Berita

Ilustrasi

Bursa

IHSG Tertekan, Turun ke Bawah Level 6.000 pada Penutupan Sesi I

JUMAT, 02 OKTOBER 2026 | 12:31 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di bawah level psikologis 6.000 setelah tekanan jual mewarnai perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada sesi I, Jumat 2 Oktober 2026.

IHSG ditutup sementara di level 5.989,02, melemah 20,49 poin atau 0,34 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Padahal, IHSG sempat mengawali perdagangan dengan penguatan. Indeks dibuka di level 6.018,08 dan sempat naik hingga menyentuh posisi tertinggi 6.044,26. Namun, tekanan jual yang muncul setelahnya membuat IHSG berbalik arah dan turun hingga level terendah 5.979,98.


Pantauan RMOL berdasar data bursa, tekanan terhadap IHSG tercermin dari mayoritas saham yang bergerak melemah. Sebanyak 429 saham turun, sementara 294 saham stagnan dan hanya 240 saham yang menguat.

Aktivitas perdagangan hingga akhir sesi I tercatat cukup ramai, dengan volume transaksi mencapai 745,1 juta lot. Nilai transaksi saham mencapai Rp5.752,94 miliar.

Dari sisi sektoral, tekanan terbesar datang dari sektor layanan akademik dan pendidikan yang terkoreksi 1,8 persen. Pelemahan serupa juga terjadi pada sektor utilitas sebesar 1,8 persen, sementara sektor barang baku atau material dasar turun 1,3 persen.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menjadi beban bagi pergerakan IHSG. Di antaranya PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT).

Di sisi lain, beberapa saham masih mampu menahan tekanan indeks, antara lain PT DCI Indonesia Tbk. (DCII), PT Astra International Tbk. (ASII), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF).

Pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini juga berlangsung di tengah beragam sentimen yang datang dari dalam dan luar negeri.

Dari domestik, pelaku pasar mencermati perkembangan reshuffle kabinet, implementasi kebijakan short selling, serta respons pasar terhadap sejumlah data ekonomi, termasuk manufaktur, neraca perdagangan, dan inflasi.


Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya