Berita

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung (kiri). (Foto: RMOL/Alifia Dwi)

Finansial

Wamenkeu Juda Ungkap Ketergantungan Asing di SBN Menyusut, Sisa 13-14 Persen

JUMAT, 02 OKTOBER 2026 | 13:04 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Ketergantungan Indonesia terhadap investor asing dalam pembiayaan Surat Berharga Negara (SBN) terus menyusut dalam satu dekade terakhir.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Menteri Keuangan Juda Agung. Ia mengatakan, porsi kepemilikan SBN oleh investor asing kini hanya berada di kisaran 13-14 persen. Padahal, sekitar 10 tahun lalu, hampir 40 persen SBN Indonesia masih dikuasai investor asing.

"SBN kita sekarang ini mungkin hanya 13 persen, 14 persen yang dimiliki oleh asing. 10 tahun lalu SBN kita hampir 40 persen dimiliki oleh asing. Sekarang hanya 13, 14," kata Juda dalam media briefing di Bogor, dikutip Jumat, 2 Oktober 2026.


Menurut Juda, menyusutnya porsi asing membuat pasar keuangan domestik tidak terlalu rentan terhadap gejolak eksternal.

Karena itu, pemerintah akan tetap menjaga defisit dan pembiayaan dalam batas yang aman dan berkelanjutan.

"Ini tentu saja bisa mengurangi kerentanan di pasar uang dan pasar valas kita. Kebijakan utamanya adalah tentu saja terus mengendalikan defisit dan pembiayaan dalam batas yang aman dan sustainable," ujarnya.

Juda mengatakan pemerintah juga terus melakukan pengelolaan utang secara aktif. Langkah ini dilakukan agar imbal hasil SBN tetap menarik bagi investor, tetapi biaya pembiayaan pemerintah tidak membengkak.

"Pembiayaan utang sebagai langkah antisipatif dan aktif debt management harus dilakukan untuk mengelola supaya bagaimana kita tetap menarik, yield kita tetap menarik, dan cost-nya tidak terlalu besar," jelasnya.

Selain melalui SBN, pemerintah juga mengoptimalkan peran Badan Layanan Umum (BLU) dan Special Mission Vehicle (SMV) untuk mendukung pembiayaan investasi.

"Ini lebih kepada untuk investasi, pembiayaan melalui investasi," lanjut Juda.

Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebagai bantalan untuk menghadapi ketidakpastian.

Menurut Juda, optimalisasi SAL tidak hanya berfungsi sebagai buffer, tetapi juga dapat membantu menjaga likuiditas perbankan dan memperbaiki pengelolaan kas pemerintah.

"Optimalisasi SAL ini juga sebagai buffer untuk mitigasi ketidakpastian, untuk mengelola juga likuiditas yang ada di perbankan, tapi at the same time ini juga pengelolaan cash management di Kementerian Keuangan juga menjadi lebih baik," tandasnya.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya