Pejabat Bank Indonesia. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)
Bank Indonesia (BI) memastikan terus melakukan intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan terhadap mata uang Garuda yang telah mencapai Rp18.000 per dolar AS.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan mekanisme pasar tetap berjalan dengan baik dan pergerakan rupiah tetap sesuai dengan fundamental perekonomian.
"Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga sesuai fundamentalnya," kata Erwin dalam keterangan tertulisnya, pada Selasa, 29 September 2026.
Selain intervensi nilai tukar, BI juga mengelola struktur suku bunga di pasar uang melalui penguatan strategi operasi moneter yang lebih berorientasi pada mekanisme pasar atau pro-market.
Erwin mengatakan, efektivitas stabilisasi nilai tukar turut diperkuat dengan menjaga kecukupan likuiditas dan meningkatkan insentif.
"Efektivitas stabilisasi nilai tukar juga diperkuat dan kecukupan likuiditas dijaga dengan meningkatkan insentif untuk instrumen Swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) Lindung Nilai kepada Bank Indonesia dalam rangka pendanaan luar negeri," kata Erwin.
Instrumen tersebut diarahkan untuk mendukung kebutuhan pendanaan luar negeri sekaligus memperkuat pengelolaan risiko nilai tukar.
Erwin menegaskan, intervensi pasar akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui sejumlah instrumen, baik di pasar
offshore maupun domestik.
"Intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar
offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," kata Erwin.
BI juga terus memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
Di sisi lain, Erwin menyebut pergerakan Rupiah secara umum masih sejalan dengan perkembangan mata uang negara-negara kawasan.
"Secara umum, pergerakan Rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan pelemahan terbatas secara
quarter-to-date (qtd) sebesar 0,67 persen," kata Erwin.
Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang kuat. BI mencatat cadangan devisa meningkat menjadi 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026.