Berita

Ilustrasi. (Foto: Freepik)

Finansial

Rupiah Melemah di Awal Oktober, Dibayangi Tekanan Dolar AS

KAMIS, 01 OKTOBER 2026 | 10:55 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Nilai tukar Rupiah kembali tertekan pada awal perdagangan Oktober 2026, Kamis 1 Oktober 2026. Penguatan Dolar AS dan tingginya imbal hasil surat utang Amerika Serikat (AS) menjadi sentimen yang membayangi pergerakan mata uang domestik.

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 10.30 WIB, Rupiah melemah 41 poin atau 0,23 persen menjadi Rp17.935 per Dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan, tekanan terhadap Rupiah tidak terlepas dari posisi indeks dolar AS (DXY) yang masih bertahan di level tinggi, yakni sekitar 101,47.


“Indeks Dolar AS atau DXY masih berada pada level tinggi di sekitar 101,47, didukung oleh tingginya imbal hasil AS dan aktivitas ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan, meskipun penguatannya terbatas oleh inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi,” kata Andry dalam risetnya.

Data inflasi AS pada Agustus 2026 menunjukkan indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 0,3 persen secara bulanan dan 3,4 persen secara tahunan. Sementara PCE inti meningkat 0,2 persen secara bulanan dan 3 persen secara tahunan.

Di sisi lain, sejumlah indikator ekonomi AS justru menunjukkan ketahanan ekonomi yang lebih kuat. Estimasi final pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal II-2026 direvisi naik menjadi 2,2 persen secara tahunan, dari estimasi sebelumnya 1,5 persen.

Data ketenagakerjaan juga menunjukkan peningkatan. Jumlah tenaga kerja sektor swasta berdasarkan laporan ADP bertambah 90 ribu pada September, lebih tinggi dari konsensus pasar sebesar 70 ribu.

Kondisi tersebut turut menjaga imbal hasil US Treasury tetap tinggi. Yield Treasury tenor 10 tahun berada di sekitar 5,29 persen setelah sempat menyentuh 5,30 persen, sedangkan tenor dua tahun bertahan di kisaran 4,89 persen.

Andry menjelaskan, yield obligasi pemerintah AS sempat turun setelah data inflasi dirilis. Namun, pergerakannya kembali berbalik naik setelah data PDB dan ketenagakerjaan memperkuat ekspektasi bahwa aktivitas ekonomi AS masih cukup kuat.

Tekanan terhadap obligasi tenor panjang juga masih datang dari kekhawatiran terhadap defisit fiskal AS serta tingginya pasokan penerbitan Treasury.

Sementara itu, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) kembali menurun. Probabilitas kenaikan 25 basis poin (bps) pada pertemuan FOMC 27-28 Oktober diperkirakan turun menjadi sekitar 37 persen dari sebelumnya 52 persen.

Pasar saat ini disebut mengalihkan perhatian ke laporan ketenagakerjaan AS September yang akan dirilis Jumat mendatang.

Sementara itu dari pasar komoditas, harga minyak mentah Brent berjangka pada awal perdagangan Kamis naik tipis 12 sen atau 0,1 persen menjadi 98,15 Dolar AS per barel.

Sebaliknya, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 7 sen atau 0,1 persen menjadi 90,35 Dolar AS per barel.
|

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya