Berita

Djusman Umar. (Foto: Istimewa)

Publika

Lima Tahun Merger Pelindo: Sukses di Atas Kertas, PR Besar di Hubungan Industrial

KAMIS, 01 OKTOBER 2026 | 17:40 WIB

TANGGAL 1 Oktober, selain diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila, juga menjadi diperingati pekerja PT Pelabuhan Indonesia (Persero) menjadi hari Merger Pelabuhan.

Lima tahun lalu, tepatnya 1 Oktober 2021, Pelindo I, II, III, dan IV dilebur menjadi satu entitas PT Pelabuhan Indonesia (Persero). 

Sejak itulah publik disuguhi narasi keberhasilan. Aset terkonsolidasi, digitalisasi melesat, dan efisiensi logistik diklaim membaik.


Sebagai praktisi ketenagakerjaan yang mengamati proses ini sejak awal, saya menilai merger ini layak diapresiasi secara korporasi. 

Namun jika menggunakan lensa hubungan industrial, merger ini masih menyisakan pekerjaan rumah besar yang perlu diselesaikan.

Merger Pelindo adalah laboratorium hubungan industrial terbesar di Indonesia dalam satu dekade terakhir. 

Bayangkan, puluhan ribu pekerja dari empat budaya perusahaan yang berbeda, empat struktur pengupahan yang berbeda, dan empat tradisi serikat yang berbeda, dipaksa menjadi satu entitas. 

Secara teori, ini adalah resep sempurna untuk konflik industrial berkepanjangan.

Faktanya, konflik besar itu tidak terjadi. Mengapa?

Jawabannya bukan pada banyaknya direksi dan komisaris, bukan pada canggihnya alat bongkar muat, atau modernnya sistem digitalisasi. 

Jawabannya ada pada kedewasaan Serikat Pekerja Pelabuhan Indonesia Bersatu (SPPI Bersatu).

Dalam literatur hubungan industrial, kita mengenal dua tipe serikat: adversarial yang selalu konfrontatif, dan cooperative yang mengedepankan kemitraan. 

SPPI Bersatu mengambil jalan ketiga yang langka yakni critical cooperative. Mereka mendukung merger sebagai keniscayaan bisnis, tetapi dengan syarat yang lugas: kelangsungan hidup perusahaan dan perlindungan hak-hak pekerja harus terjamin.

Pada fase pra-merger dan awal merger, SPPI Bersatu berhasil membangun komitmen tersebut. 

Pada fase pasca-merger 2021 hingga tahun kelima saat ini, mereka menjadi "katup pengaman sosial" yang memastikan masa transisi hingga adaptasi berjalan tanpa gejolak, bahkan tanpa mogok kerja di pelabuhan. 

Ini adalah modal sosial yang luar biasa mahal dan tidak bisa dibeli dengan konsultan termahal sekalipun.

Ironisnya, dalam lima tahun ini SPPI Bersatu berada dalam peran yang paradoks. Di satu sisi, mereka menjadi penopang utama keberhasilan merger yang kondusif tanpa gejolak. 

Namun di sisi lain, eksistensinya dianggap tidak penting karena merger dianggap telah berhasil.

Lima tahun Pelindo Bersatu adalah fase transisi yang paling rawan, meski terlihat mudah dari luar. 

Kondusivitas itu bisa berjalan berkat peran seluruh elemen, termasuk serikat pekerja yang mampu meredam gejolak dengan meyakinkan anggotanya untuk tetap menjaga operasional.

Secara prosedural, hubungan industrial di Pelindo memang berhasil dan cukup kondusif. Namun secara substansi, ia belum sepenuhnya berkeadilan.

Di usia lima tahun ini, Pelindo tidak hanya butuh perayaan aset dan digitalisasi. Pelindo butuh pengakuan bahwa keberhasilan itu dibangun di atas kedewasaan pekerjanya. 

Jika modal sosial ini diabaikan, maka keberhasilan yang kondusif hari ini bisa menjadi bom waktu di kemudian hari.

Djusman Umar
Praktisi Ketenagakerjaan

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya