Berita

Ilustrasi warung sembako. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)

Finansial

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

KAMIS, 01 OKTOBER 2026 | 15:55 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada September 2026 sebesar 3,28 persen secara tahunan (yoy).

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, inflasi tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,97 pada Agustus 2026 menjadi 112,31 pada September 2026.

Sementara secara bulanan, inflasi pada September 2026 tercatat sebesar 0,30 persen, dan secara tahun kalender (ytd) inflasi mencapai 2,17 persen.


"Pada September tahun 2026 terjadi inflasi sebesar 0,30 persen secara bulanan atau month to month, terjadi peningkatan indeks harga konsumen," kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu penyumbang utama inflasi September yang mencapai 4,37 persen dan memberi andil inflasi 1,28 persen.

"Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau terutama ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, beras, minyak goreng, skm, dan daging sapi,” kata Ateng.

Selanjutnya, kelompok pengeluaran transportasi juga mendorong inflasi. Pada September, kelompok transportasi mengalami inflasi 4,84 persen dengan andil inflasi 0,58 persen. 

Inflasi kelompok ini terutama didorong oleh bensin, tarif angkutan udara, pelumas, sepeda motor, pemeliharaan service, dan mobil.

Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami inflasi mencapai 7,77 persen dan memberi andil 0,53 persen.

"Inflasi pada kelompok ini terutama terjadi pada komoditas emas dan perhiasan,” kata Ateng.

Berdasarkan wilayah, dari 38 provinsi yang dipantau BPS, sebanyak 36 provinsi tercatat mengalami inflasi dan dua provinsi mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Sulawesi Utara sebesar 3,53 persen. Sementara deflasi terdalam terjadi di Nusa Tenggara Timur sebesar 0,35 persen.

Berdasarkan komponen, seluruh komponen mengalami inflasi. Komponen inti memberikan andil inflasi terbesar sebesar 1,82 persen, diikuti komponen bergejolak sebesar 0,83 persen dan komponen harga yang diatur pemerintah sebesar 0,63 persen.

Inflasi pada komponen inti terutama didorong kenaikan harga emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, laptop/notebook, serta pelumas atau oli mesin.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya