Berita

Ilustrasi pergerakan IHSG. (Foto: RMOL/Alifia)

Bursa

IHSG dan Rupiah Kompak Anjlok

Dibayangi Konflik Timur Tengah Hingga Batas Saham Rp1
SENIN, 28 SEPTEMBER 2026 | 19:52 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah sama-sama ditutup melemah pada perdagangan Senin, 28 September 2026.

Tekanan terhadap pasar keuangan terjadi di tengah meningkatnya kembali ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya di kawasan Selat Hormuz.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup di level 6.147, merosot 94 poin atau 1,51 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.


Mayoritas saham berada di zona merah. Sebanyak 532 saham melemah, sementara 180 saham menguat dan 81 saham lainnya stagnan.

Aktivitas perdagangan tercatat cukup tinggi dengan volume mencapai 37 miliar saham dan nilai transaksi Rp12,5 triliun. Frekuensi transaksi mencapai 1,6 juta kali, sedangkan kapitalisasi pasar turun menjadi Rp10.782 triliun.

Pelemahan IHSG terjadi pada hari yang sama ketika BEI resmi memberlakukan penghapusan batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1 per lembar.

Di pasar valuta asing, Rupiah juga ikut tertekan. Mengutip data Bloomberg, Rupiah ditutup di level Rp17.978 per dolar AS, melemah 75 poin atau 0,42 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan Rupiah masih dibayangi konflik geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz.

"Situasi Selat Hormuz memanas, setelah delapan anggota Korps Marinir Amerika Serikat (AS) terluka setelah sebuah rudal jelajah antikapal Iran menghantam kapal yang mereka operasikan di Selat Hormuz," kata Ibrahim dalam risetnya.

Menurut Ibrahim, negosiasi antara Iran dan AS masih berlangsung untuk mencari jalan keluar atas blokade di Selat Hormuz.

"Usulan Iran tersebut memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari sembari negosiasi yang lebih luas dilanjutkan, dengan syarat Washington mencabut blokade angkatan laut, melonggarkan tekanan militer, menghapus sanksi atas penjualan minyak Iran, serta menyetujui gencatan senjata," kata Ibrahim.

Ketegangan tersebut turut membuat harga minyak dunia bertahan di atas 90 dolar AS per barel. Kondisi ini dinilai dapat meningkatkan tekanan terhadap perekonomian Indonesia, terutama jika kenaikan harga minyak berlangsung dalam waktu lama.

"Dampak kenaikan harga minyak terhadap Indonesia terutama terlihat melalui tiga jalur, yakni inflasi, fiskal, dan keseimbangan eksternal. Asumsi Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 berada di 70 dolar AS per barel, sedangkan ICP Juli telah mencapai 81,68 dolar AS per barel," jelas Ibrahim.

Menurutnya, harga ICP pada kisaran 80-90 dolar AS per barel masih dapat dikelola apabila kenaikan berlangsung sementara. Namun, tekanan fiskal akan semakin besar jika ICP bertahan di kisaran 90-100 dolar AS per barel atau lebih selama beberapa bulan.

"Dalam kondisi tersebut, pemerintah memiliki sejumlah opsi, mulai dari menambah subsidi dan kompensasi, melakukan realokasi belanja, hingga menyesuaikan harga energi domestik," tuturnya.

Berdasarkan estimasi dalam dokumen fiskal pemerintah, setiap kenaikan ICP sebesar 1 dolar AS per barel dapat meningkatkan pendapatan negara sekitar Rp3,5-Rp4 triliun.

"Namun, belanja negara berpotensi naik sekitar Rp10,3 triliun, sehingga defisit dapat melebar sekitar Rp6,8 triliun. Sebagai negara net oil importer, Indonesia menghadapi tekanan fiskal lebih besar ketika kenaikan harga minyak berlangsung lama," tandasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya