Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bursa

Pasar Eropa Anjlok Akibat Lonjakan Imbal Hasil Obligasi dan Tekanan Fiskal

JUMAT, 02 OKTOBER 2026 | 07:03 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Bursa saham Eropa mengalami tekanan berat pada perdagangan Kamis 1 Oktober 2026 waktu setempat, terseret oleh kenaikan imbal hasil obligasi serta kekhawatiran investor terhadap kebijakan suku bunga bank sentral. 

Indeks utama regional, STOXX 50 dan STOXX 600, kompak merosot lebih dari 1 persen dan menyentuh level terendah dalam tiga setengah bulan terakhir. Sektor keuangan memimpin pelemahan dengan saham perbankan anjlok lebih dari 3,5 persen, sementara sektor otomotif dan sumber daya dasar turut terkoreksi antara 1,5 persen hingga 2 persen. 

Di tengah tren negatif ini, sektor teknologi menjadi salah satu sedikit pengecualian yang berhasil menguat, mengekor kinerja positif global menyusul proyeksi optimis dari Micron Technology.


Tekanan serupa juga melanda bursa utama di berbagai negara Eropa:

Di Prancis,  CAC 40 merosot 1,6 persen dan ditutup pada level 7.835, terendah sejak akhir Maret. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran atas memburuknya keuangan publik setelah pemerintah Prancis mengajukan RUU anggaran yang bertujuan menekan defisit anggaran ke level 5 persen dari PDB melalui pemotongan pengeluaran sebesar 43 miliar euro. Imbal hasil obligasi OAT 10 tahun melonjak di atas 4,9 persen, mencapai posisi tertingginya sejak Juli 2002.

Indeks DAX 40 di Frankfurt ditutup melemah sekitar 1 persen di level 24.939, posisi terendah sejak 23 Juli. Pasar tertekan oleh kenaikan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah serta meningkatnya inflasi regional yang menekan Bank Sentral Eropa (ECB) untuk mempertahankan suku bunga tinggi. Saham farmasi seperti Bayer (-5,5 persen) dan Volkswagen (-3,4 persen) memimpin kejatuhan sektor ini.

Di Inggris, indeks FTSE 100 terkoreksi lebih dari 1,5 persen ke level 10.432 akibat aksi jual masif di pasar global. Imbal hasil obligasi gilt 30 tahun sempat menembus level 6 persen untuk pertama kalinya sejak 1998, merespons tekanan internasional dari Prancis dan Amerika Serikat. Saham perbankan Inggris seperti NatWest (-5,2 persen) dan Lloyds (-4,4 persen) ikut tertekan, sementara saham energi seperti Shell dan BP justru melawan arus berkat kenaikan harga minyak.

Secara keseluruhan, sentimen kehati-hatian mendominasi pasar keuangan Eropa di awal kuartal keempat ini, seiring penyesuaian pelaku pasar terhadap risiko ekonomi makro global dan domestik yang kian ketat.


Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya