Ilustrasi. (Foto: RMOLJateng/Istimewa)
Wacana pembentukan holding BUMN sektor maritim dengan menggabungkan PT Pelni, PT ASDP Indonesia Ferry dan PT Pelindo yang sudah bergulir sejak akhir 2024 terasa seperti jalan di tempat.
Kendati banyak pakar dan praktisi yang mendukung wacana tersebut mengingat besarnya potensi membangun ekosistem maritim, namun ada juga yang pesimis karena terbilang sulit yang disebabkan berbagai hal.
Praktisi logistik Dr. Dayan Hakim NS bahkan menyebut wacana ini sudah ada dari sekitar 2016 untuk menggabungkan perusahaan pelat merah yang bergerak di sektor maritim. Yang terwujud baru penggabungan Pelindo I-IV di akhir 2021.
Menurut Dayan, beberapa faktor seperti karakter keuangan dan proses bisnis yang berbeda menjadi kendala kenapa holding ini susah terbangun.
“Dulu ada rencana untuk melakukan penggabungan (merger) antara PT Pelni (Persero) dengan PT ASDP (Persero) ke dalam satu perusahaan baru untuk kemudian diserahkan kepada Djakarta Lloyd,” kata Dayan dalam pesan elektronik kepada RMOL, Kamis, 1 Oktober 2026.
Namun seiring berjalannya waktu, PT Djakarta Lloyd justru gulung tikar di 2025. Sebelumnya Pelni dan ASDP sudah digadang-gadang oleh Erick Thohir, Menteri BUMN kala itu untuk digabung ke dalam Pelindo.
“Ini menurut saya (penggabungan Pelni dan ASDP ke Pelindo) juga pasti sangat sulit,” tambahnya.
Senada, Direktur Eksekutif The National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi sebelumnya juga menyatakan line bisnis antara Pelni-ASDP dengan Pelindo sangat berbeda. Belum lagi, terutama kondisi keuangan Pelni yang bisa dibilang masih berdarah-darah.
“Segmen usaha yang digeluti Pelni seperti pengangkutan penumpang tergolong bidang yang tidak menjanjikan. Khusus Pelni, BUMN ini sangat tergantung subsidi untuk tetap mengapung. Ladang usahanya tergerus oleh maraknya penerbangan berbiaya murah dan nampaknya tidak akan pernah pulih kembali,” jelasnya.
Walaupun hingga Mei 2026 ini, Pelni mencatat pendapatan usaha sebesar Rp2,5 triliun dari target tahunan Rp6,27 triliun. Perseroan menilai capaian tersebut masih berada pada jalur yang sesuai dengan rencana.
Siswanto juga menyebut besarnya tarik ulur kepentingan masih menyelimuti di balik wacana besar tersebut.
“Sepanjang tahun 2025, katanya pemerintah melakukan konsolidasi terhadap ketiga perusahaan ini. Tapi lihat hasilnya, tidak ada kan? Jadi memang ini masih banyak anomali,” tegasnya.
Terpisah, Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria menegaskan bahwa pihaknya belum pernah membahas lagi wacana penggabungan tersebut.
“Merger Pelni... belum ada. Oh belum... belum ada, belum ada. Belum ada ke sana," kata Dony kepada wartawan usai menghadiri rapat terbatas (ratas) bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Rabu, 30 September 2026.