GKPI Wilayah XI yang hadir sebagai Saksi Pengadu, mengatakan bahwa Pimpinan Sinode Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) secara resmi telah melayangkan Pernyataan Sikap Resmi yang sangat keras kepada Majelis Dewan Kehormatan Peradi Jakarta. 


Surat bernomor 1434/I.2/X/2026 tertanggal 1 Oktober 2026 tersebut menyoroti dugaan pelanggaran Kode Etik Advokat yang dilakukan oleh Advokat Ojahan Erikson Pakpahan, (Teradu) atas pengaduan dari Pdt. Johannes Simanungkalit, (Pengadu).

Dalam surat yang ditandatangani langsung oleh Bishop GKPI Pdt. Dr. Humala Lumbantobing, dan Sekretaris Jenderal Pdt. Parsaoran Sinaga, pihak GKPI mengecam keras tindakan sepihak Teradu bersama pengurus LSM GRACIA Hisar Sihotang yang mengirimkan surat tekanan psikologis langsung kepada pucuk pimpinan jemaat. 

Tindakan tersebut dinilai sebagai bentuk intervensi luar batas yang menciderai independensi serta kehormatan institusi gereja.

Hal yang paling mengejutkan dalam pernyataan sikap ini adalah sorotan tajam GKPI terhadap taktik pembelaan Ojahan Pakpahan kepada kliennya yang bernama Alpriado Osmond. 

GKPI menegaskan bahwa hingga saat surat dikeluarkan, tidak ada satu pun putusan pengadilan yang menyatakan Pengadu melakukan pelanggaran hukum seperti yang dituduhkan oleh pihak Teradu.

Pimpinan Sinode GKPI menilai pembelaan yang dilakukan Ojahan Pakpahan telah melampaui batas kewajaran profesi (Officium Nobile). 

Advokat tersebut dituding justru menyebarkan fitnah dan merusak nama baik seorang pelayan Tuhan demi membela kliennya, yang secara tegas disebut oleh GKPI dalam surat sebagai "mantan Narapidana kasus KDRT".

GKPI secara tegas mengingatkan Dewan Kehormatan Peradi bahwa hak imunitas advokat memiliki batasan etis. Hak tersebut sama sekali tidak boleh dijadikan tameng atau perlindungan untuk melakukan tindakan melawan hukum, menyebarkan fitnah, ataupun melakukan teror psikologis di luar persidangan formal.

Menutup pernyataannya, Pimpinan Sinode GKPI menyatakan mendukung penuh ketegasan Majelis Hakim Dewan Kehormatan Peradi untuk memeriksa perkara ini secara objektif dan mendesak dijatuhkannya sanksi etik yang tegas kepada Ojahan Pakpahan demi menjaga marwah profesi hukum. 

Pihak gereja juga mengimbau seluruh jemaat dan publik untuk tetap tenang serta tidak terprovokasi, sembari mengawal kasus hukum dan etik ini hingga tuntas.

Sidang selanjutnya diagendakan pada hari Jumat, 9 Oktober 2026 dengan agenda Kesimpulan.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Sopir BYD Penyebab Tabrakan Beruntun di Jaksel jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:52

Asuransi Tugu Pratama Indonesia Digugat Rp3,51 Miliar ke PN Jaksel

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:27

Sukseskan Kemandirian Pangan, Petani Adat Wanam Butuh Pendampingan

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:10

DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi Sukses Diringkus Berkat Sinergitas

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:50

TNI Kirim 4,6 Ton Dry Ice ke Banjarmasin dan Palembang Sukseskan OMC Akhiri Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:25

Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:34

Walkot Bandung Kedepankan Koordinasi Sikapi Bentrokan Berdarah Pasar Caringin

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:14

Startup Binaan IPB Raih Potensi Kerja Sama Rp1 Miliar Tembus Pasar Oman

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:47

Dari Nasionalisme ke Tata Kelola dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:17

Boris Tampubolon Beri Tiga Alasan Pasal Kerugian Negara Harus Direvisi

Senin, 26 Oktober 2026 | 01:43

Selengkapnya