Berita

Seminar Kepemimpinan Mahasiswa bertema "Mahasiswa Hari Ini, Pemimpin Esok Hari: Menyiapkan Kepemimpinan Muda dari Ruang Organisasi". Acara berlangsung di Ruang Gedung Baru Ma'had Lantai 2 Universitas PTIQ Jakarta pada Senin, 28 September 2026. (Foto: Istimewa)

Politik

Pesan Hasan Nasbi ke Mahasiswa: Kita tidak Perlu Sikut-sikutan Kejar Jabatan Tertinggi

SABTU, 03 OKTOBER 2026 | 00:20 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Senat Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta melalui Kabinet Berdampak menggelar Seminar Kepemimpinan Mahasiswa bertema "Mahasiswa Hari Ini, Pemimpin Esok Hari: Menyiapkan Kepemimpinan Muda dari Ruang Organisasi". Acara berlangsung di Ruang Gedung Baru Ma'had Lantai 2 Universitas PTIQ Jakarta pada Senin, 28 September 2026. 

Seminar ini menghadirkan Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A. (Rektor Universitas PTIQ Jakarta dan Menteri Agama RI) serta Hasan Nasbi (Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi) sebagai pembicara kunci. Hadir pula Assoc. Prof. Dr. Baeti Rohman, M.Pd., M.A. (Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan), Assoc. Prof. Dr. K.H. Ali Nurdin, M.A. (Wakil Rektor III), Pangeran Mangkubumi, S.H., CMLC (Founder Generasi Emas Institute), dan Redza Sutiara Akbar, M.Pd. (Presidium Youth Collaboration Movement).

Alih-alih membakar semangat dengan janji kejayaan, Hasan Nasbi membuka orasinya dengan sebuah "disclaimer": ia tidak bermaksud mematahkan mimpi para mahasiswa, tetapi mengajak mereka menjejakkan kaki di atas bumi. Keynote-nya bertajuk "Menjadi Orang Biasa yang Berkualitas: Fondasi Peradaban."


Ia mengutip pidato kelulusan di Universitas Binghamton, Amerika Serikat, tahun 2009, "Average is the New Exceptional" karya Anthony Corvino, serta pidato "You Are Not Special" oleh David McCullough Jr. di Wellesley High School. 

Menurutnya, jika setiap orang didorong mengejar puncak kemasyhuran, jabatan, dan kekayaan, kata "istimewa" akan kehilangan maknanya.

"Dalam seratus tahun Indonesia berdiri, yang menjadi presiden hanya sekitar sepuluh sampai dua belas orang. Sebagian besar dari kita akan menjadi makmum, anggota, pengurus, rakyat, dan umat," Hasan dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Jumat 2 Oktober 2026. 

Karena itu, ia justru mengajarkan bagaimana menjadi anggota, bawahan, dan makmum yang baik. Makmum yang tidak tertib akan membuat imam kerepotan.

Melawan Kecemasan Status

Hasan juga menyoroti derasnya budaya pamer di media sosial, dari miliarder sebelum usia 30 hingga CEO di usia 20-an. Fenomena ini, mengutip filsuf Alain de Botton, melahirkan status anxiety atau kecemasan status. Dampaknya nyata: kelelahan mental, burnout, hingga depresi spiritual pada generasi muda yang memaksakan diri memburu sesuatu yang belum tentu menjadi takdirnya.

Ia menggambarkan masyarakat sebagai piramida yang puncaknya sempit. Dalam shalat berjamaah imam hanya satu, sedangkan makmum bisa puluhan ribu. Dalam sebuah kapal, nakhoda cukup satu, sisanya adalah juru mesin, petugas bahan bakar, dan penjaga lambung kapal. 

"Kalau semua berebut menjadi nakhoda, kapal akan segera oleng," tegasnya.

Mengutip pandangan psikolog Alfred Adler, ia mengajak hadirin memiliki the courage to be normal, yakni keberanian menjadi orang biasa. 

Lanjut dia, itu bukan sikap pasrah atau malas, melainkan cara membebaskan diri dari perlombaan gengsi sosial dan wujud kedewasaan batin.

Dengan perumpamaan yang lekat dengan dunia pesantren dan kampus Al-Qur'an, Hasan menyebut bahwa masjid biasanya dikagumi kubahnya, padahal kubah itu berdiri di atas fondasi yang tersembunyi di dalam tanah. 

"Sebagian besar dari kita mungkin akan menjadi fondasi, tiang, dan dinding yang menyokong berdirinya peradaban," tuturnya.

Ia mengingatkan bahwa kemakmuran dan kemajuan hari ini sebagian besar merupakan jasa jutaan orang yang menjalani hidup tanpa publikasi: ayah yang mendidik anak dengan nafkah halal, guru di desa terpencil, birokrat yang menolak menandatangani proyek berbau korupsi, dan kepala desa yang membangun desanya dengan kasih sayang.

Ia juga mengangkat kisah Uwais Al-Qarni, sosok biasa yang doanya justru dianjurkan dimintakan oleh para sahabat besar seperti Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, karena baktinya kepada sang ibu. Ia menutup bagian ini dengan hadis khairukum anfa'ukum linnas bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.

Hasan menegaskan bahwa pemimpin sehebat apa pun hanya akan memimpin ilusi bila rakyatnya tidak berkarakter dan berintegritas. Sebaliknya, makmum yang cerdas dan berkualitas mampu menyokong imam yang adil sekaligus mengoreksinya dengan adab dan kejernihan hati.

Kepada mahasiswa, ia berpesan agar menjadikan Al-Qur'an sebagai sumber pedoman moral dan karakter, bukan sekadar modal perlombaan, serta membangun etos kerja dan profesionalitas di bidang masing-masing. Soal siapa yang kelak duduk di puncak kepemimpinan, ia menyerahkannya pada seleksi alam dan takdir. 

"Kita tidak perlu sikut-sikutan mengejar jabatan tertinggi. Jika suatu hari takdir memanggil, kita sudah siap. Jika takdir menempatkan kita sebagai orang biasa, terimalah dengan kepala tegak," imbuhnya.

Ia menutup dengan pesan bahwa baik-buruknya bangsa tidak ditentukan oleh megahnya jabatan di kartu nama atau riuhnya tepuk tangan di panggung, melainkan oleh kebersihan hati dan tanggung jawab setiap orang dalam menunaikan peran kecilnya di tengah masyarakat.

Ketua Senat Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta periode 2025?"2026, Arya Putra Fertana, menyampaikan bahwa pesan ini sejalan dengan semangat seminar. 

"Kepemimpinan tidak lahir dari panggung, tetapi dari ruang-ruang organisasi tempat kita belajar melayani, berproses, dan menjaga integritas. Kami berharap mahasiswa PTIQ tumbuh menjadi pribadi berkualitas di mana pun takdir menempatkannya," ujarnya.


Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Nasib Pengalihan Utang Whoosh Tak Jelas, Ini Penjelasan Wamenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 22:20

Ombudsman Soroti Masa Sanggah Data Rumah Rusak Gempa NTT Terlalu Singkat

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21:55

KPK Dalami Pengurusan HGB PT Bela Parahiyangan hingga ke Pusat

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21:36

Rafyq Pandjaitan Terpilih Ketua KWP, Ariawan Titip Pesan Ini

Jumat, 02 Oktober 2026 | 20:50

KBRI Singapura Tak Punya Dokumen Pendidikan Gibran

Jumat, 02 Oktober 2026 | 20:20

Jenderal Sigit jadi Bidak Benteng dalam Catur Pemerintahan Prabowo

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:57

Hatta Rajasa Pastikan Wantimpres Beri Nasihat Berkualitas untuk Presiden

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:44

Kapolri Berganti, Jenderal Sigit Serahkan Panji Tribrata ke Jenderal Suyudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:40

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Bersama UI, Peradi Profesional Bidik Pendidikan Advokat Lebih Berkualitas

Jumat, 02 Oktober 2026 | 18:51

Selengkapnya