Berita

Direktur Eksekutif Human Studies Institut (HSI) Dr. Rasminto (tengah). (Foto: Istimewa)

Politik

Akademisi: Demokrasi Substansial Tidak Lahir secara Tiba-tiba

KAMIS, 01 OKTOBER 2026 | 12:23 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah demokrasi. Ruang publik tidak lagi hanya berada di jalan, kampus, kantor pemerintahan atau ruang-ruang pertemuan, tetapi juga hadir dalam platform digital yang bergerak cepat, dipengaruhi algoritma, dan semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Di tengah perubahan tersebut, Direktur Eksekutif Human Studies Institut (HSI) sekaligus akademisi Universitas Muhammadiyah Indonesia, Dr. Rasminto dalam acara Bawaslu Campus Connect bertajuk Generasi Digital, Demokrasi Transparan di Auditorium Juwono Sudarsono, Gedung F, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI), Rabu, 30 September 2026, menilai demokrasi membutuhkan cara pandang baru
 
“Demokrasi tidak cukup hanya dijaga melalui prosedur dan pengawasan pada saat tahapan pemilu berlangsung, tetapi harus dibangun melalui ekosistem informasi dan pendidikan politik yang sehat secara berkelanjutan,” kata Rasminto dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026.


Menurut dia, salah satu hal yang perlu dikoreksi adalah paradigma pengawasan pemilu. Selama ini, keberhasilan pengawasan kerap lebih mudah terlihat dari banyaknya pelanggaran yang ditemukan, ditangani, dan diproses. 

"Padahal, ukuran keberhasilan pengawasan semestinya juga diarahkan pada pertanyaan yang lebih mendasar, apakah jumlah dan potensi pelanggaran dapat semakin ditekan karena masyarakat dan peserta pemilu semakin memahami aturan serta memiliki kesadaran untuk tidak melakukan pelanggaran," ungkap Rasminto. 

Ia menyebut paradigma pengawasan pemilu perlu bergeser. Jangan sampai keberhasilan pengawasan hanya diukur dari semakin banyaknya pelanggaran yang ditemukan dan ditangani. 

"Kita juga harus mengukur sejauh mana pengawasan mampu mencegah pelanggaran terjadi,” ujar Rasminto.

Baginya, tugas penyelenggara pemilu tidak semestinya dipahami secara sempit hanya bekerja ketika tahapan pemilu dimulai. 

"Keberadaan penyelenggara pemilu sebagai salah satu pilar demokrasi memiliki tanggung jawab yang lebih substantif, yakni ikut membangun budaya demokrasi yang sehat di tengah masyarakat," terangnya. 

Rasminto mengatakan demokrasi substansial tidak lahir secara tiba-tiba ketika surat suara berada di dalam kotak suara. 

"Demokrasi dibentuk jauh sebelum itu, melalui pengetahuan, kesadaran, partisipasi, dan keberanian masyarakat untuk terlibat dalam proses demokrasi," tuturnya. 

Lanjut dia, pendidikan politik tidak seharusnya berhenti pada momentum pemilu. Pendidikan politik harus menjadi proses yang berlangsung sepanjang waktu agar masyarakat tidak hanya mengetahui aturan, tetapi juga memahami alasan pentingnya aturan tersebut dan memiliki kesadaran untuk ikut menjaganya.

“Kalau kita berharap publik berani berpartisipasi dalam pengawasan pemilu, maka publik tidak cukup hanya diberi informasi tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Mereka harus dibangun pengetahuan, kesadaran, sikap, sampai keberanian untuk bertindak,” bebernya.

Masih kata dia, proses tersebut dapat dilihat melalui konsepsi taksonomi Bloom. Perubahan perilaku tidak berlangsung secara instan. Seseorang perlu terlebih dahulu memiliki pengetahuan, kemudian memahami, mampu menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, hingga pada akhirnya mampu menghasilkan atau mengambil tindakan berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya.

"Kerangka itu penting dalam konteks demokrasi digital. Masyarakat yang hanya mengetahui bahwa suatu informasi belum tentu benar belum otomatis mampu melakukan verifikasi. Begitu pula masyarakat yang mengetahui adanya pelanggaran belum tentu memiliki keberanian untuk melaporkannya," tandasnya.  


Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya