Ilustrasi (Artificial Intelligence)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di zona merah pada perdagangan sesi I Kamis 1 Oktober 2026. IHSG ditutup melemah 50,442 poin atau 0,83 persen ke level 6.020,696.
IHSG sempat menguat setelah dibuka di level 6.071, sebelum menyentuh level tertinggi 6.095. Namun, tekanan jual kemudian membawa indeks turun hingga menyentuh level terendah 6.018. Menjelang penutupan sesi I, IHSG bergerak terbatas di kisaran 6.020-6.030.
Tekanan terlihat dari mayoritas saham yang bergerak turun. Sebanyak 433 saham melemah, sementara 219 saham menguat dan sisanya stagnan. Total volume perdagangan mencapai sekitar 192,65 juta lot dengan nilai transaksi sekitar Rp4,9 triliun.
Dari sejumlah saham dengan nilai transaksi terbesar, BBCA, TLKM, dan GOTO menjadi yang paling ramai diperdagangkan. Sementara itu, sejumlah saham yang menjadi pemberat IHSG antara lain GOTO, DCII, TLKM, UNTR, dan AMMN.
Di sisi lain, DSSA, ENRG, VKTR, AADI, dan GEMS menjadi saham yang menahan tekanan lebih dalam terhadap IHSG.
Hampir seluruh sektor saham berada di zona merah. Sektor teknologi (IDXTECHNO) mencatat penurunan paling dalam sebesar 3,27 persen, disusul sektor industri (IDXINDUST) yang turun 1,83 persen dan sektor transportasi dan logistik (IDXTRANS) yang melemah 1,80 persen.
Sektor barang baku (IDXBASIC) turun 1,20 persen, sektor infrastruktur (IDXINFRA) 1,14 persen, sektor kesehatan (IDXHEALTH) 1,05 persen, sektor properti dan real estat (IDXPROPERT) 0,94 persen, sektor barang konsumen primer (IDXNONCYC) 0,61 persen, serta sektor keuangan (IDXFINANCE) 0,55 persen.
Sektor barang konsumen non-primer (IDXCYCLIC) juga melemah tipis, sedangkan sektor energi (IDXENERGY) menjadi satu-satunya sektor yang menguat dengan kenaikan 0,57 persen.
Sejumlah indeks utama turut bergerak melemah. Indeks LQ45 turun 0,95 persen ke level 595,484, Jakarta Islamic Index (JII) melemah 1,13 persen menjadi 358,241, sedangkan IDX30 turun 0,94 persen ke level 329,794.
Berbeda dengan mayoritas indeks tersebut, MNC36 justru menguat 0,78 persen ke level 261,256.
Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati sejumlah data ekonomi yang berpotensi memengaruhi arah perdagangan, baik dari dalam maupun luar negeri. Dari domestik, perhatian tertuju pada rilis PMI manufaktur, neraca perdagangan, dan inflasi.
Dari eksternal, pasar masih mencermati perkembangan perang, di tengah penguatan sektor manufaktur China, inflasi PCE Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan, serta revisi naik pertumbuhan ekonomi AS.