Ilustrasi (Artificial Inteligence)
Harga Bitcoin masih bergerak relatif stabil di tengah kenaikan tajam harga minyak dunia. Berdasarkan data CoinMarketCap pada Selasa siang, 29 September 2026, Bitcoin berada di level 83.768 Dolar AS, naik 0,62 persen dalam 24 jam terakhir.
Dalam jangka panjang, pergerakan harga minyak dan Bitcoin juga tidak menunjukkan hubungan yang konsisten. Analisis menggunakan data FRED, CoinGecko, dan CoinMarketCap selama lima tahun menunjukkan korelasi harian, mingguan, maupun bulanan antara keduanya cenderung mendekati nol.
Artinya, kenaikan harga minyak tidak serta-merta diikuti kenaikan Bitcoin. Begitu pula sebaliknya, penurunan harga minyak tidak otomatis membuat harga Bitcoin ikut melemah.
Pola tersebut juga terlihat sepanjang 2026. Dalam 12 bulan terakhir, harga minyak WTI tercatat naik sekitar 40 persen, sementara Bitcoin justru turun sekitar 25 persen.
Pada periode Februari hingga Mei, Bitcoin bahkan sempat menguat sekitar 25 persen ketika harga minyak masih berada sekitar 50 persen di atas level sebelum perang. Sementara ketika harga Brent melonjak 67 persen pada 25 Februari hingga 18 Maret, Bitcoin hanya naik sekitar 5 persen.
Meski tidak memiliki hubungan langsung yang kuat, kenaikan harga minyak tetap dapat memengaruhi Bitcoin melalui jalur inflasi dan kebijakan suku bunga. Harga minyak yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi, sehingga pasar dapat memperkirakan bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan menaikkannya.
Kondisi tersebut biasanya menjadi tekanan bagi aset berisiko, termasuk Bitcoin. Namun, arah pergerakan BTC tidak hanya ditentukan oleh harga minyak.
Arus dana ETF, aktivitas investor jangka panjang, serta kebijakan perusahaan yang memiliki Bitcoin juga turut memengaruhi pergerakan aset kripto tersebut.
Riset Binance Research yang dikutip dalam laporan tersebut menunjukkan hubungan yang lebih signifikan antara minyak dan Bitcoin terutama terjadi pada periode 2020-2022, ketika pelonggaran moneter global berlangsung besar-besaran. Di luar periode tersebut, korelasi keduanya kembali mendekati nol.
Dengan demikian, lonjakan harga minyak lebih berpotensi meningkatkan volatilitas Bitcoin dalam jangka pendek ketimbang menentukan arah pergerakan BTC. Bagi pasar Bitcoin saat ini, harga minyak tetap menjadi salah satu faktor eksternal yang perlu dicermati, tetapi bukan satu-satunya penentu arah pasar.