Berita

Laksma TNI Salim. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Publika

Al-Qur’an dan Jalan Kebangkitan Peradaban Indonesia

SABTU, 03 OKTOBER 2026 | 11:25 WIB

SETIAP bangsa besar pada akhirnya akan kembali kepada satu pertanyaan mendasar: siapakah dirinya? Sebab bangsa yang tidak mengenali jati dirinya akan mudah kehilangan arah, mudah menerima narasi dari luar, dan mudah menganggap masa lalunya sebagai sesuatu yang asing. Bagi Indonesia, pertanyaan tentang jati diri bukan sekadar persoalan sejarah, tetapi juga persoalan spiritual, kebudayaan, dan masa depan peradaban. Karena itu, upaya membangun Indonesia yang maju tidak cukup hanya dengan membangun jalan, pelabuhan, teknologi, ekonomi, dan kekuatan pertahanan. Bangsa ini juga harus membangun kembali kesadaran tentang siapa dirinya dan dari mana akar peradabannya berasal.

Dalam perspektif Islam, Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca untuk memperoleh ketenangan batin. Al-Qur’an dipahami sebagai petunjuk, sumber hikmah, dan ayat-ayat yang mengajak manusia membaca tanda-tanda kebesaran Allah dalam diri, alam, sejarah, dan perjalanan kehidupan manusia. Ungkapan bahwa Al-Qur’an adalah “bukti tiap sesuatu” harus dipahami sebagai dorongan untuk membaca realitas dengan kesadaran tauhid: ilmu, sejarah, alam semesta, dan peradaban bukan sesuatu yang terpisah dari pencarian manusia kepada kebenaran.

Indonesia memiliki warisan sejarah yang sangat kaya. Namun, sejarah Indonesia juga dibentuk oleh pengalaman kolonialisme, termasuk melalui cara pengetahuan tentang Nusantara dikumpulkan, ditulis, diklasifikasikan, dan diwariskan. Di sinilah diperlukan sikap kritis. Bukan dengan menolak seluruh historiografi yang ada, tetapi dengan menguji kembali sumber, prasasti, manuskrip, bahasa, tradisi lisan, arkeologi, dan berbagai peninggalan Nusantara secara terbuka dan ilmiah. Tuduhan bahwa seluruh peninggalan sejarah Indonesia merupakan hasil rekayasa kolonial tidak dapat diterima begitu saja tanpa bukti; demikian pula berbagai teori tentang tujuan kolonial untuk memutus hubungan bangsa Indonesia dengan leluhurnya perlu diuji berdasarkan sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.


Dalam konteks pencarian kembali akar peradaban tersebut, kajian anak bangsa seperti Kyai Haji Fahmi Basya Hamdi, termasuk gagasannya mengenai matematika Islam dan kepurbakalaan Indonesia, menarik untuk dikaji secara serius. Begitu pula Tafsir Al-Sulthon dapat ditempatkan sebagai bagian dari ikhtiar intelektual untuk membaca hubungan antara wahyu, sejarah, matematika, kebudayaan, dan peradaban. Gagasan-gagasan tersebut perlu ditempatkan dalam ruang dialog antara iman, ilmu, dan pembuktian akademik. 

Tabir Peradaban

Mungkin inilah waktunya Indonesia bangkit bukan dengan melupakan masa lalu, melainkan dengan berani membacanya kembali. Bukan untuk memusuhi bangsa lain, tetapi untuk menemukan kembali martabat diri. Sebab ketika sebuah bangsa mengenali akar sejarahnya, memahami nilai agamanya, menguasai ilmunya, dan mampu membedakan antara kebenaran, tafsir, serta narasi yang belum terbukti, bangsa itu memiliki fondasi untuk melangkah menuju masa depan.

Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk membaca. Sejarah mengajarkan manusia untuk mengingat. Ilmu mengajarkan manusia untuk membuktikan. Dan kesadaran kebangsaan mengajarkan manusia untuk membangun masa depan. Mungkin, pada suatu masa yang telah dijanjikan oleh perjalanan sejarah, Indonesia akan menyadari bahwa kebangkitan peradaban tidak dimulai dari luar dirinya, tetapi dari keberanian untuk kembali mengenali jati dirinya sendiri.

Mungkin sudah waktunya bangsa Indonesia membuka kembali sebuah pintu pengetahuan yang selama ini jarang kita masuki: membaca sejarah Nusantara dengan Al-Qur’an sebagai salah satu sumber inspirasi pencarian kebenaran. Al-Qur’an bukan hanya kitab yang mengajarkan ibadah, tetapi juga menghadirkan kisah tentang bangsa-bangsa terdahulu, kerajaan, kehancuran dan kebangkitan peradaban, serta tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di muka bumi. Karena itu, ketika Al-Qur’an menyatakan bahwa kitab itu menjadi “penjelas segala sesuatu” (QS. An-Nahl: 89), manusia didorong untuk membaca, meneliti, dan menemukan tanda-tanda kebesaran-Nya melalui ilmu pengetahuan.

Dalam kerangka pemikiran inilah gagasan K.H. Fahmi Basya Hamdi menjadi menarik untuk dikaji. Melalui kajiannya mengenai matematika Islam, Al-Qur’an, kepurbakalaan Nusantara, dan Borobudur, ia menawarkan pembacaan alternatif terhadap sejumlah kisah Al-Qur’an. Dalam Borobudur & Peninggalan Nabi Sulaiman, misalnya, ia menghubungkan Borobudur dengan kisah Nabi Sulaiman dan Negeri Saba’. Gagasan tersebut bukanlah kesimpulan sejarah yang telah diterima secara umum, tetapi justru dapat menjadi pertanyaan besar yang mendorong penelitian lebih mendalam.

Pertanyaan serupa muncul ketika kita melihat Gunung Padang di Jawa Barat. Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, penelitian terhadap situs ini memperoleh perhatian nasional. Sejumlah peneliti kemudian mengajukan hipotesis bahwa struktur bawah tanah Gunung Padang jauh lebih tua daripada piramida Mesir. Bahkan penelitian yang dipublikasikan pada 2023 mengusulkan kemungkinan struktur yang sangat tua, hingga sekitar 27.000 tahun, tetapi klaim tersebut memicu perdebatan serius di kalangan arkeolog dan kemudian mendapat proses peninjauan dari penerbit.

Justru di sinilah letak pelajaran terbesarnya: jangan berhenti pada kontroversi; lanjutkan penelitian. Jangan pula menjadikan perbedaan pendapat sebagai alasan untuk menutup pintu ilmu pengetahuan. BRIN sendiri mencatat bahwa polemik Gunung Padang merupakan perbedaan paradigma dalam menafsirkan peninggalan budaya dan bahwa perdebatan ilmiah adalah bagian normal dari perkembangan pengetahuan. Maka pertanyaan anak bangsa seharusnya sederhana tetapi mendalam: ada apa di Gunung Padang? Ada apa di Borobudur? Apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh relief, struktur, simbol, prasasti, dan peninggalan leluhur kita? Apakah semuanya telah selesai dijelaskan oleh teori yang ada, atau masih terdapat halaman sejarah yang belum terbuka?

Bangsa Indonesia tidak boleh takut menemukan jawaban. Jika sebuah hipotesis benar, buktikan dengan penelitian. Jika salah, koreksi dengan ilmu. Kebenaran tidak akan menjadi lebih kecil hanya karena diuji. Karena itu, semangat generasi muda Indonesia haruslah menggali, meneliti, membaca, membandingkan, dan membuktikan. Bukan untuk merendahkan bangsa lain, bukan pula untuk memaksakan sebuah teori, tetapi untuk menemukan kebenaran tentang tanah air sendiri. Sebab mungkin selama ini kita terlalu sibuk melihat peradaban dari luar, sementara sebagian jawaban tentang masa lalu kita sendiri masih tersimpan di dalam tanah Nusantara.

Al-Qur’an mengajarkan kita membaca. Sejarah mengajarkan kita mengingat. Ilmu pengetahuan mengajarkan kita membuktikan. Dan Indonesia membutuhkan generasi yang berani melakukan ketiganya. Mungkin kebangkitan peradaban Indonesia tidak hanya dimulai dari pembangunan masa depan, tetapi juga dari keberanian menggali masa lalu hingga suatu hari kita benar-benar mengetahui apa yang tersembunyi di balik Borobudur, Gunung Padang, dan begitu banyak peninggalan Nusantara lainnya.

Ada sebuah pertanyaan besar yang mungkin selama ini belum cukup berani kita ajukan: bagaimana jika sebagian kisah besar yang diceritakan Al-Qur’an ternyata memiliki jejak sejarah yang belum kita temukan di bumi Nusantara? Pertanyaan ini bukan berarti kita harus tergesa-gesa menyimpulkan bahwa setiap peninggalan purbakala Indonesia pasti berkaitan dengan kisah para nabi. Sebaliknya, pertanyaan ini seharusnya menjadi undangan bagi generasi Indonesia untuk meneliti dengan lebih berani, terbuka, dan mendalam. 

Di sinilah Tafsir Al-Sulthon karya K.H. Fahmi Basya Hamdi menarik untuk ditempatkan sebagai salah satu gagasan yang membuka ruang pencarian tersebut. Karya ini menggunakan pendekatan yang khas terhadap Al-Qur’an dan menghubungkan teks wahyu dengan matematika, sejarah, serta fenomena kebudayaan dan kepurbakalaan.

Kisah Nabi Nuh, misalnya, membuka sebuah pertanyaan yang luar biasa. Selama berabad-abad, berbagai pihak telah mencari lokasi Bahtera Nuh, termasuk di kawasan Gunung Ararat dan Formasi Durup?nar di Turki. Bahkan pada 2026 penelitian kembali dilakukan melalui survei geofisika dan pengeboran inti untuk mengetahui apakah struktur tersebut merupakan formasi geologi alami atau memiliki sisa struktur buatan manusia. Namun hingga kini, belum ada bukti arkeologis yang secara meyakinkan membuktikan bahwa struktur tersebut adalah Bahtera Nuh.

Di sinilah muncul sebuah hipotesis yang patut diteliti, bukan langsung dipercaya atau ditolak. Dalam gagasan yang dikaitkan dengan kajian Fahmi Basya dan pemikiran yang berkembang di sekitarnya, terdapat pertanyaan tentang kayu jati, belerang, bentang alam, serta kemungkinan hubungan geografis antara kisah Nabi Nuh dengan Jawa. Bahkan gagasan tersebut pernah dikemukakan dalam diskusi mengenai Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman dan konsep Nusantara sebagai bagian dari warisan Nabi Nuh.

Pertanyaannya menjadi menarik: jika Jawa dikenal sebagai salah satu wilayah penting persebaran kayu jati, sementara Jawa Timur memiliki kawasan vulkanik yang kaya unsur belerang, apakah kesamaan-kesamaan tersebut cukup untuk membuka penelitian baru mengenai kemungkinan lokasi kisah Nabi Nuh? Jawabannya tentu tidak boleh ditentukan hanya berdasarkan kemiripan. Harus ada penelitian botani, geologi, arkeologi, paleogeografi, linguistik, dan sejarah yang saling menguji. Justru karena itulah pertanyaan tersebut layak diteliti.

Demikian pula kisah Nabi Musa dan Fir’aun. Al-Qur’an menggambarkan perjalanan Bani Israel dan peristiwa ketika Musa membawa mereka keluar dari kekuasaan Fir’aun. Dalam Tafsir Al-Sulthon terdapat pembacaan yang khas terhadap kisah tersebut. Pertanyaan geografis kemudian muncul: di mana sebenarnya pusat kekuasaan Fir’aun, ke mana Bani Israel pergi, dan bagaimana kita memahami istilah “laut” serta perjalanan tersebut dalam konteks geografis yang sesungguhnya? Pertanyaan seperti ini tidak seharusnya dijawab dengan dugaan semata, tetapi dengan mempertemukan teks Al-Qur’an, tafsir, geografi purba, perubahan garis pantai, arkeologi, dan sejarah migrasi manusia.

Inilah yang seharusnya menjadi semangat baru bangsa Indonesia. Jangan takut menggali. Jangan takut bertanya. Jangan takut menguji teori yang selama ini kita terima. Tetapi pada saat yang sama, jangan pula mengganti satu doktrin dengan doktrin baru tanpa pembuktian. Kebenaran tidak membutuhkan ketakutan; kebenaran membutuhkan keberanian untuk diuji.

Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk membaca ayat-ayat Allah, baik ayat yang tertulis maupun tanda-tanda yang terbentang di alam dan sejarah. Karena itu, jika ada kemungkinan bahwa sebagian kisah Al-Qur’an memiliki jejak geografis dan arkeologis di Nusantara, maka tugas generasi kita adalah mencari, menggali, menguji, dan membuktikannya.

Mungkin inilah makna yang lebih dalam dari ungkapan bahwa Al-Qur’an adalah bukti tentang segala sesuatu: bukan berarti setiap jawaban sejarah boleh dipaksakan masuk ke dalam ayat, melainkan bahwa wahyu mendorong manusia untuk terus mencari kebenaran. Kapan semua itu akan terbuka? Mungkin pada suatu masa. Dan boleh jadi, masa itu adalah masa ketika generasi Indonesia mulai berani membaca kembali Al-Qur’an, sejarah, alam, dan peninggalan leluhurnya dengan iman sekaligus ilmu pengetahuan.

Jika suatu hari Borobudur dapat dijelaskan dengan bukti yang lebih kuat, jika Gunung Padang membuka rahasia peradaban masa lampau, jika penelitian tentang Bahtera Nuh menemukan bukti baru, atau jika kajian geografis terhadap kisah Nabi Musa menghasilkan pemahaman yang berbeda, maka semua itu harus diterima berdasarkan kekuatan bukti bukan berdasarkan keinginan kita. Indonesia tidak membutuhkan mitos baru. Indonesia membutuhkan keberanian untuk menemukan kebenaran.

Dan mungkin, di balik tanah Nusantara yang selama ini kita pijak, masih tersimpan halaman-halaman sejarah yang belum selesai dibaca. Tugas generasi sekarang bukan mengatakan bahwa kita sudah mengetahui semuanya, tetapi berani berkata: “Kita belum tahu semuanya, karena itu kita akan mencari.”

Sebab bangsa yang kehilangan keberanian untuk mencari kebenaran akan kehilangan kesempatan untuk menemukan jati dirinya. Tetapi bangsa yang berani membaca wahyu, meneliti sejarah, menggali bumi, menguji hipotesis, dan tunduk kepada bukti akan memiliki kesempatan untuk menemukan kembali akar peradabannya.

Al-Qur’an adalah petunjuk. Ilmu adalah alat untuk membaca. Sejarah adalah ruang pencarian. Dan Nusantara adalah tanah yang masih menyimpan begitu banyak pertanyaan. Mungkin sekaranglah waktunya Indonesia bangkit bukan dengan kesombongan bahwa kita telah menemukan seluruh jawabannya, tetapi dengan kerendahan hati dan keberanian untuk terus mencarinya.

Pada akhirnya, Kunci Peradaban Indonesia adalah Al-Qur’an bukan semata-mata sebuah pernyataan keagamaan, tetapi sebuah ajakan untuk membangkitkan kembali kesadaran bangsa dalam membaca dirinya sendiri. Al-Qur’an memberikan petunjuk, mengajarkan manusia untuk berpikir, melakukan perjalanan, memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah, dan mengambil pelajaran dari perjalanan bangsa-bangsa terdahulu. Dalam buku Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman Jilid II, K.H. Fahmi Basya mengembangkan gagasan bahwa Al-Qur’an dapat menjadi perspektif untuk membaca kembali kepurbakalaan Nusantara. Ia bahkan menegaskan pentingnya melihat, meraba, dan membuktikan fakta serta data yang ada di lapangan.

Gagasan tersebut membawa kita kepada pertanyaan besar tentang Borobudur, Gunung Padang, Istana Ratu Boko, Negeri Saba, Nabi Sulaiman, Nabi Musa, Nabi Nuh, dan berbagai jejak peradaban Nusantara. Buku ini, misalnya, mengajukan pembacaan bahwa Borobudur memiliki hubungan dengan kisah Nabi Sulaiman dan bahwa Nusantara dapat dibaca sebagai kemungkinan ruang Negeri Saba. Apakah seluruh tesis tersebut kelak terbukti secara arkeologis? Itulah pekerjaan generasi berikutnya. Sebuah gagasan besar tidak boleh berhenti sebagai keyakinan; ia harus didorong menjadi pertanyaan, penelitian, pengujian, dan pencarian bukti.

Karena itu, bangsa Indonesia tidak boleh takut menggali masa lalunya. Apa yang sebenarnya ada di bawah Gunung Padang? Apa makna simbol, struktur, dan relief Borobudur? Mengapa terdapat begitu banyak nama dan jejak budaya yang menurut sebagian kajian dapat dikaitkan dengan Saba? Apa hubungan antara teks Al-Qur’an, sejarah, geografi, matematika, dan peninggalan Nusantara? Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan alasan untuk menutup diri, melainkan alasan untuk membangun pusat-pusat penelitian yang serius, multidisipliner, dan berani.

Kebangkitan bangsa tidak berarti mengganti satu dogma dengan dogma yang lain. Kebangkitan berarti berani berpikir merdeka tanpa kehilangan iman, berani mempertanyakan tanpa kehilangan adab, dan berani menemukan tanpa takut apabila hasilnya berbeda dari dugaan kita. Jika sebuah teori benar, buktikan. Jika sebuah teori keliru, perbaiki. Jika bukti baru ditemukan, terimalah dengan kerendahan hati. Dengan cara itulah Indonesia dapat menjadi bangsa yang dewasa dalam ilmu pengetahuan sekaligus teguh dalam nilai spiritualnya.

Hari ini kita berada di ambang perubahan zaman yang luar biasa. Teknologi berkembang sangat cepat, kecerdasan buatan mengubah cara manusia bekerja, geopolitik berubah, dan persaingan peradaban semakin kompleks. Generasi Indonesia mendatang tidak cukup hanya menjadi konsumen pengetahuan yang diproduksi bangsa lain. 

Mereka harus menjadi penemu, peneliti, pemikir, pembangun, dan penjaga peradaban. Maka tugas kita sekarang bukan sekadar mewariskan tanah air kepada generasi berikutnya, tetapi mewariskan kesadaran tentang siapa mereka sebagai bangsa. Indonesia harus mengenal akar sejarahnya, menghormati leluhurnya, memahami agamanya, menguasai ilmu pengetahuan, dan memiliki keberanian untuk membuka kembali halaman-halaman sejarah yang masih belum terjawab.

Al-Qur’an mengingatkan manusia untuk membaca tanda-tanda. Sejarah menyediakan jejak. Tanah Nusantara menyimpan pertanyaan. Ilmu pengetahuan menyediakan metode untuk mengujinya. Pertemuan antara iman, ilmu, sejarah, dan keberanian itulah yang dapat menjadi energi kebangkitan peradaban Indonesia. Kini saatnya kita bangkit. Bukan untuk merasa lebih tinggi daripada bangsa lain, tetapi untuk berdiri sejajar sebagai bangsa yang mengenal jati dirinya. Bukan untuk membangun kebanggaan tanpa dasar, tetapi untuk menemukan kebenaran dengan bukti. Bukan untuk hidup dalam romantisme masa lalu, tetapi untuk menjadikan masa lalu sebagai sumber inspirasi membangun masa depan.

Kita adalah bangsa yang besar. Kita memiliki laut yang luas, tanah yang kaya, kebudayaan yang berlapis, sejarah yang panjang, dan generasi muda yang memiliki masa depan. Yang kita perlukan adalah keberanian untuk mengenali diri sendiri.

Mungkin inilah saatnya kita berhenti bertanya, “Apa yang dikatakan orang lain tentang Indonesia?” dan mulai bertanya, “Apa sebenarnya yang tersimpan di dalam Indonesia yang belum kita temukan?”

Jawabannya mungkin tidak akan ditemukan dalam satu hari, satu buku, atau satu penelitian. Tetapi pencarian itu harus dimulai.
Untuk generasi hari ini: beranilah membaca.
Untuk para peneliti: beranilah menggali.
Untuk para ilmuwan: beranilah menguji.
Untuk para pemimpin: beranilah membuka ruang bagi kebenaran.
Dan untuk generasi yang akan datang: jangan pernah kehilangan keberanian untuk menemukan jati diri bangsa.

Korelasi dengan Pancasila

Dalam perjalanan mencari jati diri tersebut, ada sebuah pertanyaan yang layak direnungkan secara lebih mendalam: bagaimana jika nilai-nilai fundamental Pancasila, dari sila pertama hingga kelima, memiliki keselarasan yang begitu kuat dengan prinsip-prinsip moral, sosial, keadilan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan kesejahteraan yang diajarkan Al-Qur’an? Pancasila tentu bukan Al-Qur’an, dan Al-Qur’an bukan Pancasila. Keduanya memiliki kedudukan dan konteks yang berbeda. Namun, jika nilai-nilai Pancasila kita baca sebagai sebuah bangunan etika kebangsaan, sementara Al-Qur’an kita kaji sebagai sumber nilai dan petunjuk kehidupan, maka terbuka ruang perenungan yang sangat luas tentang hubungan antara ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial dengan ajaran-ajaran Al-Qur’an.

Dari sinilah muncul sebuah kemungkinan pemikiran yang menarik: jika nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa memiliki banyak titik temu dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an, maka tidak menutup kemungkinan bahwa sebagian pintu kebangkitan peradaban Indonesia justru dapat dibuka melalui pemahaman yang lebih mendalam terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Bukan sekadar membacanya sebagai teks keagamaan, tetapi juga menggali pesan tentang ilmu, keadilan, kemanusiaan, persaudaraan, tanggung jawab, kepemimpinan, alam, kerja keras, pendidikan, dan pembangunan kehidupan yang beradab.

Dengan demikian, membaca Al-Qur’an tidak berhenti pada kemampuan melafalkan ayat, tetapi bergerak menuju kemampuan memahami pesan, menghayati nilai, mengembangkan ilmu, dan menerjemahkannya menjadi peradaban. Di sinilah wahyu dapat berdialog dengan ilmu pengetahuan, sejarah dapat berdialog dengan masa depan, dan nilai-nilai agama dapat memberikan fondasi moral bagi pembangunan bangsa.

Sebab peradaban yang besar bukan hanya peradaban yang mampu membangun gedung-gedung tinggi, menguasai teknologi, atau memiliki kekuatan ekonomi. Peradaban yang besar adalah peradaban yang mengetahui siapa dirinya, dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia akan membawa generasi berikutnya.

Dan mungkin, perjalanan menemukan kembali jati diri Indonesia itu sedang dimulai sekarang: dengan membaca Al-Qur’an, membaca sejarah, membaca alam, menggali Nusantara, membaca ilmu pengetahuan, dan akhirnya membaca diri kita sendiri.

Barangkali di antara ayat-ayat yang selama berabad-abad kita baca terdapat pesan-pesan peradaban yang belum sepenuhnya kita gali. Barangkali persoalannya bukan karena Al-Qur’an tidak memberikan petunjuk, melainkan karena kita belum cukup jauh menggali kedalaman maknanya dan belum cukup berani menerjemahkan nilai-nilainya ke dalam kehidupan nyata.

Indonesia harus bangkit. Bukan sekadar menjadi bangsa yang maju, tetapi menjadi bangsa yang beradab, berilmu, berkarakter, berkeadilan, dan mengenal jati dirinya. Karena masa depan bukan hanya milik mereka yang paling kuat, melainkan milik mereka yang berani mencari kebenaran, mengembangkan ilmu, menjaga nilai, dan mewariskannya kepada generasi sesudahnya.

Mungkin, inilah waktunya Indonesia tidak hanya membaca masa lalunya, tetapi juga membaca kembali wahyu, alam, dan dirinya sendiri--untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru bagi lahirnya peradaban Indonesia.
 
Laksma TNI Salim
Kapusjianmar Seskoal


Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya