Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Hilirisasi yang juga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Foto: RMOL)
Kebijakan larangan ekspor bijih nikel yang berlanjut pada hilirisasi terbukti sukses menarik investasi smelter sekaligus mendongkrak nilai tambah di dalam negeri. Berkat capaian ini, Indonesia kini diklaim menguasai 41 persen pangsa pasar nikel olahan global.
Sejumlah ekonom mengapresiasi efektivitas kebijakan tersebut di bawah komando Ketua Satgas Percepatan Hilirisasi yang juga Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.
Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai kebijakan konsisten ini telah sukses mengubah wajah Indonesia di panggung internasional.
"Indonesia juga telah berubah dari pengekspor bijih menjadi pusat produksi olahan," ujar Yusuf Yusuf saat dihubungi, Selasa, 29 September 2026.
Indonesia tercatat sukses menggeser posisi China dan melompatkan pangsa produksi nikel olahan nasional dari yang semula hanya 1 persen menjadi 41 persen dunia dalam satu dekade terakhir.
Menurut Yusuf, dominasi ini memberikan modal tawar yang kuat bagi Indonesia di pasar global. Oleh karena itu, langkah Menteri Bahlil dalam menata produksi lewat Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) krusial untuk menjaga keseimbangan pasokan, mendongkrak penerimaan negara, serta memastikan smelter domestik tidak kekurangan bahan baku.
"Pangsa 41 persen merupakan modal tawar yang besar, tetapi baru menjadi kekuatan ekonomi jika Indonesia menguasai teknologi, memperluas pembeli, menjaga harga, dan mempertahankan lebih banyak nilai tambah di dalam negeri," tegasnya.
Senada dengan itu, analis senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution, Ronny P. Sasmita, menilai hilirisasi telah memicu transformasi struktural yang masif. Mengacu data Our World in Data dan British Geological Survey, produksi nikel olahan RI meroket lebih dari 60 kali lipat, dari sekitar 22 ribu ton pada 2014 menjadi lebih dari 1,4 juta ton pada 2023.
Dampak ekonominya pun nyata. Sepanjang 2025, investasi hilirisasi menembus Rp584,1 triliun, dan berlanjut hingga Rp300,1 triliun pada semester I 2026. Arus modal ini menciptakan efek berganda berupa perluasan lapangan kerja, peningkatan nilai ekspor, hingga pendalaman basis manufaktur nasional.
Ke depan, Ronny mendorong agar Indonesia melanjutkan pencapaian ini menuju tahap deep industrialization. Melalui pengembangan teknologi seperti HPAL, prekursor, katoda, hingga industri baterai, Indonesia diharapkan tidak sekadar menjadi produsen terbesar, tetapi benar-benar mendominasi penguasaan teknologi dan rantai pasok global.
"Gelar 'raja nikel' baru merupakan babak pertama. Babak keduanya jauh lebih penting, apakah Indonesia hanya menjadi negara dengan produksi nikel terbesar, atau benar-benar menjadi negara yang paling besar menikmati nilai ekonomi, teknologi dan kekuatan industri dari nikelnya," pungkas Ronny.