Representative Image (Foto: Ai)
Kesejahteraan petani terus menunjukkan penguatan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada September 2026 mencapai 131,11 atau naik 1,49 persen dibandingkan Agustus 2026.
Capaian tersebut menjadi rekor tertinggi, didorong kenaikan harga sejumlah komoditas pertanian, seperti gabah, karet, cabai rawit, dan kelapa sawit.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, peningkatan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani tumbuh lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar. Indeks harga yang diterima petani naik 1,93 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar meningkat 0,44 persen.
“Nilai Tukar Petani atau biasa kita sebut dengan NTP pada kondisi September tahun 2026 tercatat sebesar 131,11 atau naik 1,49 persen dibandingkan dengan Agustus tahun 2026. Peningkatan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima oleh petani naik sebesar 1,93 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar oleh petani yaitu naik 0,44 persen,” kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, dikutip Jumat, 2 Oktober 2026.
Penguatan NTP terjadi di seluruh subsektor utama pertanian, dengan hortikultura mencatat kenaikan tertinggi sebesar 4,04 persen.
Kenaikan tersebut didorong peningkatan indeks harga yang diterima petani hortikultura sebesar 4,34 persen, sementara indeks harga yang dibayar hanya naik 0,30 persen.
“Untuk subsektor yang mengalami kenaikan NTP tertinggi yaitu hortikultura. Subsektor hortikultura mengalami kenaikan NTP sebesar 4,04 persen, terutama didorong oleh kenaikan indeks harga yang diterima oleh petani hortikultura yaitu naik 4,34 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar oleh petani hortikultura mengalami kenaikan hanya sebesar 0,30 persen,” terang Ateng.
Berdasarkan data BPS, NTP subsektor tanaman pangan pada September 2026 tercatat 119,24, hortikultura 129,50, tanaman perkebunan rakyat 171,67, dan peternakan 102,91.
Secara kumulatif Januari-September 2026, NTP nasional mencapai 127,03 atau meningkat 3,44 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Kenaikan tertinggi secara kumulatif terjadi pada subsektor hortikultura sebesar 6,60 persen.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, peningkatan kesejahteraan petani menjadi bagian penting dalam pembangunan pertanian nasional.
Menurutnya, keberhasilan swasembada pangan tidak hanya diukur dari kemampuan memenuhi kebutuhan pangan nasional, tetapi juga dari manfaat ekonomi yang dirasakan petani sebagai pelaku utama produksi.
“Bapak Presiden Prabowo Subianto menugaskan agar kita swasembada pangan berkelanjutan. Namun yang lebih penting, swasembada itu harus menghadirkan kesejahteraan bagi petani. Kalau petani sejahtera, produksi akan meningkat, masyarakat juga mendapatkan pangan dengan harga yang stabil,” kata Amran.