Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bursa

Laju Bitcoin Tertahan, Harga Turun ke 84.551 Dolar AS

SABTU, 03 OKTOBER 2026 | 13:59 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Reli Bitcoin mulai kehilangan tenaga. Harga aset kripto terbesar di dunia itu turun 2,3 persen menjadi 84.551 Dolar AS, menurut data CoinMarketCap, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Penurunan Bitcoin terjadi sejalan dengan pelemahan pasar kripto secara keseluruhan. Kapitalisasi pasar kripto turun sekitar 0,89 persen dalam 24 jam, sementara Bitcoin melemah sekitar 0,94 persen pada periode yang sama. Pergerakan ini menunjukkan pasar tengah memasuki fase konsolidasi setelah Bitcoin mencatat kenaikan 42,9 persen sepanjang kuartal III.

Tekanan jual tersebut belum disertai kabar negatif besar yang secara khusus menekan Bitcoin. Sebaliknya, sejumlah sentimen positif masih muncul dari perkembangan sebelumnya, termasuk Citigroup yang menaikkan target harga Bitcoin menjadi 113.000 Dolar AS dan kembali masuknya dana ke ETF Bitcoin spot AS pada 1 Oktober.


Karena itu, pelemahan Bitcoin saat ini lebih mencerminkan aksi ambil untung dan koreksi teknis setelah reli sebelumnya. Pergerakannya juga memiliki korelasi sebesar 82 persen dengan emas dalam 24 jam terakhir, mengindikasikan bahwa kedua aset tersebut turut dipengaruhi oleh faktor makro yang serupa.

Dari sisi teknikal, Bitcoin kini menguji level support Fibonacci 0,618 di sekitar 84.012 Dolar AS. Level tersebut menjadi area penting bagi investor karena kemampuan Bitcoin bertahan di atasnya dapat menentukan arah pergerakan selanjutnya.

Jika support tersebut mampu dipertahankan dan arus dana ke ETF Bitcoin kembali berlanjut, Bitcoin berpotensi mencoba menguji kembali level tertinggi September di sekitar 87.300 Dolar AS. Namun, jika tekanan jual semakin kuat, area 84.012 Dolar AS akan menjadi titik yang perlu diperhatikan pasar.

Perhatian berikutnya akan tertuju pada kebijakan moneter AS. Pertemuan Federal Reserve pada 28 Oktober menjadi salah satu agenda penting karena sinyal mengenai arah suku bunga dapat memengaruhi sentimen terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya