Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Industri

Penggabungan Pelni dan ASDP ke Pelindo Bisa Perkuat Ekosistem Maritim

RABU, 30 SEPTEMBER 2026 | 05:15 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Wacana pembentukan holding BUMN sektor maritim dengan menggabungkan PT Pelni, PT ASDP Indonesia Ferry dan PT Pelindo dalam satu entitas bisnis kembali menyeruak setelah sekian lama terpendam.

Pengamat maritim dari Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas RI Strategic Centre (ISC) Dr. Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa melihat rencana pemerintah mengintegrasikan Pelindo, Pelni, dan ASDP merupakan langkah strategis yang patut didukung. 

“Streamlining atau penggabungan BUMN yang memiliki bisnis dan fungsi sejenis menjadi kebutuhan untuk menyederhanakan kelembagaan, menghilangkan tumpang tindih, serta memaksimalkan peran negara melalui BUMN,” kata Capt. Hakeng dalam pesan elektroniknya kepada RMOL di Jakarta, Rabu, 30 September 2026. 


Lanjut dia, tujuannya bukan sekadar membangun perusahaan yang lebih besar, melainkan menghadirkan pelayanan yang lebih efektif bagi masyarakat

“Integrasi ketiga BUMN ini harus menjadi momentum untuk membangun ekosistem maritim yang saling terhubung, mulai dari pelabuhan, pelayaran, hingga penyeberangan. Dengan koordinasi yang lebih baik, diharapkan distribusi barang semakin lancar, biaya logistik semakin efisien, serta mobilitas masyarakat antarpulau menjadi lebih mudah, aman, dan terjangkau,” ungkapnya.

Pengamat maritim yang dikenal kritis ini menilai keberhasilan penggabungan tersebut tidak cukup diukur dari efisiensi perusahaan atau peningkatan keuntungan semata. 

“Ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana masyarakat merasakan manfaatnya, terutama dalam keterjangkauan harga kebutuhan pokok, peningkatan keselamatan pelayaran, dan pemerataan konektivitas hingga wilayah terpencil. Efisiensi BUMN harus bermuara pada efisiensi pelayanan publik,” jelas Capt. Hakeng.

Masih kata dia, bagaimana pun juga BUMN merupakan instrumen negara untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. 

“Karena itu, saya mendukung integrasi Pelindo, Pelni, dan ASDP sepanjang dilaksanakan dengan tata kelola profesional, transparan, dan berorientasi pada kepentingan publik,” tegasnya. 

“Harapannya, penggabungan ini tidak hanya menyederhanakan struktur perusahaan, tetapi juga memperkuat kehadiran negara melalui pelayanan maritim yang semakin nyata, adil, dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat Nusantara,” pungkas Capt. Hakeng.

Wacana penggabungan ini mencuat di akhir 2024 sewaktu Erick Thohir menjabat Menteri BUMN. Ia berpendapat dengan berhasilnya merger Pelindo I-IV dapat diikuti dengan pengintegrasian perusahaan pelat merah di sektor maritim lainnya.

“Kita rencana Pelindo ini pun kita akan menggabungkan Pelni dan ASDP menjadi suatu kekuatan besar di laut, karena kita ini kan negara maritim,” kata Erick dalam Raker bersama Komisi VI DPR RI di Senayan, Jakarta, Senin, 4 November 2024.

Menurut dia, sebagai negara maritim, penting untuk Indonesia menjaga sinergi kebijakan antara pelayanan pelabuhan dan pengiriman.

“Kalau kita terpotong-potong antara kebijakan daripada tentu pelabuhan, pengiriman Pelni dan ASDP itu tidak menjadi satu policy, kita akan kalah bersaing,” terangnya.

Namun hampir dua tahun berselang, konsolidasi yang dibangun pemerintah terkait wacana holding ini bak berjalan di tempat. Erick pun posisinya tergusur dari posisi yang mengurusi BUMN alias menjadi Menpora sejak September 2025.

Berdasarkan penelusuran redaksi, tokoh kunci lain yang ngotot untuk holding ini segera terlaksana adalah Hambra Samal. Ia kini menjabat sebagai Deputi Bidang Fasilitas dan Sinergi Pembangunan BP BUMN sejak Februari 2026.
 
Ia termasuk tokoh sentral yang sukses menggabungkan Pelindo I-IV menjadi satu entitas bisnis. Saat itu Hambra merupakan Wadirut Pelindo II hingga Pelindo (hasil holding).      


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

2.241 ASN Resmi jadi Komcad Usai Latsarmil Gelombang Kedua Ditutup

Rabu, 30 September 2026 | 00:13

Sabar Tobing: AI Ubah Dunia Perpajakan, Talenta Digital Makin Dibutuhkan

Selasa, 29 September 2026 | 23:50

DPR Minta Pemerintah dan ASDP Tangani Kemacetan Horor Ketapang

Selasa, 29 September 2026 | 23:46

KPK Tegaskan Penyitaan Aset Silmy Karim Sah Usai Praperadilan Ditolak

Selasa, 29 September 2026 | 23:19

KPK Harus Transparan soal Kasus CSR BI-OJK yang Libatkan Dua Anggota DPR

Selasa, 29 September 2026 | 22:39

Kuasa Hukum Faizal Assegaf Apresiasi Polda Metro Periksa Jubir KPK

Selasa, 29 September 2026 | 22:32

Kantor PT Bela Parahiyangan Digeledah Buntut Dugaan Suap HGB ATR/BPN

Selasa, 29 September 2026 | 22:17

Apartemen Vinna Ledy yang Disita KPK Diduga Pemberian Pengusaha

Selasa, 29 September 2026 | 22:09

Membangun Ekosistem Keselamatan dan Perlindungan Korban

Selasa, 29 September 2026 | 22:08

Jokowi Masuk PSI Bisa Mengubah Konfigurasi Politik 2029

Selasa, 29 September 2026 | 22:04

Selengkapnya